Thursday, 6 January 2011

Enam Pertanyaan Introspeksi

Alhamdulillah segala puji bagi Allah Subhanahu Tabaroka Wa Ta'ala, shalawat serta salam senantiasa terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW.

Suatu hari Imam Al-Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Al-Ghozali bertanya :


1. Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ?.
Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman, dan kerabatnya. Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah “Mati”. Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. (Ali Imran : 185). Lalu Imam Ghozali meneruskan pertanyaan yang kedua.

2. Apa yang paling jauh dari kita di dunia ?.
Murid-muridnya ada yang menjawab Negara China, bulan, matahari, dan bintang-bintang. Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah “Masa Lalu” . Bagaimanapun kita, apa pun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama. Lalu Imam Ghozali meneruskan dengan pertanyaan yang ke tiga.

3. Apa yang paling besar di dunia ?.
Murid-muridnya ada yang menjawah gunung, bumi, dan matahari. Semua jawaban itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah “Nafsu” (Al-A’raf : 179). Maka dengan itu kita harus hati-hati dengan nafsu kita, agar jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka. Pertanyaan ke empat adalah,

4. Apa yang paling berat di dunia ?.
Ada yang menjawab baja, besi, dan gajah. Jawaban semua benar, kata Imam Ghozali. Tapi yang paling berat adalah “Memegang Amanah” (Al-Ahzab : 72). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi khalifah (pemimpin) didunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka kerana ia tidak bisa memegang amanahnya. Pertanyaan yang ke lima adalah,

5. Apa yang paling ringan di dunia ?.
Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. Semua itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling ringan di dunia ini adalah “Meninggalkan Shalat” . Gara-gara pekerjaan kita tinggalkan solat, gara-gara meeting kita tinggalkan shalat. Lantas pertanyaan ke enam adalah,

6. Apa yang paling tajam di dunia ?
Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang. Benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling tajam adalah “Lidah Manusia”. Karena melalui lidah, manusia dengan senangnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri. (***)

Astaghfirullah,,, mari memohon perlindungan kepada Allah Ta'ala dari ucapan yang sia-sia, dari ucapan yang justru berpotensi membuat manusia semakin muak terhadap agama, dan pada gilirannya justru mereka semakin menjauhi Allah Azza Wa Jalla.  Mungkin niat awal kita adalah da'wah, niat kita mengajak umat manusia pada jalan "keselamatan" , proses tersebut tentu diwarnai dengan argument argument  berupa cacian , hujatan  dan hinaan (entah siapa yang memulai, tentu hal ini sulit dihindari). Cukup bagi kita untuk selalu memohon dan memohon ampunanNYA.

A'udzubillahi minasy syaithanirrajiim, Bismillahirrahmaanirrahiim.




 


QS Ali Imran : 147, insyaallah kurang lebih artinya :
Tidak ada do'a mereka selain ucapan: "Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami [] dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".

Maha Benar Allah dengan segala firman-firman NYA.
Semoga bermanfa'at.




Inspired : 
Al Qur'an Al Kariim
http://iqbal1.wordpress.com/2010/12/30/hikmah-enam-pertanyaan-penting

11 comments :

  1. Pertanyaannya subyektif, tentu jawabannya juga subyektif... Mungkin bagi beliau jawaban "A" itu paling benar, tapi belum tentu paling benar bagi yang lain... :)

    Salam,,

    ReplyDelete
  2. Assalamu'alaikum...
    Betul Kang... lebih dari seminggu terakhir ini saya berpikir mengenai pertanyaan nomor lima. Apakah saya sudah muslim?, apakah saya sudah sholat? Apakah saya sedang meninggalkan sholat? Apakah saya sedang berdo'a atau memaksa Allah SWT memenuhi kehendak saya?. Apakah ritual shalat yang dijalankan dilakukan dengan sepenuh hati atau dengan pikiran dan keterburu-buruan? Mengapa shalat saya tidak khusyu !.Beragam kegundahan datang dan pergi, beragam kebimbangan muncul silih berganti.
    Mengapa begitu sulit saya merasakan keindahan shalat, tidak seperti ketika saya berada di depan rumahNya beberapa tahun yl....

    Semua pertanyaan dari Imam Ghozali kepada murid-muridnya adalah sebuah retorika berpikir, tesa dan anti tesa, sekaligus juga postingan ini dikunci dengan esensinya : berlebih-lebihan pada setiap urusan dan memohon kepadaNya untuk kemampuan menetapkan pendirian....

