Alhamdulillah, sholawat serta salam semoga senantiasa terclimpah atas Baginda Rasulullah SAW.
Segala amal yang tanpa didasari ilmu akan tertolak dan tidak diterima, bahkan dalam Kitab Ta’lim Muta’alim yang baru saja kita ikuti kemarin disebutkan :
ﻓﺈﻦﺍﻴﻣﺎﻦﺍﻠﻣﻗﻠﺩ ﻮﺍﻦﻛﺎﻦﺼﺤﻴﺣﺎﻋـﻨﺩ ﻨﺎ ﻠﻛﻦ ﻴﻛﻮﻦﺁﺛﻣﺎ ﺒﺘﺮﻚ ﺍﻻﺳﺗﺪﻻ ﻞ
“Mongko setuhune imane muqolid ( wong kang taqlid-anut grubyug-) senajan imane iku sah mungguh ingsun (musonef : peyusun kitab Ta’lim) anging tetapine muqolid iku kalebu wong kang dosa , sebab ninggal ngalap dalil.”
“Sesungguhnya keimanan muqolid (orang yang taqlid/ hanya ikut-ikutan) walupun dianggap sah, namun muqolid tersebut termasuk orang yang berbuat dosa besar disebabkan keimanannya yang tanpa dalil.”
Dalam hal inilah Muslim Muslimah membutuhkan seorang “Guru” –‘Ulama/ Kiai- untuk mendalami ilmu Islam sendiri yang tentunya dengan dalil-dalil yang jelas. Seorang Muslim dituntut pula berhati-hati dalam memilih “Guru” untuk meyelamatkan imannya, namun proses mencari, memilih dan menentukan tersebut tidak perlu disertai dengan menilai dan membanding-bandingkan ‘Ulama. Abah Syeikh sering ngendikan, “Saiki akeh wong sing ngakune kenal akeh Kiai, tapi malah ora netepi haq-haqe Kiai.”. Proses mencari dan menentukan pilihan hendaknya tidak menjebak diri pada sikap membanding-bandingkan.




