Sunday, 24 October 2010

Ternyata,,, Allah Tuhanku !!!

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah subhanahu Tabaroka Wa Ta'ala. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan pada Baginda Rasulullah SAW, keluarga, sahabat, serta para pengikutnya.

Umat lain boleh iri jika kita mengucapkan "La ilaha illallah" Tiada tuhan selain Allah. Umat lain boleh tersinggung dan menyangka kita terkesan memaksa bahwa tiada yang berhak disembah selain Allah Azza Wa Jalla. Para theolog mungkin berhak mengkerdilkan makna "tuhan" dengan mengkotak-kotakkan adanya "tuhan hindu" "tuhan budha" "tuhan yahudi" tuhan kristen" ataupun "tuhan islam", n-a-m-u-n inilah keyakinan kita, ketika mengucapkan "Allah" yang ada dalam benak kita adalah Dia-lah Tuhan pencipta alam semesta, Tuhan saya anda dan kita semua tak perduli apakah hamba tersebut percaya ataupun mengingkarinya. Ternyata Baginda Rasulullah - lewat beberapa surat ajakan kepada beberapa raja untuk kembali ke jalan islam - mengajarkan kita bahwa Allah Subhanahu Tabaroka Wa Ta'ala bukanlah Tuhan umat islam semata, Dia-lah Tuhan hindu, budha, yahudi, kristen islam, Dia-lah Tuhan saya, anda dan kita semua, Dia-lah Tuhan seluruh semesta.


Mengapa begitu banyak umat beragama menyebut asma-Nya dengan berbagai nama ?  Kalau memang yang dimaksud dan disembah adalah Tuhan yang sama, mengapa ajaran agama satu dan lainnya menyebut dengan nama yang berbeda ? Apakah "tuhan" yang disembah berbagai ras dan suku bangsa adalah dzat Tuhan yang sama ?. Berikut adalah 20 sifat wajib bagi Tuhan yang sudah dijelaskan dalam Al-Qur'an Al Karim sebagai verivikasi apakah "tuhan" yang disembah umat lain adalah Allah Subhanahu Tabaroka Wa Ta'ala.
-
SIFAT WAJIB BAGI ALLAH SWT
Yaitu sifat yang wajib bagi Tuhan untuk membedakan apakah "tuhan" yang disembah umat lain adalah Allah Azza Wa Jalla, Tuhan Yang Maha Esa yang sesungguhnya.
1. Wujud : Artinya Ada
Yaitu tetap dan benar yang wajib bagi zat Allah Ta’ala yang tiada disebabkan dengan sesuatu sebab. Maka wujud ( Ada ) – disisi Imam Fakhru Razi dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi bukan ia a’in maujud dan bukan lain daripada a’in maujud , maka atas qaul ini adalah wujud itu Haliyyah ( yang menepati antara ada dengan tiada) . Tetapi pada pendapat Imam Abu Hassan Al-Ashaari wujud itu  ‘ain Al-maujud , karena wujud itu zat maujud karena tidak disebutkan wujud melainkan kepada zat. Kepercayaan bahwa wujudnya Allah SWT. bukan saja di sisi agama Islam tetapi semua kepercayaan di dalam dunia ini mengaku menyatakan Tuhan itu ada. Firman Allah SWT. yang insyaallah kurang lebih artinya :
” Dan jika kamu tanya orang-orang kafir itu siapa yang menjadikan langit dan bumi nescaya berkata mereka itu Allah yang menjadikan……………” ( Surah Luqman : Ayat 25 )

