Tuesday, 2 November 2010

Allah,,, “Tuhan Yang Maha Esa” Sesungguhnya


Alhamdulillah segala puji bagi Allah Subhanahu Tabaroka Wa Ta’ala, Dialah dzat yang menggenggam semua jiwa, sholawat serta salam semoga tetap tercurah atas Bagida Rasulullah SAW.

Amat brillian jika kita melihat fakta bahwa para founding father bangsa Indonesia telah meletakkan dasar negara “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Sebuah strategi da’wah yang sangat jenius dalam mengenalkan Islam yang universal, Islam yang berkonsep “monoteis mutlak” tanpa ternoda oleh monoteis panteistik. Monoteis panteistik pada gilirannya justru harus bersusah payah untuk membuktikan diri pada standard “Tuhan Yang Maha Esa”, terbukti bahwa agama-agama lain saat ini tertatih-tatih menjelaskan Tuhan YME dengan konsep trinitas, tri tunggal, tri murti, sementara itu kaum atheis yang sedikit tercerahkan mulai bersujud pada “Entitas Tunggal” dengan menyebut diri agnostik.


Ketika sesuatu diterima oleh seseorang tetapi ditolak oleh orang tentu tidak dapat dikatakan universal. Bagaimana Tuhan bisa disebut Universal ?. Apakah universal berhubungan dengan bentuk fisik – semisal uang - yang harus bisa “dilihat, diraba, diterawang”?. Ataukah “sifat” uang sebagai alat transaksi jual beli yang sah? Tentu kita lebih setuju bahwa esensi dari “sifat” lebih dinilai universal ketimbang “wujud” yang tidak lebih pada pemuasan keingintahuan inderawi belaka.

Apapun alasannya segala usaha me”wujud”kan Tuhan kedalam ranah material tidak dibenarkan dalam Islam. Umat lain mungkin beralasan bahwa “penampakan” Tuhan dibutuhkan untuk mereka yang masih bodoh memahami wujud spiritual Tuhan, toleransi yang demikian benarkah suatu bentuk pengajaran ? justru toleransi yang demikian semakin nampak sebagai usaha pembodohan, kawan.
Jadi bagaimana seharusnya Tuhan memanivestasikan diri-Nya kepada manusia agar bisa diterima oleh semua manusia. Apakah “Maha Kuasa” dapat dijadikan alasan bahwa Dia pun berkuasa untuk menitis atau menjelma?. Justru bagi Islam konsep penitisan dan penjelmaan adalah bentuk penghinaan terhadap Tuhan, emang Tuhan siapa kita, koq disuruh menitis atau menjelma hanya untuk memuaskan rasa dahaga panca indera ?.

Firman Allah SWT dalam Surah Al-Iklhas, yang insyaallah kurang lebih artinya :

A’udzubillahi minassyaithonir rojiim, Bismillahir rahmanir rahiim [1] Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa [2] Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu [3] Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan [4] dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia

Mungkin akan timbul pertanyaan, mengapa cuma 4 kriteria diatas?.  Karena konsep inilah yang paling universal dan paling singkat padat dan jelas untuk memahami Tuhan.  Mari kita coba pelajari bersama :

[1] Tuhan hanya 1. Jika umat lain menawarkan “three in one” adalah konsep Tuhan YME, maka seharusnya 3 entitas tersebut kembar identik (baik wujud dan sifatnya). Jika umat lain berusaha bersikap bijak merangkum dengan konsep “paramatman, bhagavan, brahman” itu hanyalah usaha sia-sia menuju konsep Tuhan YME karena akan menghasilkan kesimpulan bahwa semua adalah Tuhan.

[2] Tempat bergantung segala sesuatu. Konsep ini akan membungkam anggapan bahwa Tuhan bermula, Tuhan dipengaruhi oleh sesuatu yang lain diluar diri-Nya. Dan amat bodoh jika sudah memahami konsep ini kita masih menganggap Tuhan terikat dimensi ruang dan waktu.

