Sunday, 13 November 2011

Dear Pahlawanku - Inspirasi dan Motifatorku

Katur Kagem
Abba Syaikhuna










Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh...

Bismillahirrohmaanirrohiim, Alhamdulillah, Ash sholatu was salamu 'ala Rosulillah SAW.
Mugio Abah tansah pinaringan sehat ingdalem rahmatipun Gusti Allah Ta'ala supadoso saget tansah istiqomah anggenipun paring kemanfa'tan kagem kaluwargo, santri2, nuso, bongso lan sedayanipun.



Mohon maaf Abah, mungkin tidak pada tempatnya jika santri ecek-ecek seperti saya pake kirim surat-suratan segala. Sekali lagi mohon maaf atas ke su'ul adab an saya ini. Soalnya lagi ikutan kontes untuk nulis surat bagi seorang Pahlawan, tentu saja yang ada dalam benak saya adalah Panjenengan, Abah... Yaa, Panjenengan yang saya anggap pahlawan tanpa tanda jasa dan tanpa gaji pula.

22 Tahun lalu, tepatnya 2 Juli 1989 panjenengan dengan penuh kegigihan mendirikan Pesantren ini. Walaupun saya belum berada di sini, namun dari cerita-cerita warga kampung sekitar, jama'ah pengajian, dan santri-santri senior saya bisa merasakan bagaimana kegigihan Abah merintis Pesantren ini, sebuah sistem pendidikan yang gratis tis tiss... di tengah tengah lembaga pendidikan kini yang seolah berlomba-lomba mematok biaya pendidikan setinggi-tingginya. Bahkan uang pensiun Abah sendiri ditasarufkan untuk menyekolahkan santri-santri yang putus sekolah dan kurang mampu.

Masih ingat dalam benak saya, Mak Sulimah pedagang es degan depan asrama bercerita, "Dwuluuu, Abah sering ngajar ngaji di musholla tiap sore. Satu per satu anak-anak kampung dipanggil dan diajak ngaji. Seringkali bocah-bocah kampung itu masih sibuk menggembala kambing, kerbau, sapi namun Abah gak perduli dengan bocah-bocah yang masih bau prengus (bau khas kambing) itu. Dengan sabar beliau mengajar tiap bakda Ashar, dengan sabar beliau menyadarkan para orang tua di kampung akan pentingnya belajar dan belajar. Belajar apapun dengan siapapun. Titel pendidikan formal bukanlah jaminan kesuksesan".

Dari Ustadz Sholah juga saya menyimak, "Waktu merintis Pesantren ini, banyak yang menentang baik dari kalangan Islam sendiri maupun kalangan non Islam yang ada di kompleks Perumnas ini. Waktu itu gak ada satupun donatur untuk mendirikan Pesantren. Hingga suatu ketika ada orang kaya yang bisulan dipantatnya, dan Abah ditawari untuk menyembuhkannya dengan imbalan sepetak tanah. Dan Pesantren inilah yang kini berdiri di atas tanah hasil imbalan itu". Dan dari kegigihan ini, Abah pun berjanji gak bakalan meminta sumbangan apapun dari siapapun selain pada Gusti Allah semata. "Ojo ngedekke Masjid yen ora duwite dewe, ojo ngedekke Pesantren yen durung sugih"

Abah,,, saya mencatat apa apa yang Panjenengan ajarkan (walau gak komplit ding, kadang bolos gak ngaji siiee) , tentang hidup dan kehidupan, tentang motifasi untuk menaklukkan dunia, dan tentang mencintai Bangsa dan Negara.

Abah,,, bagi kami, Panjenengan-lah yang layak menyandang gelar Pahlawan. Panjenengan didik kami, dari yang semula santri ingusan menjadi santri yang gagah dan berguna, dari yang semula santri kumal menjadi santri yang kaya namun tak lupa membantu sesama. Dan Panjenengan tidak menuntut sepeser-pun atas bimbingan, arahan dan didikan selama ini. Kami bangga dengan "kawah candradimuka" ini.

Abah,,, maaf jika saya ga pandai merakai kata, saya ga pandai melukiskan sebesar apa cintamu pada kami santri-santri, seberapa besar semangatmu memajukkan kaum muslimin dan muslimat ini, seberapa besar kekuatanmu mencintai Negeri ini. Sekali lagi maaf jika saya gak pandai soal itu, Abah. Jadi kalau  ikut kontes ini kalah, gak papa yah...

Abah,,, maaf jika saat ini saya mungkin belum seperti yang Panjenengan harapkan, maaf jika selama ini saya menjadi beban bagi Abah, namun setidaknya saya akan berusaha menuju sebagaimana yang Abah harapkan. Panjenengan adalah inspirasi dan motifator kami. Kami percaya, do'a panjenengan selalu tercurah untuk kami dalam setiap malam malam yang hanya didengar oleh Sang Maha Pengabul Do'a.

Wassalamu'alaikum....

▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
“Postingan ini diikutsertakan dalam Kontes Dear Pahlawanku yang diselenggarakan oleh LozzIyha dan Puteri
Sponsored by :

▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬

16 comments :

  1. "Ojo ngedekke Masjid yen ora duwite dewe, ojo ngedekke Pesantren yen durung sugih"

    ini dia prinsip seorang pahlawan..

    Matur nuwun mas sudah berpartisipasi di gelaran kami.. artikel sudah saya catat sebagai peserta ya

    ReplyDelete
  2. Abba Syaikhuna itu panggilannya Una juga nggak? Hahaha...