    Nice posting....

    Wassalam, agor

    ReplyDelete
  3. @ Herwitz

    Woww,,, selamat berkunjung lagi mas, ngomong2 mas herwitz dah bikin blog ? Jangan "bergentayangan" terus mas, ekspresikan "petualangan spiritual" mas yg luar biasa itu, sy akan tetap mengahargainya ko.

    Ttg kisah diatas tentu beliau Imam Al Ghozali tahu betul dng apa yg disebut "subyektifitas". Itulah mengapa beliau berkata bahwa semua jawaban murid2nya adalah benar, tapi yang paling benar adalah.... 6 hal itu
    >>> Jikapun mas herwitz masih menganggap itu subyektif, coba jawab dunk bagaimana tuh yg obyektif ?
    ===============


    @ kang Agor

    Wa'alaikum salam warahmatullah,,,,
    Subhanallah, indah nian bisa menjadi "Dhuyufur Rahman", ya kang ? Bulan dzulhijah kemaren berangkatnya, kang ? Alhamdulillah,,,, do'akan sy juga cepetan bisa memenuhi panggilanNYA dunk, "Labaik Allahumma Labaik,,,"

    Ttg postingan di atas yg membuat sy sedih, terus terang yg ke-6. Begitu gencarnya sebuah "kekuatan tersembunyi" yg scr sistematis menyajikan berbagai informasi di dunia maya ini telah berhasil memporak porandakan image Islam yg "rahmatan lil 'alamin". Implikasinya, secara internal umat Islam lebih memilih menjadi "islamolog" yg hanya sekedar mempelajari namun enggan mengamalkan, sekedar mengamati tapi ogah melaksanakan, umat Islam lupa bahwa Baginda Rasulullah SAW selain berda'wah dng "mauidhoh hasanah" (memberi nasehat yg baik) juga "uswatun hasanah" (mnjd suri tauladan yg baik), umat Islam di adu domba dng pengkondisian ngebahas masalah "furu'iyah" (tahlil, tawasul, maulid, dll) sehingga lupa menjadi Islam kaffah yg dng keluasan ilmu Islam bisa menjadikan kita bermanfa'at bagi diri sendiri dan lingkungannya.

    Di sisi lain, scr external, fanatisme terhadap ajaran Islam hanya dibekali "ilmu" Islam yg pas2an. Agaknya sy sendiri merasa perlu meredefinisi apa itu Islam Fanatis, dng fanatik sy menemukan keagungan, kemuliaan, dan kedamaian.

    Idih,,, ko sy kayak ceramah, terlalu idealis ga sih, he,,he,,,. Btw, jangan bosan2 ngasih nasehat ke sy ya kang agor.

    ReplyDelete
  4. assalamualaikum
    mas,kuliahnya tentang terbit dan terbenam belum selesai lho...
    saya uda pelajari kuliah anda tapi rasanya masih kurang 1 langkah lagi utk mengerti.
    mhn ditambahi sedikit lagi,,,,

    shodaqta,,,wallahu'alam
    salam

    ReplyDelete
  5. Assalamu'alaikum...

    Mas Agor,...

    apa yang anda rasakan semua umat islam merasakannya juga. terkadang saya selesai sholat hanya duduk bermenung, tidak berdoa. perhatian mata tertuju pada tikar sajadah bergambar kubah masjid. (saya mengartikannya dengan keindahan syurga)

    Tidak ada yang istimewah dengan syurga itu di dalam fikiranku, untuk apa aku beribadah seperti ini dan setiap hari terus menerus?

    Apa enaknya hidup di syurga? seluruh kebutuhan hidup terpenuhi di sanah, pasti ada sesuatu yang Allah rahasiakan. Aku tidak membujukNya untuk membuka rahasia itu padaku, biarlah yang rahasia tetap rahasia, aku juga menikmatinya.

    setelah aku renungkan dengan tidak berdoa apapun selesai sholat itu, baru aku tahu, tugasku sebagai seorang hamba hanyalah untuk beribadah semata. bukan mengharapkan syurgaNya.

    Melakukan sesuatu dengan mengharapkan imbalan adalah perbuatan yang tidak ihklas. kalau itu yang Mas Agor lakukan selama ini, saya jamin Mas Agor tidak akan menemui kekhusyukan.

