Sunday, 21 November 2010

Menangkal Kesesatan

Alhamdulillah, sholawat serta salam semoga senantiasa terclimpah atas Baginda Rasulullah SAW.

Segala amal yang tanpa didasari ilmu akan tertolak dan tidak diterima, bahkan dalam Kitab Ta’lim Muta’alim yang baru saja kita ikuti kemarin  disebutkan : 
ﻓﺈﻦﺍﻴﻣﺎﻦﺍﻠﻣﻗﻠﺩ ﻮﺍﻦﻛﺎﻦﺼﺤﻴﺣﺎﻋـﻨﺩ ﻨﺎ ﻠﻛﻦ ﻴﻛﻮﻦﺁﺛﻣﺎ ﺒﺘﺮﻚ ﺍﻻﺳﺗﺪﻻ ﻞ
 “Mongko setuhune imane muqolid ( wong kang taqlid-anut grubyug-) senajan imane iku sah mungguh ingsun (musonef : peyusun kitab Ta’lim) anging tetapine muqolid iku kalebu  wong kang dosa , sebab ninggal ngalap dalil.” 
“Sesungguhnya keimanan muqolid (orang yang taqlid/ hanya ikut-ikutan) walupun dianggap sah, namun muqolid tersebut termasuk orang yang berbuat dosa besar disebabkan keimanannya yang tanpa dalil.”

Dalam hal inilah Muslim Muslimah membutuhkan seorang “Guru” –‘Ulama/ Kiai- untuk mendalami ilmu Islam sendiri yang tentunya dengan dalil-dalil yang jelas. Seorang Muslim dituntut pula  berhati-hati dalam memilih “Guru” untuk meyelamatkan imannya, namun proses mencari, memilih dan menentukan tersebut tidak perlu disertai dengan menilai dan membanding-bandingkan ‘Ulama. Abah Syeikh sering ngendikan, “Saiki akeh wong sing ngakune kenal akeh Kiai, tapi malah ora netepi haq-haqe Kiai.”.  Proses mencari dan menentukan pilihan hendaknya tidak menjebak diri pada sikap membanding-bandingkan.


“Mengaji” Instan, Rawan Pendistorsian.

Karena keterbatasannya memahami makna “mengaji”, umat Islam sekarang menganggap suatu majlis yang para jama’aahnya membaca tahlil dan membaca surat Yaasin saja sudah dikatakan “mengaji”, mendengarkan ceramah seorang Ustadz di statsiun televisi juga sudah mereka pahami sebagai “mengaji”,  yang lebih  ironis lagi mereka yang hanya sekedar membaca buku atau mendengarkan kaset/vcd mengenai bacaan Al-Qur’an juga sudah dimaknai sebagai “mengaji.” Membaca artikel-artikel di internet terkadang juga sudah dianggap “mengaji”

Sebenarnya  kegiatan tersebut belum bisa dikatakan sebagai “mengaji”, namun lebih tepat bila disebut sebagai salah satu cara dari “mengaji” yang maknanya lebih luas ketimbang sekedar tahlilan, yasinan, membaca, mendengarkan kaset/vcd, mempelajari artikel islami di internet, atau mendengarkan ceramah seorang mubaligh di telivisi. Bila “mengaji”nya hanya melalui telivisi, apa yang kita sebut sebagai “Guru” tidak bisa menegur apabila kita melakukan kesalahan, walaupun mungkin terjadi dialog via telepon namun ada hal yang lebih substansial dari proses belajar mengajar yaitu adanya ikatan batin antara seorang murid dan “guru”. Dengan demikian irsyadi ustadz menjadi syarat mutlak dalam mencari ilmu tidak mulai terabaikan. Perlu diingat bahwa istilah “ilmu” mengalami penyempitan makna sejak Belanda membuat dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Apa yang sekarang disebut “ilmu umum” sebenarnya hanyalah salah satu cabang ilmu Islam itu sendiri. Ilmu Agama (Islam) adalah segala ilmu yang dengan ilmu tersebut dapat mengenal Allah Subhanahu Tabaroka Wa Ta’ala yang selanjutnya digunakan untuk senantiasa muroqobah dan berserah diri pada-Nya (demikian menurut “guru” saya)