2. Qidam : Artinya Sedia
Pada hakikatnya menafikan ada permulaan wujud Allah SWT karena Allah SWT. menjadikan tiap-tiap suatu yang ada, yang demikian tidak dapat tidak keadaannya lebih dahulu daripada tiap-tiap sesuatu itu. Jika sekiranya Allah Ta’ala tidak lebih dahulu daripada tiap-tiap sesuatu, maka hukumnya adalah mustahil dan batil. Maka apabila disebut Allah SWT. bersifat Qidam maka jadilah ia qadim. Di dalam Ilmu Tauhid ada satu perkataan yang sama maknanya dengan Qadim Yaitu Azali. Setengah ulama menyatakan bahwa kedua-dua perkataan ini sama maknanya Yaitu sesuatu yang tiada permulaan baginya. Maka qadim itu khas dan azali itu am. Dan bagi tiap-tiap qadim itu azali tetapi tidak boleh sebaliknya, Yaitu tiap-tiap azali tidak boleh disebut qadim. Adalah qadim dengan nisbah kepada nama terbahagi kepada empat bagian :
·        Qadim Sifati ( Tiada permulaan sifat Allah Ta’ala )
·        Qadim Zati ( Tiada permulaan zat Allah Ta’ala )
·        Qadim Idhafi ( Terdahulu sesuatu atas sesuatu seperti terdahulu bapa nisbah kepada anak )
·        Qadim Zamani ( Lalu masa atas sesuatu sekurang-kurangnya satu tahun )
Maka Qadim Haqiqi ( Qadim Sifati dan Qadim Zati ) tidak harus dikatakan lain daripada Allah Ta’ala.

3. Baqa’ : Artinya Kekal
Sentiasa ada, kekal ada dan tiada akhirnya Allah SWT . Pada hakikatnya ialah menafikan ada kesudahan bagi wujud Allah Ta’ala. Adapun yang lain daripada Allah Ta’ala , ada yang kekal dan tidak binasa Selama-lamanya tetapi bukan dinamakan kekal yang hakiki ( yang sebenar ) Bahkan kekal yang aradhi ( yang mendatang jua seperti Arasy, Luh Mahfuz, Qalam, Kursi, Roh, Syurga, Neraka, jisim atau jasad para Nabi dan Rasul ). Perkara –perkara tersebut kekal secara mendatang tatkala ia bertakluq dengan Sifat dan Qudrat dan Iradat Allah Ta’ala pada mengekalkannya. Segala jisim semuanya binasa melainkan ‘ajbu Az-zanabi ( tulang kecil seperti biji sawi letaknya di tungking manusia, itulah benih anak Adam ketika bangkit daripada kubur kelak ). Jasad semua nabi-nabi dan jasad orang-orang syahid berjihad Fi Sabilillah yang mana ianya adalah kekal aradhi jua. Disini nyatalah perkara yang diiktibarkan permulaan dan kesudahan itu terbahagi kepada 3 bagian :
·        Tiada permulaan dan tiada kesudahan Yaitu zat dan sifat Alllah SWT.
·        Ada permulaan tetapi tiada kesudahan Yaitu seperti Arash, Luh Mahfuz , syurga dan lain-lain lagi.
·        Ada permulaan dan ada kesudahan Yaitu segala makhluk yang lain daripada perkara yang diatas tadi ( Kedua ).

4. Mukhalafatuhu Ta’ala Lilhawadith. Artinya : Bersalahan Allah Ta’ala dengan segala yang baharu.
Pada zat , sifat atau perbuatannya sama ada yang baru , yang telahada atau yang belum ada. Pada hakikat nya adalah menafikan Allah Ta’ala menyerupai dengan yang baharu pada zatnya , sifatnya atau perbuatannya. Sesungguhnya zat Allah Ta’ala bukannya berjirim dan bukan aradh Dan tiada sesekali zatnya berdarah , berdaging , bertulang dan juga bukan jenis leburan , tumbuh-tumbuhan , tiada berpihak ,tiada bertempat dan tiada dalam masa. Dan sesungguhnya sifat Allah Ta’ala itu tiada bersamaan dengan sifat yang baharu karena sifat Allah Ta’ala itu qadim lagi azali dan melengkapi ta’aluqnya. Sifat Sama’ ( Maha Mendengar ) bagi Allah Ta’ala berta’aluq ia pada segala maujudat tetapi bagi mendengar pada makhluk hanya pada suara saja. Sesungguhnya di dalam Al-Quraan dan Al-Hadith yang menyebut muka dan tangan Allah SWT. , maka perkataan itu hendaklah kita iktiqadkan thabit ( tetap ) secara yang layak dengan Allah Ta’ala Yang Maha Suci daripada berjisim dan Maha Suci Allah Ta’ala bersifat dengan segala sifat yang baharu.