[3] Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. Hukum “sebab-akibat”, konsep “telur-ayam” hanyalah salah satu sistem perputaran ciptaan Tuhan,  jadi mohon berhenti memikirkan bahwa Tuhan terikat oleh sistem itu.

[4] Tak ada yang setara dengan-Nya. Jelas sekali bahwa segala sesuatu di alam semesta ini hanya ciptaan-Nya.

Mungkin ada pemikiran lagi mengapa “Maha Pengasih” dan sejenisnya tidak masuk dalam 4 kriteria diatas?. Hal itu karena “Maha Pengasih” itu subyektif dimata manusia. Selanjutnya, adakah umat lain yang menyangkal 4 kriteria itu ? Lalu apakah hanya dalam Islam konsep Universal tersebut ada?. Sebelum Allah mengutus nabi Muhammad, Allah telah mengajarkan keuniversalan Nya lewat nabi-nabin Nya terdahulu. Dan itu bisa kita lihat dalam kitab-kitab agama-agama sebelumnya. Misalnya:

Dalam agama Zoroaster (Dasatir, Ahura Mazda)  
1.     Dia itu satu
2.     Dia lebih dekat padamu daripada dirimu sendiri
3.     Dia diatas segala yang kamu bayangkan
4.     Dia tanpa awal dan akhir
5.     Dia tak punya bapak, istri dan anak
6.     Dia tak berujud
7.     Tak ada yang menyerupainya
8.     Tak dapat dilihat dan dipahami dengan pikiran 

Dalam  agama Hindu juga terdapat konsep Tuhan sebagai berikut :
1.     “Ekam evadvitiyam” (Dia satu satunya tanpa ada duanya) [Chandogya Upanishad 6:2:1]
2.     “Na casya kascij janita na cadhipah.” (Tak punya orang tua dan tuan) [Svetasvatara Upanishad 6:9]
3.     “Na tasya pratima asti” (Tak ada yang menyerupainya) [Svetasvatara Upanishad 4:19]
4.     “Na samdrse tisthati rupam asya, na caksusa pasyati kas canainam.” (Ujud Nya tak dapat dilihat, tak ada yang bisa melihatnya dengan mata)
[Svetasvatara Upanishad 4:20] 

 Dalam agama Yahudi : 
1.     “Dengarlah hai Israel : Tuhan kita adalah Tuhan yang satu.”[Ulangan 6:4]
2.     “Akulah Tuhan, tak ada penyelamat selain Aku.”[Yesaya 43:11]
3.     “Akulah Tuhan, Tiada Tuhan yang lain .”[Yesaya 45:5]
4.     “Akulah Tuhan tiada yang lain; Akulah Tuhan, Tak ada yang menyerupai Ku.”[Yesaya 46:9] 

Dalam agama Kristen :
1.     “Bapaku lebih besar dari aku.” [Yohanes 14:28]
2.     “Bapaku lebih besar dari semua.” [Yohanes 10:29]
3.     “…Aku mengusir Setan atas kuasa Tuhan….” [Matius 12:28]
4.     “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku.” [Yohanes 5:30]

Pada dasarnya semua agama yang berserah diri pada Allah adalah Islam. Agama apapun selama berserah diri pada identitas Tuhan Allah bisa dikatakan Islam. Islam/Al-Quran hanya sebagai pengoreksi, pelurus dan pemberi peringatan  ajaran-ajaran sebelumnya agar kembali ke jalan Allah. Dan Kitab Suci  yang dibawa nabi Muhammad itu  (Al-Qur’an) sebagai petunjuk yang lebih terang dan jelas akan eksistensi Tuhan.

Lafadz “Allah dalam Kitab Suci lain.

Hampir semua Kitab Suci agama besar di dunia mengandung kata "Allah" sebagai salah satu nama Tuhan. Hal
ini menunjukkan bahwasannya Tuhan yang selama ini dimaksud oleh umat manusia adalah Tuhan yang sama, namun karena pendistorsian – pendistorsian ajaran agama selama berabad abad sebelum kedatangan Islam sangat mungkin menjadikan “Allah” Tuhan sejati yang harusnya dituju menjadi kabur  dan berubah baik nama, wujud, dan sifat-Nya.