Gaya hidup masyarakat “instan” juga mengakibatkan umat Islam lebih menyukai belajar mengenai agamanya secara sepotong-potong. Lihat saja bagaimana umat Islam sekarang lebih tertarik  tentang ruqyah ketimbang harus belajar mengenai tata cara wudhu dan sholat, niat sholat fardhu saja belum bisa namun sudah fasih berbicara tentang tasawuf dan segala macam tetek bengeknya, mengenai sholat jenazah dan tata cara merawat mayit/jenazah saja enggan mempelajari eh malah tertarik menonton sinetron yang cenderung mencari-cari kejelekan si mayit/jenazah dan adzab yang diterimanya. 

Sah-sah saja seorang Muslim mempelajari ilmu yang aeng-aeng tersebut  - karena memang ilmu Islam amatlah luas -, namun yang perlu kita sadari adalah bahwa dalam menacari ilmu ada beberapa etape (tahapan)  yang harus dilalui terlebih dahulu. 

Agaknya penyempitan makna “mengaji” ini menjadi salah satu agenda besar dari para Musuh Islam untuk menghancurkan Islam secara perlahan-lahan. Mereka mengharapkan umat Islam jauh dari ‘Ulamanya, dengan demikian umat akan mudah dikotak-kotakan dan dipecah belah karena sudah lepas dari komando para ‘Ulama. 

Kembali Pada Al-Qur’an Al-Karim

Membaca Al-Qur’an Al Karim saja tidak semua umat Islam bisa, kalaupun yang sudah bisa belum tentu istiqomah dalam sehari membaca, kalaupun yang sudah istiqomah membaca Al-Qur’an belum tentu sudah tartil dan tadabbur ‘ala ma’na. Hufth…begitu sulitkah menjadi Islam ? TIDAK. Yang suka menyulitkan diri adalah kalangan yang membaca huruf hijaiyah dalam Al-Qur’an saja belum mampu namun sudah berkoar – koar tentang hadits sahih, dan yang lebih parah lagi sandarannya sekedar hadits TERJEMAHAN !!! Inilah yang lebih membahayakan.

Maka sungguh benarlah metode para ‘ulama terdahulu, beliau – beliau mengajarkan membaca “alif – ba – ta – tsa” terlebih dahulu untuk selanjutnya mengajarkan ilmu tajwid sebagai bekal untuk membaca Al-Qur’an secara tartil. Agar proses membaca diiringi tadabbur ‘alal ma’na (memahami makna yang terkandung) maka perlu diajarkan pula ilmu nahwu – shorof juga. Inilah bekal awal untuk kita jadikan sarana menjaga kesucian dan kemurnian Al-Qur’an, sebagai benteng awal agar Al-Qur’an selamat dari pendistorsian.

Pada era informasi dan globallisasi dewasa ini, musuh-musuh Islam agaknya pandai memanfaatkan media dengan melakukan penjajahan pemikiran terhadap generasi muda Muslim dengan mencekoki jargon bid’ah, bid’ah, dan bid’ah !!! hadits sahih, sahih, dan sahih !!! Umat islam dijebak mempermasalahan khilafiyah furu’iyah (beda pendapat pada cabang agama) namun sudah lupa untuk membaca Al-Qur’an nya. Umat Islam dibuat lupa pada rukun Islam dan rukun Iman, umat Islam dikondisikan untuk melupakan bagaimana cara wudhu, cara sholat yang benar, umat Islam dibuat sibuk mengurusi masalah “bid’ah”. INGAT bahwa masalah tersebut sudah ada ahlinya, para ‘ulama mujtahid dan bagi kita yang awam mulailah belajar Islam dengan step by step, tidak perlu menambah masalah dengan bersikap seolah – olah sudah tahu.