5. Qiyamuhu Ta’ala Binafsihi : Artinya : Berdiri Allah Ta’ala dengan sendirinya .
Tidak berkehendak kepada tempat berdiri ( pada zat ) dan tidak berkehendak kepada yang menjadikannya Maka hakikatnya ibarat daripada menafikan Allah SWT. berkehendak kepada tempat berdiri dan kepada yang menjadikannya. Allah SWT itu terkaya dan tidak berhajat kepada sesuatu sama adapada perbuatannya atau hukumannya. Allah SWT menjadikan tiap-tiap sesuatu dan mengadakan undang-undang semuanya untuk faedah dan maslahah yang kembali kepada sekalian makhluk . Allah SWT menjadikan sesuatu ( segala makhluk ) adalah karena kelebihan dan belas kasihannya bukan berhajat kepada faedah. Allah SWT. Maha Terkaya daripada mengambil apa-apa manafaat di atas kataatan hamba-hambanya dan tidak sesekali menjadi mudharat kepada Allah Ta’ala atas sebab kemaksiatan dan kemungkaran hamba-hambanya. Apa yang diperintahkan atau ditegah pada hamba-hambanya adalah perkara yang kembali faedah dan manafaatnya kepada hamba-hambaNya jua. Firman Allah SWT. yang bermaksud :
” Barangsiapa berbuat amal yang soleh ( baik ) maka pahalanya itu pada dirinya jua dan barangsiapa berbuat jahat maka balasannya (siksaannya ) itu tertanggung ke atas dirinya jua “. ( Surah Fussilat : Ayat 46 ). Syeikh Suhaimi r.a.h berkata adalah segala yang maujudat itu dengan nisbah berkehendak kepada tempat dan kepada yang menjadikannya, terbahagi kepada empat bagian :
·        Terkaya daripada tempat berdiri dan daripada yang menjadikannya Yaitu zat Allah SWT.
·        Berkehendak kepada tempat berdiri dan kepada yang menjadikannya Yaitu segala aradh ( segala sifat yang baharu ).
·         Terkaya daripada zat tempat berdiri tetapi berkehendak kepada yang menjadikannya Yaitu segala jirim. ( Segala zat yang baharu ) .
·        Terkaya daripada yang menjadikannya dan berdiri ia pada zat Yaitu sifat Allah Ta’ala.