Ketika sekolah
kita  diajarkan 'D- O' dibaca “du” , 'T-O' dibaca “tu”. Tapi 'G- O' dibaca “go” bukan 'Gu'. 'N-U-T' dibaca “nat” , 'C-U-T' dibaca “kat” ; 'B-U-T' dibaca “bat” , apa bacaan 'P- U- T'? Tidak 'pat' tetapi adalah 'put'. Jika Anda bertanya "Mengapa?" Jawabannya adalah "Karena itu adalah bahasa mereka". Jika saya ingin lulus saya harus membaca 'P- U-T' dengan membaca “put” bukan “pat”. Demikian pula pengucapan yang tepat untuk A-L-L-A-H, adalah Allah.

1a. Elohim, El, Elah, Alah
Dalam Alkitab, Allah sangat sering disebut sebagai 'Elohim' dalam bahasa Ibrani. Akhiran 'im' adalah jamak kehormatan dan Allah itu disebut sebagai 'El' atau 'Eloh', di dalam Injil bahasa Inggris dengan komentar, diedit oleh pendeta C.I. scofield. 'Elah' jika dieja tertulis 'Alah'. Perbedaan dalam ejaan hanya satu huruf 'L'. Muslim mengeja “Allah SWT” sebagai 'Allah' sementara Pendeta mengejanya sebagai “Alah” dan diucapkan sebagai 'Elah'. Muslim mengucapkan sebagai Allah. Bahasa Ibrani dan bahasa Arab adalah berdekatan (bahasa saudara)karena itu Muslim mengucapkan nya 'Allah' dan bukan dengan pengucapan 'Elah'.

1b. Yesus (AS) berseru kepada Allah ketika ia disalib
Disebutkan di Perjanjian Baru dalam Injil Matius, bab 27 ayat 46 dan juga Injil Markus, bab 15 ayat 34 ketika Yesus (AS) telah disalib.

Yesus berseru dengan suara nyaring berkata "E'-Li, E'-li' La-ma sa-bach'-tha-ni?" yang mengatakan, “Allahku, Allahku mengapa Engkau meninggalkan Aku? "Apakah ini suara seperti “Yehuwa! Yehuwa! mengapa kamu telah meninggalkan saya?” Apakah suara seperti “Bapa, Bapa?” Jawabannya adalah 'Tidak'.Bahasa Ibrani dan Bahasa Arab adalah bahasa yang berdekatan(bahasa saudara, seperti Indonesia dan Malaysia) dan jika Anda menerjemahkan "E'-Li, E'-li' La-ma sa-bach'-Tha-ni" dalam Bahasa Arab itu adalah 'Allah Allah lama tarak Tani' tidakkah itu serupa?
Pernyataan Yesus (AS) ini, " E'-Li, E'-li' La-ma sa-bach'-Tha-ni " adalah dipertahankan dalam bahasa Ibrani yang asli dalam setiap terjemahan yang tersedia lebih dari 2000 bahasa yang berbeda di dunia dan di setiap terjemahan itu, nama "Allah" ada.

2. "Allah" dalam Agama Sikh
Salah satu nama yang disebut Tuan Gurunanak berhubungan dengan Tuhan adalah "Allah".

3a. "Allah" dalam Kitab Rigveda 2 Hymne I ayat II
Bahkan di Kitab Rigveda adalah sebagian besar isi kitab suci dalam agama Hindu, salah satu atribut yang diberikan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dalam Kitab nomor 2 Hymne no I ayat II, adalah 'Ila' yang jika diucapkan adalah sama dengan ucapan kata “Allah”.

3b. Allo Upanishad:
Di antara berbagai Upanishad salah satu Upanishad namanya sebagai 'Allo' ,Upanishad ini merujuk kepada "Allah" disebutkan beberapa kali.