    Eh iya mas keren (bukan masnya, abbanya itu), "Ojo ngedekke Masjid yen ora duwite dewe, ojo ngedekke Pesantren yen durung sugih", selama ini kan banyak mesjid mesjid yang minta sumbangan di jalan gitu hiii gemes deh gue...

    Eh yaudah deh mas, semoga menang ya.

    ReplyDelete
  3. wekekeke.. si una... :))
    eh, bisa bahasa jawa juga si una ya? :D

    abah kereeenn... ^^d
    gudlak yooo.... :D

    ReplyDelete
  4. hebat. panjenengan itu nama orang ya. di sini pendiri pesantren sudah jadi politisi semua. mengejar harta dunia. semoga panjenengan konsisten megurusi umat islam di indonesia.s alam buat santrinya juga

    ReplyDelete
  5. Mas Samaranji, dari isi surat mas diatas, fanya yakin beliau adalah salah seorang pahlawan dari sekian banyak pahlawan............
    Ada tidaknya gelar kepahlawanan yg disandangkan manusia kpd seseorang bukan ukuran dari nilai kepahlawanan seseorang.... bahkan yg tak menyandang gelar pun mungkin dan bisa saja justru lebih harum dan berjasa dibanding pahlawan lainnya......
    :
    Salam

    ReplyDelete
  6. sosok abah yang hebat dan pesantrennya menghasilkan santri hebat seperti dirimu. makasih ya dah ikutan dear pahlawanku.

    ReplyDelete
  7. @ Lozzakbar : Dalem ugi ngaturaken matur nuwun, Mas. Udah didaftar. Inggih leres puniko, panjenenganipun Abah emang motifator hebat. Kata2 itu mampu membentuk karakter masyarakat agar tidak bermental pengemis.

    @ Una : Dasarr,,,mentang2 ada Una-nya pada "SyaikhUNA" ? NGIMPI !!!. Abba = Ayah/Bapak; Syaikh = Guru ; Na = dhomir dari "kami". Jadi jika namamu Rasuna mungkin artinya "ras kami"... geto loh Nduk... ;)) *niru Pakde.

    @ Miss 'U : Saya juga keren, wooiiii... !!! ***nginjek2 tanah

    @ Rusydi Hikmawan : ***Blegh..~(.0.)~~ Bahasa Jawa emang ribet Pak. "Panjenengan" itu sebutan untuk Anda. Utk kata "anda" saja ada banyak tingkatan, Kowe; Slirane; Sampeyan; Panjenengan... Btw, Seorang guru yang care dng pendidikan di Lombok juga pahlawan koq, Pak. Salam juga utk siswa-siswinya di sana yaa... Mari jadikan Indonesia lebih cerdas dan mandiri, MERDEKA !

    @ Fanya : Wa'alaikum salam,,,Mbak Fanya ikutan juga dunk, mari kita ekspose Pahlawan-pahlawan di sekitar kita.

    @ Puterimirillis : Duhh,,, mbak Puteri bikin diriku tersipuuu.... Makasih dah folow diriku. Salam untuk Mas Arief Budiman... eh untuk Aziz dan Humaira juga...

    ReplyDelete
  8. Subhanallah, emang beda ya pendidik yang mendidik dengan hati ^_^

    Btw, "Ojo ngedekke Masjid yen ora duwite dewe, ojo ngedekke Pesantren yen durung sugih"

    Mohon maaf, bisa tolong diterjemahin nggak ya? nggak ngertiiiii.. >O<

    ReplyDelete
  9. kerenan si abah ah =P

    singgah di lapakku dong, aye lagi bagi bagi Pe Er =P

    ReplyDelete
  10. @ Della : Mbak... koq kiri pake sepatu, kanan pake sendal. Apa gak pegel tuh...???
    Ooowh...translatenyah : Jangan mendirikan Masjid jika bukan uang sendiri. Jangan mendirikan Pesantren kalo belum kaya.

    @ Miss 'U : Ngalah deh,,, perasaan sy tuh keras kepala, koq masih ada yang lebih keras ya... Cuba diadu yuk kepalanyah...He.

    ReplyDelete
  11. Ehehehe.. sendal-sepatu itu maksudnya untuk menggambarkan kalau saya ini labil, mwahahahahaha..
    Oooo.. itu toh artinya. Makasih ya, Mas ^_^

    ReplyDelete
  12. hayuk di adu.... hijabnya pake tembok beton aja ya :))


    udah keliatan... ga usah kabur... :siul:

    ReplyDelete
  13. sosok pahlawan nya abah pendiri pesantren,,wah2 smoga kelak kamu santri yg bisa berbakti dgn sosok abah y sob,,

    ReplyDelete
  14. @ Alkahfi
    Wah,,, jangan "kelak" ya Mas. Semoga sekarang dan selanjutnya menjadi santri yang berbakti dan mencontoh suri tauladan beliau, Amiin.

    Makasih,,,kunjungannya Mas.

    ReplyDelete
  15. Sosok abah yang benar-benar dapat menjadi tauladan.. perkataan dan perbuatan sinkron, hasilnya pribadi yang luar biasa, seperti beliau ini...

    surat untuk panutan yang dikemas dengan pas dan menyenangkan (untuk dibaca) :)

    -artikel sedang dinilai-

    ReplyDelete
  16. @ Advertiyha : Blogger yang mengajak lainnya untuk mengingat para Pahlawan juga orang2 luar biasa bagi saya. Tanpa acara tsb, mana mungkin kami mengingat dan berusaha meneladani beliau, beliau. Thank's Mbak

    ###Hmmm,,, andai panitianya bukan para sesepuh blogger, sy mo pake jurus ancaman biar menang,,, he,,,he begitulah sy menang ditempatnya Una. ;D

    Salam MERDEKA !

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...