6. Wahdaniyyah. Artinya : Esa Allah Ta’ala pada zat, pada sifat & pada perbuatan.
Maka hakikatnya ibarat daripada menafikan berbilang pada zat, pada sifat dan pada perbuatan sama ada bilangan yang muttasil (yang berhubung ) atau bilangan yang munfasil ( yang bercerai ).
Makna Esa Allah SWT pada zat itu Yaitu menafikan Kam Muttasil pada Zat ( menafikan bilangan yang berhubung dengan zat ) seperti tiada zat Allah Ta’ala tersusun daripada darah , daging , tulang ,urat dan lain-lain. Dan menafikan Kam Munfasil pada zat ( menafikan bilangan yang bercerai pada zat Allah Ta’ala )seperti tiada zat yang lain menyamai zat Allah Ta’ala.
Makna Esa Allah SWT pada sifat Yaitu menafikan Kam muttasil pada Sifat ( menafikan bilangan yang berhubung pada sifatnya ) Yaitu tidak sekali-kali bagi Allah Ta’ala pada satu-satu jenis sifatnya dua qudrat dan menafikan Kam Munfasil pada sifat ( menafikan bilangan –bilangan yang bercerai pada sifat ) Yaitu tidak ada sifat yang lain menyamai sebagaimana sifat Allah SWT. yang Maha Sempurna.
Makna Esa Allah SWT pada perbuatan Yaitu menafikan Kam Muttasil pada perbuatan ( menafikan bilangan yang bercerai–cerai pada perbuatan ) Yaitu tidak ada perbuatan yang lain menyamai seperti perbuatan Allah bahkan segala apa yang berlaku di dalam alam semuanya perbuatan Allah SWT sama ada perbuatan itu baik rupanya dan hakikatnya seperti iman dan taat atau jahat rupanya tiada pada hakikat-nya seperti kufur dan maksiat sama ada perbuatan dirinya atau perbuatan yang lainnya ,semuanya perbuatan Allah SWT dan tidak sekali-kali hamba mempunyai perbuatan pada hakikatnya hanya pada usaha dan ikhtiar yang tiada memberi bekas. Maka wajiblah bagi Allah Ta’ala bersifat Wahdaniyyah dan ternafi bagi Kam yang lima itu Yaitu :
1.            Kam Muttasil pada zat.
2.            Kam Munfasil pada zat.
3.            Kam Muttasil pada sifat.
4.            Kam Munfasil pada sifat.
5.            Kam Munfasil pada perbuatan.
Maka tiada zat yang lain , sifat yang lain dan perbuatan yang lain menyamai dengan zat , sifat dan perbuatan Allah SWT . Dan tertolak segala kepercayaan-kepercayaan yang membawa kepada menyekutukan Allah Ta’ala dan perkara-perkara yang menjejaskan serta merusakkan iman.

7. Al – Qudrah : Artinya : Kuasa qudrah Allah SWT.
Memberi bekas pada mengadakan meniadakan tiap-tiap sesuatu. Pada hakikatnya ialah satu sifat yang qadim lagi azali yang thabit ( tetap ) berdiri pada zat Allah SWT. yang mengadakan tiap-tiap yang ada dan meniadakan tiap-tiap yang tiada bersetuju dengan iradah. Adalah bagi manusia itu usaha dan ikhtiar tidak boleh memberi bekas pada mengadakan atau meniadakan , hanya usaha dan ikhtiar pada jalan menjayakan sesuatu . Kepercayaan dan iktiqad manusia di dalam perkara ini berbagai-bagaiFikiran dan fahaman seterusnya membawa berbagai-bagai kepercayaan dan iktiqad.
a. Iktiqad Qadariah :
Perkataan qadariah Yaitu nisbah kepada qudrat . Maksudnya orang yang beriktiqad akan segala perbuatan yang dilakukan manusia itu sama ada baik atau jahat semuanya terbit atau berpunca daripada usaha dan ikhtiar manusia itu sendiri dan sedikitpun tiada bersangkut-paut dengan kuasa Allah SWT.
b.  Iktiqad Jabariah :
Perkataan Jabariah itu nisbah kepada Jabar ( Tergagah ) dan maksudnya orang yang beriktiqad manusia dan makhluk bergantung kepada qadak dan qadar Allah semata-mata ( tiada usaha dan ikhtiar atau boleh memilih samasekali ).
c. Iktiqad Ahli Sunnah Wal – Jamaah :
Perkataan Ahli Sunnah Wal Jamaahialah orang yang mengikut perjalanan Nabi dan perjalanan orang-orang Islam Yaitu beriktiqad bahwa hamba itu tidak digagahi semata-mata dan tidak memberi bekas segala perbuatan yang disengajanya, tetapi ada perbuatan yang di sengaja pada zahir itu yang dikatakan usaha dan ikhtiar yang tiada memberi bekas sebenarnya sengaja hamba itu daripada Allah Ta;ala jua. Maka pada segala makhluk ada usaha dan ikhtiar pada zahir dan tergagah pada batin dan ikhtiar serta usaha hamba adalah tempat pergantungan taklif ( hukum ) ke atasnya dengan suruhan dan tegahan ( ada pahala dan dosa ).