IRASIONAL hanyalah ungkapan dari sesuatu yg belum bisa dicapai dng "rasional". KEKOSONGAN hanyalah ungkapan ketidakberdayaan utk menggambarkan "isi" yg belum pernah terbayangkan. IMPERSONAL hanyalah keterbatasan bahasa manusia utk menggambarkan personal Tuhan yg tak terjangkau akal.

Walllahu a’lam.
Semoga bermanfaat.

Inspired :
Al-Qur’an Al Karim,
http://vilaputih.wordpress.com, 
http://ngarayana.web.ugm.ac.id,
http://islamic-joker03110.blogspot.com
http://mayapadha.wordpress.com

20 comments :

  1. putratridharma02/11/2010, 19:48

    @ samaranji

    1. Di mana Allah Tinggal?
    2. Apakah Surga dan Neraka itu abadi?
    3. Apa tujuan umat Islam adalah masuk surga?
    4. Pertanyaan untuk osamah di webnya ngarayana belum terjawab. Bagaimana anak Adam dan Hawa berketurunan? Apa mereka menikah dengan saudara kandung?

    Itu aja dulu ya...
    trims

    ReplyDelete
  2. 1. Dimana Allah tinggal ? Allah SWT tidak terikat ruang dan waktu, DIA justru tempat bergantung segala sesuatu ( baca lagi kriteria ke-2 dr 4 kriteria universalitas Tuhan dlm surah al-ikhlas di atas)
    >>> anda terbiasa menginterpretasikan Sri Krishna ada di vaikuntaloka seh, jd y tanyanya gitu deh.
    2. Apakah surga n neraka abadi ? Jelas donk, sejak diciptakan keduanya akan abadi kecuali Allah berkehendak lain.
    >>> itulah mengapa kalian berusaha mengingkari keabadian surga-neraka dng doktrin reinkarnasi.
    3. Apakah tujuan umat islam masuk surga ? Islam agama para hamba yg mau berserah diri yg ditempuh dalam jalan keselamatan, masuk surga ato neraka itu hak-NYA. Kita hanya berusaha dan berdoa, dan DIA tidak akan menyia2kan segala do'a dan usaha hambaNya.
    4. Kondisi saat itu mengharuskan begitu. Setiap nabi dan rasul mempunyai syari'at yg berbeda, namun tetap membawa pesan yg sama meng ESA kan Tuhan dan mengajak pada kebajikan.

    Wassalam.

    ReplyDelete
  3. @ putratridharma
    makasih koment dan kunjungannya, salam untuk mas sutha, n tanyain ke bli ngarayana saya masuk kriteria dapat buku "merekonstruksi" ga ya.

    ReplyDelete
  4. putratridharma02/11/2010, 22:04

    @ Samaranji

    Tidak terikat ruang dan waktu? Bisa dijelaskan maksudnya?

    Jika surga dan nerakan abadi, berarti Tuhan itu kejam. Orang berbuat jahat hanya beberapa tahun diganjar neraka selama-lamanya. Gimana menjelaskan ini?

    Jika surga dan neraka itu tidak ada, masihkah Anda sujud kepadaNya? He he he nyontek lagunya Ahmad Dani...

    Jika benar untuk melahirkan keturunan harus dengan cara incest, inilah yang aneh atas kemahakuasaan Tuhan. Mestinya Tuhan memberi solusi supaya tdk terjadi perkawinan sedarah kayak itu. Apa Tuhan demikian terbatasnya dalam mencipta? Gimana menjelaskan ini?

    Bobo dulu ah...

    ReplyDelete
  5. @puteratridarma...
    Tidak terikat ruang dan waktu? Bisa dijelaskan maksudnya?
    anda gambar lingkaran seperti sasaran tembak.pada posisi anda menggambar itulah posisi tuhan=tidak terikat ruang--anda tidak berada dalam lingkaran--.(krn pelukis adalah materi jadinya terikat dimensi)
    pada saat anda menggambar anda tidak boleh mengukur waktu,selese jam berapa mulai jam berapa.gambar aja.bisakah?