Situasi dan kondisi perselisihan antara madzhab dan manhaj (yang kayaknya emang dikondisikan demikian agar umat Islam terpecah belah), dimanfaatkan pula oleh penyusup lain dengan menipu sebagian orang “reformis” dan sebagian “cendekiawan” Islam yang –katanya- berpikiran moderat dengan menganggap bahwa masalah syari’at hanyalah menyentuh kulitnya saja, dan yang menjadi inti yang hakiki adalah masalah “hati”, muncullah apa yang disebut tasawuf dan kaum sufi.

Mempelajari Islam secara Kaffah (Menyeluruh)

Paham - paham demikian  sesungguhnya hanyalah siasat mereka agar manusia tidak mengetahui ajaran-ajaran Islam secara kaffah, sehingga setiap Muslim hanya mengetahui secara sepotong-sepotong mengenai agamanya sendiri. Dalam bahasa sederhana Abah pernah berkata, “Kenang opo saiki wong Islam ora baggga kelayan ilmu Islam dewe !”.  Sungguh !, apa yang dikatakan Abah Syeikh adalah kenyataan yang ada dalam umat Islam sekarang. Umat Islam sekarang lebih memilih mendengarkan pengajian yang bersentuhan dengan masalah “hati” ketimbang mempelajari masalah syar’i. Kajian-kajian seperti  “Pacaran dalam kaca mata Islam”, “Bagaimana menjadi Remaja Islami”, lebih menarik minat para remaja Islam ketimbang mempelajari masalah sholat, zakat, puasa maupun haji. 

Bila umat Islam saja sudah tidak megetahui lagi mengenai ilmu dan ajaran Islam sendiri, maka berhasillah Musuh-musuh Islam dalam menggiring kaum Muslim menjadi masyarakat “instan”, yang mengamalkan ajaran Islam menurut “selera” hawa nafsunya, yang mempelajari keluasan ilmu Islam dengan hanya memilah-milahnya beberapa cabang ilmu sesuai kesenangannya, yang enggan mempelajari Islam secara runut dan benar pada seorang ‘Ulama. Jangan heran jika saat ini umat Islam akan mudah tertipu pada situs yang “berlabel” Islam namun ternyata isinya hanyalah fitnah keji dan penyesatan.

Dalam setiap “Majlis Ta’lim Muta’alim” (tiap malam Sabtu Kliwon, di kediaman H. Abdul Harits, Manyaran - Semarang) yang notabene dihadiri kalangan terpelajar, Abah Syeikh selalu dan selalu meyampaikan bahwa betapa kaya-nya khazanah Islamiyah, betapa kompleksnya ilmu yang diajarkan di Pondok Pesantren, betapa kelirunya mereka yang beranggapan bahwa Pondok Pesantren identik dengan “kitab kuning” yang  sudah tak relevan. Sekali lagi inilah siasat mereka -para musuh Islam- dalam menjauhkan umat Islam dari ajarannya.

Menghadapi serangan-serangan yang dilancarkan oleh para orientalis itulah, Abah Syeikh dalam setiap waktu dan kesempatan selalu membela eksistensi Pondok Pesantren, dimana Pondok Pesantren seringkali dipojokkan dan di-diskriminasikan sebagai lembaga Pendidikan Islam yang mengajarkan ilmu-ilmu salaf –yang menurut mereka- sudah tidak relevan untuk zaman sekarang. Ironis memang, dan lucunya justru dari kalangan “cendekia” Muslim sudah muncul keraguan atas kitab-kitab Islam sendiri, justru mereka yang mengaku “reformis” (pembaharu) Islam mempertanyakan eksistensi dan relevansi dari kitab salaf sendiri (yang pada jaman penjajahan, Belanda mencibir dengan sebutan “kitab kuning”). 