8. Iradah : Artinya : Menghendaki Allah Ta’ala.
Maksudnya menentukan segala mumkin ttg adanya atau tiadanya. Sebenarnya adalah sifat yang qadim lagi azali thabit berdiri pada Zat Allah Ta’ala yang menentukan segala perkara yang harus atau setengah yang harus atas mumkin . Maka Allah Ta’ala yang selayaknya menghendaki tiap-tiap sesuatu apa yang diperbuatnya. Umat Islam beriktiqad akan segala hal yang telah berlaku dan yang akan berlaku adalah dengan mendapat ketentuan daripada Allah Ta’ala tentang rezeki , umur , baik , jahat , kaya , miskin dan sebagainya serta wajib pula beriktiqad manusia ada mempunyai nasib ( bagian ) di dalam dunia ini sebagaimana firman Allah SWT. yang insyaallah kurang lebih artinya : 
” Janganlah kamu lupakan nasib ( bagian ) kamudi dalam dunia ” . (Surah Al – Qasash : Ayat 77). Kesimpulannya ialah umat Islam mestilah bersungguh-sungguh untuk kemajuan di dunia dan akhirat di mana menjunjung titah perintah Allah Ta’aladan menjauhi akan segala larangan dan tegahannyadan bermohon dan berserah kepada Allah SWT.

9. ‘Ilmu :  Artinya : Mengetahui Allah Ta’ala .
Maksudnya nyata dan terang meliputi tiap-tiap sesuatu sama ada yangMaujud (ada) atau yang Ma’adum ( tiada ). Hakikatnya ialah satu sifat yang tetap ada ( thabit ) qadim lagi azali berdiri pada zat Allah Ta’ala. Allah Ta’ala Maha Mengetahui akan segala sesuatu sama ada perkara. Itu tersembunyi atau rahasia dan juga yang terang dan nyata. Maka ’ilmu Allah Ta’ala Maha Luas meliputi tiap-tiap sesuatu diAlam yang fana’ ini.

10. Hayat . Artinya : Hidup Allah Ta’ala.
Hakikatnya ialah satu sifat yang tetap qadim lagi azali berdiri pada zat Allah Ta’ala . Segala sifat yang ada berdiri pada zat daripada sifat Idrak ( pendapat ) Yaitu : sifat qudrat, iradat , Ilmu , Sama’ Bashar dan Kalam.

11. Sama’ : Artinya : Mendengar Allah Ta’ala.
Hakikatnya ialah sifat yang tetap ada yang qadim lagi azali berdiri pada Zat Allah Ta’ala. Yaitu dengan terang dan nyata pada tiap-tiap yang maujud sama ada yang maujud itu qadim seperti ia mendengar kalamnya atau yang ada itu harus sama ada atau telah ada atau yang akan diadakan. Tiada terhijab (terdinding ) seperti dengan sebab jauh , bising , bersuara , tidak bersuara dan sebagainya. Allah Ta’ala Maha Mendengar akan segala yang terang dan yang tersembunyi. Sebagaimana firman Allah Ta’ala yang insyaallah kurang lebih artinya :
” Dan ingatlah Allah sentiasa Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui “.( Surah An-Nisa’a – Ayat 148 )

12. Bashar : Artinya : Melihat Allah Ta’ala .
Hakikatnya ialah satu sifat yang tetap ada yang qadim lagi azali berdiri pada zat Allah Ta’ala. Allah Ta’ala wajib bersifat Maha Melihat sama ada yang dapat dilihat oleh manusia atau tidak, jauh atau dekat , terang atau gelap , zahir atau tersembunyi dan sebagainya. Firman Allah Ta’ala yang insyaallah kurang lebih artinya: "Dan Allah Maha Melihat akan segala yang mereka kerjakan “. ( Surah Ali Imran – Ayat 163 )