    Jika surga dan nerakan abadi, berarti Tuhan itu kejam. Orang berbuat jahat hanya beberapa tahun diganjar neraka selama-lamanya. Gimana menjelaskan ini?
    Orang yang berbuat kesalahan masih diberi kesempatan masuk surga selama dia mau bertobat dan tidak mengulangi perbuatannya lagi.tetapi jika dia tetap maksiat sampai mati dan tidak memanfaatkan pintu tobat = resiko ditanggung penumpang.

    Jika surga dan neraka itu tidak ada, masihkah Anda sujud kepadaNya? He he he nyontek lagunya Ahmad Dani...
    tidak ada jika bro...jika surga dan neraka tidak ada maka tuhan tidak akan menciptakan dosa dan pahala berarti manusia juga gak perlu ada.ah itu hanya ahmad dani aja yang lebay...

    anda ==
    Jika benar untuk melahirkan keturunan harus dengan cara incest, inilah yang aneh atas kemahakuasaan Tuhan. Mestinya Tuhan memberi solusi supaya tdk terjadi perkawinan sedarah kayak itu. Apa Tuhan demikian terbatasnya dalam mencipta? Gimana menjelaskan ini?

    saya==
    kreatifitas tuhan tidak terbatas.justru incest pada masa itu adalah bukti bahwa tuhan very hebat.kenapa?dari incest akhirnya ada warna kulit yang berbeda,bahasa yang berbeda,budaya yang berbeda dan perbedaan2 lain.Kalo dari beberapa manu malah menurut saya tuhan gak kreatif deh.postingan saya mengenai DNA di blog saya ada uraiannya meski sedikit.Tuhan menampakkan diri dalam wujud seperti manusia oleh kalangan anda dibenarkan melalui dogma Tuhan Maha Kuasa,betul?
    Incest,pada anak2 nabi Adam,dibenarkan Tuhan saya jawab dgn dogma Tuhan Maha kuasa,bisa?
    Kisah incest dan peristiwa setelahnya adalah mengandung hikmah yang luar biasa.Incest pada masa itu hanya pada generasi pertama anak2 Adam as.Pada cucu berlaku sampai sekarang "pernikahan terdekat adalah dengan sepupu".
    kan uda bro saya jawab di web ngarayana...ah elu sih on line sambil ngantuk.....

    salam

    ReplyDelete
  6. Sila pertama Pancasila, "Ketuhanan Yang Maha Esa" sering dijadikan alasan orang teis utk menyudutkan bahwa ateisme dilarang di Indonesia. Padahal semua itu tidaklah benar sebab dalam Pancasila sila pertama butir ke-7 juga tertulis, "Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain". Itu artinya, semua orang bebas berkepercayaan dan berketidakpercayaan apapun, namun yg terjadi di lapangan malah sebaliknya.

    Kalau kita perhatikan, hampir semua agama hanya menyembah satu Tuhan (mono-teis), bukan menyembah Tuhan yang Satu/Tunggal/Esa. Menyembah satu Tuhan sama halnya dengan memakan satu diantara sekian banyak bakso. Yeah,,, monoteis adalah kepercayaan yang menyembah satu diantara sekian banyak Tuhan, bukan menyembah Tuhan yang Satu (Esa). Bukti kalau semua agama hanya menyembah satu Tuhan adalah sifat, perilaku, dan ciri2 Tuhan setiap agama berbeda dan bahkan bertentangan satu dengan yang lain. Mereka (Para Tuhan) saling mengklaim kalau Diri-Nya adalah Tuhan sebenarnya, sedangkan yang lain adalah Tuhan-tuhan palsu. Bahkan ada beberapa Tuhan yang menyuruh hamba2-Nya utk menghancurkan tempat ibadah para penyembah Tuhan yang lain.

    Menurutku, sila pertama Pancasila dibuat utk mempersatukan para penyembah satu Tuhan, bukan utk melarang paham ateisme, agnostik, deisme, dsb berkembang di Indonesia.
    .
    .
    Salam,,, ;)

    ReplyDelete
  7. putratridharma04/11/2010, 09:11

    @ Witschen

    Itu menurut Anda. Tapi menurut negara apa seperti itu?