Manfa’at Ber”guru” (Sebuah Proses Yang Terlupakan)

Untuk memperoleh keberkahan ilmu marilah kita ber”guru”,  dengan ber”guru kita pasti dapat mempelajari Agama secara kaffah, runut, tertib yang tentu saja sanadnya bersambung hingga kepada Junjungan Baginda Rasulullah SAW.

Apakah sama antara seseorang yang pengetahuannya tentang sesuatu hanya sepotong-sepotong dengan orang yang mempunyai pengetahuan  secara urut dan menyeluruh ?. Kebanyakan dari orang yang disebutkan pertama  akan mudah tersesat dan terombang-ambing dalam lautan ilmu, mereka tak punya pegangan karena mereka mudah sekali melompat dari satu pemikiran ke pemikiran lainnya. Karena mereka hanya mempelajari beberapa cabang ilmu Islam namun meninggalkan sebagian cabang ilmu lainnya dan karena mereka tak mempelajari ilmu secara urut dan sistematis maka mereka-pun seperti orang yang tak memiliki  “peta” untuk mencapai tujuan.

Apakah sama antara orang yang mempelajari Agama secara sendirian dengan orang yang mempelajari Agama secara berjama’ah pada seorang “Guru” ?. Berbeda dengan orang yang terbiasa berjama’ah, orang yang sendirian tanpa “guru” bagaikan orang yang berlayar tanpa nahkoda, tanpa teman, tanpa seseorang yang bisa dimintai pertolongan saat dia membutuhkan. Tidak ada salahnya bila kita menyimak apa yang pernah ditulis oleh beliau  Sunan Pakubuwono IV berupa sebuah tembang Dandanggula :

Nanging yen sira nggeguru kaki,
Amiliha manungsa kang nyata, 
ingkang becik martabate,
Sarta kang wruh ing hukum,
Kang ibadah lan kang wirangi,
Sukur oleh wong tapa, iya kang wus mungkul,
Tan mikir piwewehing liyan,
Iku pantes yen den gurunana kaki,
Sartane kawruhira.

Terjemahan bebas : “Tetapi apabila engkau berguru, pilihlah orang yang betul-betul pantas, yang baik martabatnya, serta tahu dan taat, kepada hukum(undang-undang), tekun beribadah serta takut kepada Allah SWT dan taat kepada perintah-Nya. Sukur apabila kau dapatkan orang yang suka bertapa, yaitu orang yang sudah meninggalkan segala nafsu duniawi, dan tak mengharap pemberian dari orang lain. Orang yang demikian pantas engaku mintai petunjuk sebagai lantaran atau sarana bertambahnya pengetahuanmu.”

Beberapa Metode Ber”guru”nya para Nabi dan Rasul 

Nabi Adam as, insyaallah dalam Al-Qur’an Al Karim QS. Al Baqarah : 33
Nabi Ibrahim as, insyaallah dalam Al-Qur’an Al Karim QS. Al An'am : 75 - 79
Nabi Musa as, insyaallah dalam Al-Qur’an Al Karim QS. Al-Kahfi : 66 Selengapnya dalam QS Al Kahfi : 61 – 82
Nabi Daud as, insyaallah dalam Al-Qur’an Al Karim QS. An-Naml : 27
Nabi Isa as,  insyaallah dalam Al-Qur’an Al Karim QS. Al Maidah :110
Nabi Muhammad saw, insyaallah dalam Al-Qur’an Al Karim QS An-Nahl :102 - 104

Warisan berharga umat Islam adalah Al-Qur'an, maka siapa lagi kalau bukan kita umat Islam yang mau mempelajari bahasa Al-Qur'an, sesuai firman Allah Subhanahu Tabaroka Wa Ta'ala dalam QS An Nahl : 103 . Untuk menjaganya kita mau tidak mau kitapun harus ber"guru". Selanjutnya, apakah kita masih senang dengan kesendirian tanpa seseorang yang bisa membimbing kita, menunjukkan arah menuju keridhoan-Nya ataukah akan mencari seorang “guru” yang total dalam mencintai muridnya, yang tidak hanya menunjukkan kasih sayang dengan memberi toleransi berlebihan namun juga menunjukkan kasih sayangnya dengan kemarahan ?. Apa yang kita pelajari sekarang dan siapa orang-orang yang berada di sekitar kita akan sangat berpengaruh pada jalan hidup kita setahun, dua tahun atau ratusan tahun kemudian. Selamat ber"guru" dan menjalin persahabatan.