    Kekhusyukan hanya bisa di dapat dengan hati yang ihklas dan ridha kepada Allah. Namun dalam prakteknya memang susah juga. kita sudah terlanjur menikmati kemolekan dunia ini dan enggan untuk melepaskannya kembali.

    Aku juga sudah melakukan dan berusaha untuk ihklas dan aku lakukan itu dengan tindakan nyata, mulai dari yang kecil dahulu, seperti memberikan pakaian yang kita sayangi kepada orang lain. itu aku lakukan untuk mengetahui apa yang akan aku rasakan dengan tindakan tersebut. Ternyata luar biasa sekali rasanya.

    Pantaslah sahabat2 Rasulullah SAW berlombah2 memberikan hartanya kepada orang lain. Ternyata Allah tidak bohong kok, apa yang aku rasakan sangat hebat di dunia ini apa lagi nanti di akhirat kelak.

    Kalau hanya sekedar memberi sesuatu barang yang tidak ada gunanya bagi kita, tentu tidak ada gunanya bagi orang lain bukan?

    Perbuatan ini membuat hati kita dan jiwa kita sehat. Itu artinya sholat kita jadi sehat juga.

    SALAM

    ReplyDelete
  6. Saya petikkan dialog antara (Bhatara)Deva Yama dan Yudisthira.

    Batara Yama : “Apa yang menyelamatkan manusia dari mara bahaya?”
    Yudhistira : “Keberanianlah yang menyelamatkan manusia dari mara bahaya.”

    Batara Yama : “Ilmu apakah yang bisa membuat manusia bijaksana?”
    Yudhistira : “Untuk menjadi bijaksana, tidak cukup hanya dengan membaca
    kitab-kitab. Dengan bergaul dengan orang-orang bijak, orang bisa
    mendapatkan kebijaksanaan.”

    Batara Yama : “Apakah yang lebih mulia dan lebih menghidupi manusia
    daripada bumi ini?”
    Yudhistira : “Ibu, yang melahirkan dan membesarkan anak-anaknya lebih
    mulia dan memberikan kehidupan yang lebih besar daripada bumi ini.”

    Batara Yama : “Apakah yang lebih tinggi daripada langit?”
    Yudhistira : “Bapak.”


    Batara Yama : “Apakah yang lebih cepat daripada angin?”
    Yudhistira : “Pikiran.”

    Batara Yama : “Apakah yang lebih berbahaya daripada jerami kering pada
    musim panas?”
    Yudhistira : “Hati yang dilanda duka nestapa.”

    Batara Yama : “Apakah yang menemani seorang pengembara?”
    Yudhistira : “Kemauan belajar.”

    Batara Yama : “Siapakah yang menemani laki-laki di rumah?”
    Yudhistira : “Istri.”

    Batara Yama : “Siapakah yang menemani manusia dalam kematian?”
    Yudhistira : “Dharma. Hanya Dharmalah yang menemani jiwa dalam
    perjalanan sunyi setelah kematian.”

    Batara Yama : “Perahu apakah yang paling besar?”
    Yudhistira : “Bumi, yang menampung segala isinya dalam dirinya sendiri,
    adalah perahu terbesar."


    Batara Yama : “Apakah kebahagiaan itu?’
    Yudhistira : “Kebahagiaan adalah buah dari perbuatan baik.”

    Batara Yama : “Apakah yang jika ditinggalkan manusia akan membuatnya
    dicintai sesama?”
    Yudhistira : “Keangkuhan. Dengan meninggalkan keangkuhan, manusia akan
    dicintai sesama.”

    Batara Yama : “Kehilangan apakah yang membuat orang bisa bahagia dan
    tidak sedih?”
    Yudhistira : “Amarah, dengan menghilangkan amarah, manusia tidak akan
    dikejar kesedihan.”

    Batara Yama : “Apakah yang harus ditinggalkan manusia agar menjadi kaya?”
    Yudhistira : “Dengan meninggalkan hawa nafsu, manusia akan menjadi kaya.”

    Batara Yama : “Apakah yang membuat seorang menjadi brahmana sejati?
    Apakah kelahiran, kelakuan baik, atau pendidikan? Jawab dengan tegas!”
    Yudhistira : “Kelahiran dan pendidikan tidak membuat orang menjadi
    brahmana. Setinggi apapun pendidikan orang jika diperbudak oleh kebiasaan
    jelek, orang itu bukan brahmana. Meskipun telah menguasai keempat kitab
    Weda, jika kelakuannya buruk, tidak pantas disebut brahmana.”