13 .Kalam : Artinya : Berkata-kata Allah Ta’ala.
Hakikatnya ialah satu sifat yang tetap ada , yang qadim lagi azali , berdiri pada zat Allah Ta’ala. Menunjukkan apa yang diketahui oleh ilmu daripada yang wajib, maka ia menunjukkan atas yang wajib sebagaimana firman Allah Ta’ala yang bermaksud : ” Aku Allah , tiada tuhan melainkan Aku ………”. ( Surah Taha – Ayat 14 ) Dan daripada yang mustahil sebagaimana firman Allah Ta’ala yang bermaksud : ” ……..( kata orang Nasrani ) bahwasanya Allah Ta’ala yang ketiga daripada tiga……….”. (Surah Al-Mai’dah – Ayat 73). Dan daripada yang harus sebagaimana firman Allah Ta’ala ang insyaallah kurang lebih artinya: ” Padahal Allah yang mencipta kamu dan benda-benda yang kamu perbuat itu”. (Surah Ash. Shaffaat – Ayat 96). Kalam Allah Ta’ala itu satu sifat jua tiada berbilang. Tetapi ia berbagai-bagai jika dipandang dari perkara yang dikatakan Yaitu :
1.      Menunjuk kepada ‘amar ( perintah ) seperti tuntutan mendirikan solat dan lain-lain kefardhuan.
2.      Menunjuk kepada nahyu ( tegahan ) seperti tegahan mencuri dan lain-lain larangan.
3.      Menunjuk kepada khabar ( berita ) seperti kisah-kisah Firaundan lain-lain.
4.      Menunjuk kepada wa’ad ( janji baik ) seperti orang yang taat dan beramal soleh akan dapat balasan syurga dan lain-lain.
5.      Menunjuk kepada wa’ud ( janji balasan siksa ) seperti orang yang mendurhaka kepada ibu & bapak akan dibalas dengan azab siksa yang amat berat.

14. Kaunuhu Qadiran : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Berkuasa Mengadakan Dan Mentiadakan.
Hakikatnya Yaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Ta’ala, tiada ia maujud dan tiada ia ma’adum , Yaitu lain daripada sifat Qudrat.

15.Kaunuhu Muridan : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Menghendaki dan menentukan tiap-tiap sesuatu.
Hakikatnya Yaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Ta’ala , tiada ia maujud dan tiada ia ma’adum , Yaitu lain daripada sifat Iradat.

16.Kaunuhu ‘Aliman : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Mengetahui akan Tiap-tiap sesuatu.
Hakikatnya Yaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Ta’ala, tiada ia maujud dan tiada ia ma’adum , Yaitu lain daripada sifat ‚Ilmu.

17.Kaunuhu Hayyun : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Hidup.
Hakikatnya Yaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Ta’ala, tiada ia maujud dan tiada ia ma’adum , Yaitu lain daripada sifat Hayat.

18.Kaunuhu Sami’an : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Mendengar akan tiap-tiap yang Maujud.
Hakikatnya Yaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Ta’ala, tiada ia maujud dan tiada ia ma’adum, Yaitu lain daripada sifat Sama’.

19.Kaunuhu Bashiran : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Melihat akan tiap-tiap yang Maujudat ( Benda yang ada ).
Hakikatnya Yaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Ta’ala, tiada ia maujud dan tiada ia ma’adum , Yaitu lain daripada sifat Bashar.

20.Kaunuhu Mutakalliman : Artinya : Keadaan Allah Ta’ala Yang Berkata-kata.
Hakikatnya Yaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Ta’ala, tiada ia maujud dan tiada ia ma’adum , Yaitu lain daripada sifat Kalam.
.
.