    ReplyDelete
  8. @ witzschen
    Bukankah kamu pernah bilang, lebih baik "menuhankan" akal. Ya sudah jalankan dulu... ngapain susah2 mengingkari existensi ke-Esa-an NYA. Apa membuat hidupmu bahagia ?

    ReplyDelete
  9. Kalau dilihat dari butir2 Pancasila sila pertama juga seperti itu kok. Setiap manusia bebas utk berkepercayaan dan berketidakpercayaan. Tetapi mungkin dalam pelaksaannya bisa berbeda seperti pelarangan aliran Lia Eden di Indonesia... ^^

    ReplyDelete
  10. @ Samaranji

    Mengingkari sesuatu itu gak susah kok, seperti membalikkan telapak tangan... ^^ Ohh iya,,, kalau orang teis belum ada kesepakatan siapa sesungguhnya Tuhan yang Esa, lebih baik tidak perlu mengklaim kalau kalian menyembah Tuhan yang Esa,,, ^^

    Salam... ;)

    ReplyDelete
  11. @ witzschen.

    >>> Kesepakatan ?... Tuhan ga butuh disepakati ko bro, emangnya DIA produk pemikiran manusia.

    >>> lafadz "Allah" dlm beberapa kitab suci di atas udah jadi bukti ko siapa yg dimaksud Tuhan YME dalam pancasila.

    ReplyDelete
  12. putratridharma05/11/2010, 07:45

    @ Witzschen.

    Ingin mengetahui Tuhan melalui akal dan mata material ini ibarat seekor kodok yang ingin mengetahui luasnya lautan. Cara yang benar adalah dengarkan apa yang sudah dinyatakan oleh kitab suci dan orang-orang suci terdahulu. Inilah otoritas. Sebab kalau terus2an ingin melihat Tuhan dengan indera yang sangat tdk sempurna dan material seperti akal dan inderanya Witschen, maka itu tdk mungkin tercapai. Bahkan sampai sang kodok diangkat dari sumur kecilnya lalu dicemplungkan di lautanpun tidak akan pernah tahu akan luasnya lautan.

    ReplyDelete
  13. @ Samaranji

    >>> Kesepakatan ?... Tuhan ga butuh disepakati ko bro, emangnya DIA produk pemikiran manusia.
    ____________________
    Kenyataannya memang begitu kok. Lihat saja artikel di atas yg mencoba mencocologi nama "Allah" dalam berbagai kitab agama. Ini sama saja dengan mencocok-cocokkan bahwa rumahku itu sebenarnya adalah rumahmu karena kebetulan bercat biru,,, ^^

    Salam

    ReplyDelete
  14. @ Putratridharma

    Ingin mengetahui Tuhan melalui akal dan mata material ini ibarat seekor kodok yang ingin mengetahui luasnya lautan. Cara yang benar adalah dengarkan apa yang sudah dinyatakan oleh kitab suci dan orang-orang suci terdahulu. Inilah otoritas. Sebab kalau terus2an ingin melihat Tuhan dengan indera yang sangat tdk sempurna dan material seperti akal dan inderanya Witschen, maka itu tdk mungkin tercapai. Bahkan sampai sang kodok diangkat dari sumur kecilnya lalu dicemplungkan di lautanpun tidak akan pernah tahu akan luasnya lautan.
    ____________________________
    Lautan tidak membuktikan dirinya teramat sangat luas bagi seekor kodok karena laut itu adalah benda tak hidup, tidak Maha Kuasa, dan tidak Maha Baik. Btw, apakah Tuhan juga sperti laut,,,??? ^_^

    Ohh iyaa,,, juga silakan ganti kata "Tuhan" dalam komen-mu itu dengan kata "Sinterklas, Alien, Gajah Berkepala Semut, Peri Gigi, Similikiti, Hulahambo, dsb". Selamat membaca kembali komen anehmu itu... ^^
    .
    .
    Salam

    ReplyDelete
  15. @ witschen herwitz

    Mencocologi nama "Allah" ?
    >>> ditampilkan buktinya dikata mencocologi. Kalo yg bilang "fakta ilmiah" pasti deh diamini.