Semoga bermanfa'at.

Saya dedikasikan :
Hatur Tengkyu.....  mas @ haniifa 

14 comments :

  1. Subhanallah,...
    matur nuwun sanget lho, @Kang Mas, atas dedikasinya.... semoga jalinan silaturahim kita semakin erat walaupun baru didunia maya.

    Teriring salam hormat selalu, Haniifa.

    ReplyDelete
  2. kang mas @ haniifa

    (he..he.., jadi malu aq yang kadang manggil kang, kadang manggil mas...)

    Duh...suatu kehormatan besar kedatangan tamu istimewah, apalagi pake memfollowup segala. makasih banyak... Insyaallah menjadi spirit tersendiri buat saya.

    ReplyDelete
  3. putratridharma22/11/2010, 16:15

    All

    Guru khususnya guru kerohanian harus memiliki kualifikasi seperti dalam ayat di bawah ini:

    Bhagavad Gita 18.42 dan Bhagavata Purana 11.17.13 yang membahas catur varna. Disana kita bisa memetik intisari bahwa seorang guru kerohanian (yang juga seorang Brahmana) adalah beliau yang telah memiliki sifat-sifat; Kedamaian hati (samah), Terkendali diri (damah), Kesederhanaan (tapah), Kesucian (saucam), Toleransi (ksantir), Kejujuran (arjavam), Berpengetahuan rohani (jnanam), Bijaksana. (vijnanam), Agamis (astikyam), Berpuas hati (santosah), Pengampun (ksanthih), Bhakti kepada Tuhan (bhakti), dan Kasih sayang (daya). Sehingga dengan demikian, jika seseorang telah memenuhi syarat dasar ini, mengikuti sistem parampara dan mampu melakukan transfer ilmu, maka dia sangat layat diangkat sebagai seorang guru meskipun dia lahir sebagai orang cacat, hina dan rendah dari keluarga candala, ataupun pernah berbuat dosa dimasa lalu.

    ReplyDelete
  4. Osamah berujar :
    "Orang berilmu akan senantiasa belajar, ketika merasa pandai maka saat itulah ia bodoh"
    alhamdulillah,akhirnya telah sampai padamu,saudaraku ,kulit dari "tidak tahu".semoga Allah membimbingmu menuju "kedalaman tidak tahu".
    Barakallahu....

    ReplyDelete
  5. mas @ putra tridharma
    Kualifikasi yang anda sebutkan, alhamdulillah sudah dimiliki Baginda Rasulullah SAW (PLUS) pengetahuan akan Tuhan Yang Maha Esa, Allah Subhanahu Tabaroka Wa Ta'ala, (juga) ketegasan untuk membedakan yang haq dan yang bathil.

    mas @ osamah
    Maaf mas,saya dah meluncur pd link yg anda berikan,, APA YANG DIMAKSUD DNG KATA "MAAF" BERIKUT : http://andibombang.com/senyum-semesta.html

    @ abu hanan & ben kunawi
    Iya, sepengetahuan saya, ending kisahnya memang begitu. Bahwa, sang pengemis tua nan buta serta (maaf) yahudi itu kemudian menjadi muallaf. Namun, di artikel ini, saya bermaksud ‘lebih menekankan’ kepada aspek ‘keikhlasan’ sang khalifah. Pertanyaan halusnya, kok bisa ya beliau bersikap begitu? Apakah ‘ada ilmunya’? Soalnya, kalau misalnya dikenakan kepada saya, ta’kepruk tenan wong iku tanpa basa-basi, hehe.. Setidak2nya, dulu.. jaman jahiliyahku.