    Batara Yama : “Apakah yang paling mengherankan di dunia ini?”
    Yudhistira : “Setiap hari orang melihat orang pergi menghadap Batara Yama,
    tapi orang-orang masih saja berusaha untuk hidup lebih lama lagi. Inilah yang
    paling mengherankan di dunia ini.”

    Batara Yama : “Tuanku Raja, seandainya salah satu saudaramu bisa hidup
    kembali, siapakah yang akan kau pilih?”
    Yudhistira : “Aku pilih Nakula, saudaraku yang berkulit putih seperti awan
    berarak, bermata bak bunga teratai, berdada bidang, berlengan panjang; tapi
    kini terbujur kaku seperti sebatang pohon yang tumbang.”

    Batara Yama : “Mengapa engkau memilih Nakula dan bukan Bima yang
    mempunyai kekuatan setara enam belas ribu gajah? Kudengar kau sangat
    menyayangi Bima. Dan mengapa bukan Arjuna, yang keterampilan olah
    senjatanya bisa melindungimu? Jelaskan mengapa kau memilih Nakula?”
    Yudhistira : Yaksa, hanya dharma yang bisa melindungi manusia,
    bukan Bima atau Arjuna. Jika mengabaikan dharma, manusia akan menemui
    kehancuran. Dewi Kunti dan Dewi Madri adalah istri ayahku. Aku, anak Kunti,
    masih hidup; dengan demikian, ia tidak kehilangan keturunan. Supaya adil,
    biarlah Nakula, putra Dewi Madri, hidup kembali.”

    ReplyDelete
  7. @ KAng Agor
    Duh bodohnya aku, maaf kang, saya terlalu sibuk dng pemikiran sendiri sehingga melupakan apa yang menjadi substansi dari komentar akang di atas : "Apakah saya sudah muslim?, apakah saya sudah sholat? Apakah saya sedang meninggalkan sholat? Apakah saya sedang berdo'a atau memaksa Allah SWT memenuhi kehendak saya?. Apakah ritual shalat yang dijalankan dilakukan dengan sepenuh hati atau dengan pikiran dan keterburu-buruan? Mengapa shalat saya tidak khusyu !.Beragam kegundahan datang dan pergi, beragam kebimbangan muncul silih berganti."
    >>> sekali lagi maaf.
    ===========================

    @ Mas Abu Hanan
    Duh, maaf. Sy bukan lagi ngasih kuliah (emang dosen, he,,he,,). Kita sharing aja. Maap loh, kalo hanya segitu kemampuan saya menjelaskan "terbit" "terbenam" itu.
    ===========================

    @ Mas Filar
    Di sini sy sungguh melihat "sisi lain" dari mas filar yg saya kenal dalam blognya kangmas haniifa ataupun blognya mas wedhul. Koment yg adem dan memotifasi, terima kasih.
    ===========================

    ReplyDelete
  8. @ bli putratridharma
    Hey broo,,, lama ga keliatan. Masih aktif berkunjung di Ngarayana dunk pastinya.

    Ttg postingan anda di atas :
    Boleh tahu sumber yg anda ambil, bli ?. Ternyata dalam hindu ada poligami juga ya ? Dewi kunti (ibu yudhistira) dan dewi Madrim (ibu nakula) kan istrinya Pandu, Betul kan ?

    ReplyDelete
  9. mengapa hanya manusia yang bisa mengambil amanah tersebut? karena yng berhak bermakrifat kepada Allah adalah MANUSIA, tetapi mereka jarang sekali yang menempuhnya.

    ReplyDelete
  10. Abu Hanan ##
    @Xarel X
    alhamdulillah,dapat bersua juga disini.
    gimana punya kabar mas?

    ReplyDelete
  11. @ Master xarel X

    Selamat datang kembali di gubug reyot ini,,, jika sudah lelah mengembara kesana-kemari mohon luangkan waktu mampir kesini ya mas. Semoga apa yang mas xarel x sampaikan membawa kemanfa'atan dan keberkahan bersama.

    Terus terang, selama bersinggungan dng mas xarel x, saya menganggap panjenengan sudah memiliki cukup pengetahuan tentang makna hidup dan kehidupan. Selamat mengembara mas xarel, ditunggu saran dan kritikannya, don't forget me yach...

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...