    >>> "rumah" itu tadinya bercat "putih" suci, yg lain pada usil memberi warna2 beda agar tampak komplit (tapi tetep aja masih ada warna putihnya). Dan islam berusaha menyelamatkan rumah itu agar kesuciannya terjaga.

    ReplyDelete
  16. @ Samaranji

    ==Mencocologi nama "Allah" ? ditampilkan buktinya dikata mencocologi. Kalo yg bilang "fakta ilmiah" pasti deh diamini.... "rumah" itu tadinya bercat "putih" suci, yg lain pada usil memberi warna2 beda agar tampak komplit (tapi tetep aja masih ada warna putihnya). Dan islam berusaha menyelamatkan rumah itu agar kesuciannya terjaga.==
    _________________________
    Haa,,, seperti itu dikatakan bukti?? Padahal jelas sekali kalau artikelmu itu hanya mencocokkan sebagian teks dalam kitab suci yg sudah ada sejak dulu dengan buah pikiranmu yg baru. Kamu terlalu cepat utk mengambil kesimpulan hanya berdasarkan sebagian teks kitab suci, bukan secara keseluruhannya. Lagipula, sangatlah aneh bila agama Islam mengklaim bahwa agama2 terdahulu sebenarnya mengajarkan utk menyembah Allah-nya Islam, bukan Ilah-ilah yg lain. Yeah,,, ini konyol sekali!!! Tak ada bedanya dengan seorang penulis baru yg menuliskan kata "Gajah" pada bukunya, dan mengklaim bahwa buku2 karya 5 penulis lain yg sudah ada sebelumnya sebenarnya menceritakan ttng "Gajah" hanya karena sebagian dari masing2 buku tsb ada kata yg mirip dengan kata "Gajah" seperti kata "Gajja", "Geijah", "Gadj", "Gjoeh", "Goedhjah", dsb.

    Salam ;)

    ReplyDelete
  17. @ witschen herwitz.
    Ok, berikut kurangkumkan kontroversi "sejarah" awal mula bahasa.
    >>> masa yunani kuno : 1. Kubu phusis, mengakui adanya keterkaitan kata n alam ; 2. Kubu thesis, hubungan kata n alam sifatnya arbitrar n konvensional.
    >>> pada abad ke 4 : 1. Penganut analogi, bhs tertata menurut aturan pasti dlm aspek fonologi, morfologi, sintaksis, semantik ; 2. Penganut anamoli, bhs bersifat kebetulan.
    >>> abad reinassance : 1. Paham empiris, bhs bersifat learned (pembelajaran) ; 2. Paham rasionalis, bhs sudah ada dlm jiwa manusia sbg bawaan.
    >>> abad 20- skrg : 1. Cartesian, tidak prcy pd rasionalisme kebahasaan, tdk prcy bhs brsifat universal ; 2. Struktualisme, bhwasannya holisme yg diterapkan melahirkan aliran struktualisme (bangunan) bhs dari kata2, moferm, fonem. Bhs bukan learned melainkan innate.

    Berangkat dr hal itu, aq memilih analogi - rasionalis - struktualism. Tentukan pilihanmu mau menganut yg mana. Up to u...