    ;)


    ABang

    November 17th, 2010 at 09:11


    >>> terus terang dari jam 10 tadi sampe dah dhuhur ini, aku ga mudeng babar blas kalimat2 metafora dlm blog tersebut, bahasanya aneh. Setahuku penempuh tharikat tidak pernah mengabaikan syari'at (BOHONG bila bisa tahu ma'rifat - hakikat tanpa menjalankan syari'at !!!) Artinya, syari'at JALANKAN DULU, insyaallah hikmah akan datang dengan sendirinya.

    >>> perhatikan kata "maaf" yang ditandai kurung. MAKSUDNYA APA ? MENGAPA ??? (apa emang ada komunitas yahudi dalam blog tersebut) ?????

    Dah saatnya dhuhur, sholat dulu mas osamah (hati2 dengan ilmu aeng2 itu) !!!

    Wassaalamu'alaikum

    ReplyDelete
  6. alhamdulillah,,
    @saudaraku...
    anda =>
    Setahuku penempuh tharikat tidak pernah mengabaikan syari'at (BOHONG bila bisa tahu ma'rifat - hakikat tanpa menjalankan syari'at !!!) Artinya, syari'at JALANKAN DULU, insyaallah hikmah akan datang dengan sendirinya.
    saya =>pada komen di Belajar Berpikir Cerdas terdapat :
    "tidak tahu" insya allah akan anda jumpai melalui dzikir dan berbagai amalan baik lain seperi salam,senyum,datangi undangan,hadiri majelis dll,,
    insya allah jika anda pasrah kemana allah membawa anda,anda akan mendapat "tidak tahu" nya.
    Tanpa syariat tidak akan ada ma'rifat...dengan ma'rifat maka syariat akan lebih bercahaya...

    "maaf" yang dimaksud dalam komen blog tersebut menunjukkan ungkapan bahwa seperti kalau anda mengatakan ehm maaf orang yang hitam itu bla bla...bukan karena ada komunitas yahudi.jadi "maaf"nya merujuk ke fisik pengemis (buta) wahai saudaraku...dan penghormatan atas ke-muallaf-nya.

    ReplyDelete
  7. saudaraku....
    trim atas peringatannya tetapi saya gak paham "aeng2" itu apa?
    saya pikir memang apa yang saya pahami dan alami (dalam perjalanan ruhani) agak sulit menjelaskan dalam bahasa manusia (tutur kata)...yah hanya bahasa hati yang mampu menerjemahkannya....insya allah anda akan berada di depan saya selama anda istiqomah.
    salam

    ReplyDelete
  8. @ osamah
    wa'alaikum salam...

    Makasih penjelasannya, hanya saja sy tidak sregh dng isi blog (http://andibombang) tsb krn banyak hal yg asing bg saya (conto : istilah "diam" "tidak tahu" "samakah dari depan dan belakang" ???). Ditambah pula kata "MAAF" yg sampean kira ditujukan pd kisah pengemis itu (mohon diamati kembali penempatan kata itu).

    Bagi yg merasa mampu belajar islam sendiri (tanpa berguru) ya monggo. Namun bg sy yg awam tentu masih perlu berguru.

    Dan alhamdulillah, didunia maya ini sy menemukan blog yg pembahasannya (ttg aqidah islam, ttg ilmu pengetahuan, ttg 'ulumul qur'an, serta visi misi menyelamatkan islam dr pendistorsian) 99 % mirip "guru" sy di dunia nyata, yakni "guru virtual" kang mas @ haniifa. (walaupun scr fisik belum pernah berjumpa dng beliau, namun entah sy betah bersilaturrahmi n menuntut ilmu ke sana).

    Kurang lebihnya mohon maaf saudaraku...

    Wassalamu'alaikum.

    ReplyDelete
  9. sip

    Kapan Main ke rumah?

