Sunday, 17 October 2010

IQRO' : Bacalah !

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah atas baginda Rasulullah SAW, keluarga, sahabat, serta para pengikutnya.

Betapa Allah Subhanahu Tabaroka Wa Ta'ala mengetahui sifat dasar manusia yang selalu haus ilmu, selalu ingin tahu, sehingga ayat yang turun pertama kali adalah perintah "membaca". Membaca apapun, membaca diri sendiri, membaca semesta beserta keagungan ciptaanNya, yang pada gilirannya proses membaca tidak sekedar mengeja namun juga disertai berpikir kritis dan menganalisa.


Budaya Membaca

QS Al 'Alaq : 1 yang insyaallah kurang lebih artinya,
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,"

Tentang penafsiran ayat di atas, Imam Ibnu Katsir ra berkata, “Salah satu anugerah yang diberikan Allah adalah Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahui oleh manusia. Allah mengistimewakan dan memuliakan menusia dengan ilmu pengetahuan. Hal ini merupakan keistimewaan yang dimiliki oleh Adam atas para malaikat. Ilmu adakalanya berada di hati, adakalanya berada di lisan, dan adakalanya dengan tulisan.”
Melalui membaca, orang akan mengetahui informasi-informasi yang dibutuhkan. 

Dengan membaca, orang akan menganalisis informasi tersebut apakah sesuai dengan realita atau tidak. Dan, dengan membaca orang tidak akan mudah dikelabuhi oleh cerita-cerita bohong yang disebarkan melalui mulut ke mulut.

Sungguh sebuah perintah universal, bahwa apapun yang kita lihat, baca, dan analisa hendaknya dibarengi dengan mengingat Tuhanmu Yang Menciptakan. Hal ini menunjukkan bahwa seorang muslim diharapkan selalu mengingat Tuhan dalam segala aktifitasnya, dengan demikian apapun hasil karya yang dihasilkan nantinya dapat bermanfaat bagi sesama dan lingkungannya, kesemua itu hanya ditujukkan utk megabdi dan berserah diri pada Illahi.

QS. Ali Imran : 191 yang insyaallah kurang lebih artinya,
"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka". 

Budaya Menulis
Selanjutnya, masih dalam surat yang sama, yaitu pada QS Al 'Alaq : 4-5 kita akan mengetahui bahwa Allah Subhanahu Tabaroka Wa Ta'ala mengajarkan manusia dengan perantara kalam (baca-tulis). Subhanallah, Maha Benar Allah dengan segala firman-firmanNya.

Tulis-menulis adalah tradisi umat Islam yang terus berkembang dari sejak masa generasi awal (salafus shalih). Aneka ragam karya tulis menjadi bagian dari khazanah umat Islam di berbagai negeri. Tradisi ini menjadi bagian dari tradisi pesantren di Indonesia sebagai benteng dan gerbang ilmiyyah Islam. Berbagai karya tulis dari yang klasik sampai modern menjadi kajian di pesantren. Materi kurikulum di pesantren tidak sekadar mempelajari fikih, tauhid, dan tasawuf. Ilmu bahasa merupakan salah satu kajian utama para santri. Dari mulai sejarah bahasa, tata bahasa, filsafat bahasa, sampai sastra, bisa dikatakan materi yang wajib dikuasai para santri.

Karya dunia pesantren ini berkembang dari nilai-nilai spiritual. Rasa (instuisi), Rumangsa (introspeksi) dan Reksa (validasi)  adalah tiga hal utama yang dipergunakan. Simak bagaimana kisah masyhur tentang Syeh Ibnu Malik ketika menyusun kitab Nazhm Al-Fiyyah. Nilai-nilai spiritual itu kadang kala menjadi sesuatu yang kontroversial ketika memasuki wilayah tashawwuf falsafi atau tashawwuf cinta. Ungkapan sastrawi romantisme cinta Tuhan, kadang membawa simbol-simbol yang secara lahiriah seakan bertentangan dengan akal dan iman.

Metamorfosa Karya
Karya dunia santri berkembang dan mengalami pasang dan surut. Sebuah gaya penulisan yang berkembang dan tren di satu kurun berubah pada kurun yang lain. Tema yang menjadi tren berubah pula pada setiap kurun. Pada masa lalu, nadoman adalah karya favorit santri dan ajengan. Nadoman berkembang luas dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Nadoman-nadoman menjadi bahan ajar di madrasah. Nadoman-nadoman menjadi pembuka pengajian. Nadoman-nadoman menjadi buah tutur dan lagu rakyat.
Seiring perjalanan waktu, nadoman surut dan digantikan puisi. Tren nadoman berganti dengan tren menulis puisi. Muncullah para penyair berlatar belakang pesantren.

Tren puisi berkembang disertai dengan penulisan lagu. Anak pesantren merambah dunia tarik suara. Anak pesantren membuat grup qasidah. Anak pesantren membuat grup nasyid. Bahkan, anak pesantren membuat grup band. Tren puisi bergeser kepada tren menulis novel. Muncullah Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Trilogi Ma’rifat Cinta, dan lain sebagainya. Tren ini sedang bergerak lagi menjadi tren penulisan skenario. Tren ini berawal dari kesadaran anak pesantren untuk berdakwah memanfaatkan dunia entertainment. Tren ini mulai menemukan energi maju dimulai dengan sinetron bernuansa religi setiap Ramadan. Momentum menuju tren dimulai dengan suksesnya film Ayat-ayat Cinta. Metamorfosis akan terus terjadi. Tren penulisan akan selalu berubah. Mungkin Nadoman suatu saat akan kembali menemukan kejayaannya.

Prinsip bagi dunia menulis pesantren sebenarnya bukanlah bentuknya. Prinsip penulisan di dunia pesantren adalah nilai-nilai spiritual yang melatarbelakanginya. Nilai-nilai spiritual itulah yang harus dijaga agar tetap menjadi dasar dan motivasi setiap karya. Upaya mengalihkan kepada nilai-nilai materialistik harus dicegah. Umat muslim memang membutuhkan alat duniawi untuk hidupnya dengan wajar. Namun, alat duniawi jangan berubah menjadi nilai prinsip yang melatarbelakangi karya yang dilakukan.

Tetaplah atas dasar mahabbatullah (cinta Allah). Bertahanlah dari godaan hubbudunya (cinta dunia).
Semoga bermanfa'at.


Inspired :
Al Qur'an Al Karim
http://iqbal1.wordpress.com

6 comments :

  1. ass..
    teruskan bro...semoga menjadi ibadah.bentuk lain dari jihad.waspadai bisikan hati karena nafsu dan setan selalu mendahului dalam menyesatkan.
    wassalam

    ReplyDelete
  2. Makasih kunjungannnya mas... Saran dan masukkan selalu sy harapkan

    ReplyDelete
  3. ass..wr
    bro ayo mampir dunk di www.isyfatihah.blogspot.com
    ikhlas aja dulur.....
    wassalam

    ReplyDelete
  4. @ osamah
    wa'alaikum salam.
    Sy dah bolak balik baca blognya mas loh, cuman belum komentar aja, saking terpukaunya sih ama postingan2nya. He, he... OK mas, segera meluncur kesana dey.

    ReplyDelete
  5. Menulis adalah sarana syiar agama yg lebih long lasting..bisa lintas gender..ruang dan waktu..semoga bisa menulis hal-hal yg membawa manfaat tanpa kesan menggurui karena saya sendiri masih selalu dan selamanya dalam on the track belajar..

    Salam kenal..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga, Mbak...
      makasih....

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...