    ReplyDelete
  18. Sila pertama dalam pancasila, "Ketuhanan Yang Maha Esa", saya kira tidak menunjuk pada monotheisme. Ketuhanan, dengan imbuhan ke-an, menunjukan sifat, bukan entitas. Maha dalam bahasa sansakerta bermakna keagungan, bukan sangat, ataupun banyak, dan esa tidaklah berarti satu(bilangan), karena sudah ada kata tunggal untuk menunjukannya. Secara keseluruhan, kalimat tersebut berarti kurang lebih "kesakralan atau kesucian (yg berkaitan dengan sifat Tuhan) sebagai landasan dalam kehidupan beragama. Jika berpijak pada asal katanya, dan maknanya pada bahasa sansakerta, maka saya rasa itulah makna yg tepat bagi sila pertama. Namun, mengingat sejarah pancasila, sebagai piagam jakarta, yg menambahkan syariat islam setelah bunyi sila pertama yg kita kenal kini, saya jadi ragu sendiri, apakah saya yg salah, masyarakat umum yg salah mengintepretasikannya, ataukah saya telah menaruh ekspektasi terlalu tinggi pada Bung Karno, sang perumus pancasila?

    Di sisi lain, dengan memakai logika yg sama, maka saya dapat mempertanyakan hal ini :

    Semboyan “bhinneka tungga ika” yg tercantum pada pancasila berasal dari kakawin sutasoma karangan Mpu Tantular pada masa kerajaan Majapahit. Bentuk lengkap dari puisi tersebut :

    Rwâneka dhâtu winuwus Buddha Wiswa,
    Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
    Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal,
    Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

    Dalam bahasa Indonesia berarti :

    Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.
    Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?
    Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal
    Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.

    Makna dari keseluruhan puisi tersebut menggambarkan pruralisme agama. Nah, apakah berarti tiap agama di Indonesia dengan segala dogma dan ekslusifitasnya dilarang di Indonesia kecuali setuju dengan paham pluralisme karena pruralisme secara tidak langsung tercantum dalam pancasila?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, apakah berarti tiap agama di Indonesia dengan segala dogma dan ekslusifitasnya dilarang di Indonesia kecuali setuju dengan paham pluralisme karena pruralisme secara tidak langsung tercantum dalam pancasila?

      Piagam jakarta kan yang nyetusin Bung Karno saat itu, walaupun gue bilang Bung Karno cenderung berpaham NASAKOM (Nasionalis, Agamais, Komunis) Mungkin maksudnya secaragaklangsung dia pengen ngerangkul Islam yang mayoritas di Indonesia. Tapi Panitia Kecil yang dibentuk ngajuin sila ketuhanan yang kita tau ampe saat ini.

      Apapun yang anda bilang tentang arti "esa" dalam sila pertama, gue tetep bilang itu sifat Tuhan, bukan alih-alih penyatuan atas dasar pluralisme.

      Cek sila kedua,yang gue bilang sila humanis, tetep pada hakekat kemanusiaan (hablumminannas). Bukan karena penganut sila pertama yang ekstrem cenderung bertangan besi dan berdarah dingin dan ngebolehin pengikutnya ngebunuh orang yang gak percaya Tuhan. Karna orang bertuhan itu musti adil, beradab dan bermoral.

      Kemudian itulah guna sila ketiga alias sila nasionalis yang bertujuan ngejaga persatuan bangsa dari konflik agama, politik, ideologi dan ekonomi.

      yah.. pluralisme berarti Atheis masuk di situ. ampe kapan juga ente tau atheis tuh gak berTuhan! trus mau dia di dunia?? emang dunia nioh punya siapa?? Yang jelas-jelas bertuhan semacam Ahmadiyah aja bisa kena sasaran atau semacam Syiah yang minoritas yang susah bertahan hidup di Indonesia. Masih nganggep kalo pancasila itu bersifat plural?? Termasuk buat di dalamnya atheis gitu?? Tapi emang susah sih nyari atheis di Indonesia kecuali dari tulisan dan gagasan mereka. Beda ama paham-paham sempalan yang udah berani dakwah keliling. Trus masuk tipi, disebarin di media. Pengen masuk tipi jugakah si atheis ini???

      Pluralisme emang gue akuin, emang agama di negeri ini gak cuma satu kan?? Tapi Indonesia ya tetep satu (Bhineka Tunggak Ika) . Gak tau dia dicetusin ama Budha atau Siwa. :)

      Delete
    2. Sudah saya tanggapi pada postingan ::DI SINI::. Makasih... :D

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...