    ReplyDelete
  10. @ ilyas
    (mas ilyasafsoh ???)
    astaghfirullah... Maaf mas (ya Allah... bodohnya aq, mau dikasih ilmu ngeblog gratis malah ga mau datang).
    Skali lagi maaf mas, harus kusesuaikan juga neh dng kegiatan mengaji. Matur nuwun sanget sampun dielingke...

    ReplyDelete
  11. Nice posting buddy…I love to read it…I love your blog. Thanks for sharing..
    I would like to share good news also. Here you:

    English Teachers Urgently Required !!!

    A fast-growing National English Language Consultant is hunting for professional English Tutors with the following qualifications:

    i. Competent, Experienced, or Fresh Graduate
    ii. Proficient in English both spoken & written
    iii. Friendly, Communicative, & Creative
    iv. Available for being placed in one of the following branches:

    a. Denpasar, Jln. HOS Cokroaminoto No 66 Block B, C, D Denpasar, Telp: 0361-422335
    b. Pekanbaru, Jln. Ahmad Yani No 187 Kel. Tanah Datar 28000 Pekanbaru, Telp: 0761-7641321
    c. Batam, Graha Pena Building 5th Floor, Suite 510, Jln. Raya Batam Centre, Batam, Telp: 0778-460785
    d. Balikpapan, BRI Building 8th Floor, Jln. Jend. Sudirman No 37 Klandasan BalikpapanTelp: 0542-737537
    e. Makassar, Graha Pena Building 8th Floor, Suite 807,809-812, Jln. Urip Sumoharjo, No 20 Makassar, Telp: 0411-451510
    f. Medan, Visit http://www.easyspeak.co.id
    g. Banjarmasin, Visit http://www.easyspeak.co.id

    If you meet the qualifications above, please send your resume to the address you are applying for or to our email: easyspeak.recruitment@gmail.com within 2 (two) weeks after this advertisement.

    Visit http://www.easyspeak.co.id for further information about our company.

    ReplyDelete
  12. assalamu alaikum...
    saudaraku,saya amat kaget pada saat baca http://vilaputih.wordpress.com/2010/11/12/siapa-bilang-allah-dipikul-malaikat/#comment-9555

    begitu mudahkah seseorang menuduh orang lain?
    inilah yang saya khawatirkan di dunia maya,seringkali orang terlupa bahwa tulisan di internet bernilai sama dengan ucapan di alam nyata....lindungi saudara2ku dari kebodohan dan ilmu yang sia2 wahai Allah,tuhan yang maha penyantun dan menjaga...
    salam

    ReplyDelete
  13. @ easy speak.

    I'm sorry bro, i can't do that & i don't want join u... Coz my english language is wrong, i have not your qualification. And than... In my traditon village, a theacher isn't look for student but a student look for a teacher. So,,, i'm sorry, thx be 4 & thx a lot.

    ( maap broo, bhs ingglis sy belepotan kyknya ga memenuhi kualifikasi itu dey. Lagian dlm tradisi kami, seorang murid yg butuh pendidikan seharusnya mendatangi "guru"nya bukan malah murid memanggil "guru". Btw,,, makasih penawaran n kunjungannya).
    .
    .
    .
    @ osamah

    wa'alaikumsalam warohmatullah...
    Sy juga dah biasa dituduh mas, biasanya dituduh bid'ah ! sesat !!! Tp alhamdulillah kami diajarkan utk saling mengingatkan dlm kebenaran dan kesabaran. Kyknya sy pernah bilang, jangan terlalu peduli jika reputasi qt hancur tapi pedulillah jika kepribadian qt yg hancur. Tetap berkarya sobatku, lanjutkan pencarian,,,.
    Ya Allah, tunjukilah kami jalan yg lurus. Yaitu jalan orang2 yg telah Engkau anugerahkan ni'mat kepada mereka, bukan jalan mereka yg dimurkai bukan pula jalan mereka yg sesat. Aamiin.

    ReplyDelete
  14. assalamualaikum,, permisi saya boleh minta referensinya ngga? tentang penyempitan makna mengaji.
    terimakasih, wassalamualaikum

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...