SIFAT MUSTAHIL BAGI ALLAH S.W.T
Wajib atas tiap-tiap mukallaf mengetahui sifat-sifat yang mustahil bagi Allah yang menjadi lawan daripada dua puluh sifat yang wajib baginya. Maka dengan sebab itulah di nyatakan di sini sifat-sifat yang mustahil satu-persatu :
1.  ‘Adam berarti “tiada”
2.  Huduth berarti “baharu”
3.  Fana’ berarti “binasa”
4.  Mumathalatuhu Lilhawadith berarti “menyerupai makhluk”
5.  Qiyamuhu Bighayrih berarti “berdiri dengan yang lain”
6.  Ta’addud berarti “berbilang-bilang”
7.  ‘Ajz berarti “lemah”
8.  Karahah berarti “terpaksa”
9.  Jahlberarti “jahil/bodoh”
10.  Mawt berarti “mati”
11.  Samamberarti “tuli”
12.  ‘Umy berarti “buta”
13.  Bukm berarti “bisu”
14.  Kaunuhu ‘Ajizan berarti “keadaannya yang lemah”
15.  Kaunuhu Karihan berarti “keadaannya yang terpaksa”
16.  Kaunuhu Jahilan berarti “keadaannya yang jahil/bodoh”
17.  Kaunuhu Mayyitan berarti “keadaannya yang mati”
18.  Kaunuhu Asam berarti “keadaannya yang tuli”
19.  Kaunuhu A’ma berarti “keadaannya yang buta”
20.  Kaunuhu Abkam berarti “keadaannya yang bisu”
.
.
SIFAT HARUS BAGI ALLAH S.W.T
Adalah sifat yang harus pada hak Allah Ta’ala hanya satu saja Yaitu Harus bagi Allah mengadakan sesuatu atau tidak mengadakan sesuatu atau di sebut sebagai “mumkin” ( Fi’lu kulli Mumkinin Autarkuhu ). Mumkin  ialah sesuatu yang  harus ada dan tiada. Harus disini artinya boleh-boleh saja. Artinya boleh-boleh saja Allah SWT menciptakan sesuatu, yakni tidak ada paksaan dari sesuatu, karena Allah bersifat Qudrat dan Irodah. Dan boleh-boleh saja bagi Allah SWT meniadakan sesuatu.
.

ATTENTION :

“tafakkaru fi kholqillah, wa laa tafakkaru fi dzatillah” fikirkanlah tentang ciptaanNYA, jangan fikirkan ttg dzat/ entitas NYA.
=> kata “jangan” disini agar qt tidak terlalu larut dan berlebih2an, kemampuan manusia amat terbatas untuk memahami “wujud” TUHAN.

Bismillahirrahmaanirrahiim.
QS. albaqarah. 163, insyaallah kurang lebih artinya “dan Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Esa, tiada Tuhan selain Dia, yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”
QS. Asy Syura. 11, insyaallah kurang lebih artinya “Tiada suatu juga yang menyerupai-NYA, dan IA Maha Mendengar lagi Maha Melihat”
Sifat wajib bagi Tuhan ada 20 yg meliputi sifat jamal (keindahan) sifat jalal (kebesaran) dan sifat kamal (kesempurnaan). Ke-20 sifat ini ada dasarnya dalam Al-qur’an Al kariim. Adapun 99 nama agung Allah terdapat dlm hadits diriwayatkan dari sahabat nabi abi hurairah (kitab shahih tirmidzi juz XIII halaman 37-42).
intinya,,,
LAISA KA MITSLIHI SYAI’UN, tiada yang menyerupaiNYA suatu apapun juga.
Namun,,,
pada masa setelah wafatnya Baginda Rasulullah SAW, awal abad ke-2 H. muncullah faham2 yg ganjil2, dimana sy yakin faham2 tsb juga pernah menyusup di setiap agama sebelum Islam.
>>> Mu’tazilah : menganggap al-qur’an (firman Tuhan) itu makhluq, faham ini lebih mengedepankan logika n filsafat dlm memahami ayat. Faham inilah yg mungkin mnjd embrio dari apa yg qt kenal islam liberal.
>>> Mujasimah : faham yg menyerupakan Tuhan dng makhluq, ayat2 yg lafadznya “tangan tuhan” “kaki tuhan” “singgasana tuhan” “tuhan melihat dan mendengar” ditafsirkan secara literal shgg memunculkan anggapan bhw TUHAN wujudnya sprt makhluq yg qt kenal. Dan ini juga yg mungkin mnjd embrio bagi pemikiran islam literal.
Wallahu a’lam.

inspired :
Al-Qur'an Al Karim
http://orgawam.wordpress.com

8 comments :

  1. assalamualaikum...
    saudaraku,aku baca semua komenmu di web ngarayana.pastilah engkau jawab,"ilmu saya masih sedikit" jika aku minta engkau menulis artikel tentang hindu.tetapi ketahuilah,sedikit dan tidak sempurnyanya yang engkau bagi pada kami,,hanya bisa kami balas..."semoga allah menyempurnakan dan menambahnya bagimu".jika engkau sudah tulis artikel tnetang hindu tolong kirim email kalo uda,aku akan kunjungi blogmu.

    abuhanan2002@gmail.com

    wassalam..........

    ReplyDelete
  2. @ abu hanan

    Wa'alaikum salam warohmatullah...
    Alhamdulillah,,, makasih kunjungannya mas. Betul yg mas kira, ilmu sy masih sedikit. Pengetahuan ttg agama hindu ya sy dapat secara otodidak dari berkunjung di blog vedasastra dan web ngarayana (terutama ttg hare krishna). Lewat mereka qt dpt mengambil pelajaran bahwa agama yg diridhoi Tuhan pun akan menjadi semakin terdistorsi jika mencampur adukkan filosofi dng teks2 suci.
    Pada dasarnya saya semakin percaya bahwa semua agama2 di dunia PADA AWALNYA berasal dari SUMBER YANG SAMA, yang menjadikan berbeda hanyalah pendistorsian2 yang semakin menjauhkan manusia dari Tuhan, siapakah yg bertanggung jawab thd semua kesesatan ini ? tentu sebagai umat Islam qt percaya adanya Iblis dan bala tentaranya. Dng menyadari hal ini, sy sangat2 berharap qt sebagai umat muslim menyadari bahwa KITA TAK PUNYA HAK untuk menyalahkan mereka2 yang berbeda keyakinan dng qt. Kita sekedar menyampaikan, selanjutnya "hidayah" hanya milik Allah Subhanahu Tabaroka Wa Ta'ala.
    (eh... kok malah sy yang kasih nasehat seh, maap ya mas. he..he...)
    Soal artikel tsb, ok dah mas. insyaallah.

    Wassalamu'alaikum.

    ReplyDelete
  3. assalamu alaikum...
    dari abu hanan

    @samaranji
    sang pengembara telah menentukan arah
    telah bergerak
    menatap ke atas

    sang pengembara
    sedih,gembira
    sebatang kara
    menatap ke atas

    sang pengembara
    pedih,bahagia
    sebatang kara
    menatap ke atas

    sang pengembara
    terjatuh
    terkulai
    menatap ke atas

    sang pengembara
    tegar
    sabar
    menatap ke atas

    semoga allah menambahkan dan menyempurnakan ilmu serta imanmu,wahai saudaraku..

    wassalam

    ReplyDelete
  4. @ abu hanan
    amin..amin.. ya rabbal 'alamin
    sungguh indah rangkaian kata itu, makasih mas.

    ReplyDelete
  5. @ abu hanan
    untuk kesekian kali sy baca untaian kata itu di atas, sungguh bergetar ketika memahami makna dr "menatap ke Atas". Subhanallah...

    ReplyDelete
  6. Wihiw seru ya baca komen komen di postingan Mas Haris.
    Menurutku Tuhan tuh ya cuma satu. Mau nyebutnya apa yang terserah masing-masing. Pokoknya Tuhan ituuu yang jauhhhh lebih dari manusiaaa, mahaaa segalanyaaa, maha maha, maha semuanya, sampai pikiran manusia pun gak bisa menggapainya. Hmmm, mbuh lahhh...

    ReplyDelete
  7. izin di copas boleh ga yaaaa... pak ustadz

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silahkan,,, malah senang sy jika itu bisa bermanfa'at ;)
      Ustadz ? *gubrakkk!* bukan,,,bukaaaannn. :(

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...