Thursday, 10 February 2011

Al Qur'an Al Kariim : Baca, Analisa, Amalkan

Alhamdulillah segala puji bagi Allah Subhanahu Tabaroka Wa Ta'ala. Shoolawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan atas Baginda Rasulullah Muhammad SAW.
 
Al-Qur’an adalah wahyu Illahi, telah diturunkan kepada Nabi Shalallahu 'Alaihi Wa Alihi Wa Sallama sebagai penerang, petunjuk dan pedoman serta rahmat yang kekal abadi sampai hari akhir nanti sekaligus menjadi mu'jizat dan bukti kebenaran risalah Rasulullah SAW. Dimana ketika mu'jizat-mu'jizat sebelumnya sirna ditelan masa, musnah digilas perputaran roda zaman, terkubur bersama wafatnya para Rasul pembawanya, Tetapi Al-Qur’an  tetap tegak memancarkan nur Illahi ke seluruh persada bumi. Al-Qur’an  merupakan pusaka.


Akankah Sekedar Jadi Pajangan ?

Sementara itu didepan kita menari kehidupan modern dengan berbagai warna-warninya, maka apakah seharusnya yang kita perbuat sebagai umat yang mempunyai pedoman dalam kehidupan ini ? Akankah kita membiarkan Al-Qur’an menjadi hiasan dalam almari saja ? Tentu saja tidak ! Jika sudah mempunyai Al-Qur’an, hendaklah kita baca jangan hanya disimpan, karena ada sebagian orang yang menganggap Al-Qur’an  itu kitab suci, maka untuk menghormatinya adalah cukup dengan membungkusnya baik-baik dan disimpan di dalam almari lantas tidak pernah dibaca, dan baru dibaca jika ada tetangga yang meninggal, misalnya. Hal ini merupakan suatu sikap yang keliru, Al-Qur’an  itu hendaklah dibaca menurut kemampuan kita, bukan pula baru dibaca kalau sudah berkemampuan seperti Qori’ Internasional. Karena sesuai dengan firman Allah yang kurang lebih artinya :”Bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an..”(Q.S Al-Muzammil : 20).

Satu Muslim Satu Mushaf

Sudah lama Al-Qur’an  dicetak dan tersebar di masyarakat, tetapi kenyataan masih banyak diantara kita yang belum memilikinya setidak-tidaknya satu mushaf saja, syukur per anggota keluarga memiliki  satu mushaf. Sehingga diharapkan saat-saat tertentu dapat melakukan tadarus secara bersamaan dalam satu keluarga, sebagaimana dicontohkan Guru kita yang selalu istiqomah tadarus ba’da maghrib bersama keluarga. 


Hiasi Rumah Dengan Bacaan Al Qur'an

Membaca Al-Qur’an  itu sangat besar fadhilahnya, selain pahala bagi yang membaca dan orang yang mau mendengarkan, juga menenangkan jiwa, apalagi dalam kehidupan modern ini, penuh dengan kegelisahan dan membuat hati putus asa selalu, walau betapa beratnya keadaan yang dihadapi marilah kita biasakan dirumah kita membaca Al-Qur’an. Karena rumah yang selalu dihiasi dengan alunan suci Al-Qur’an akan terlihat bercahaya.

“Omah kang dipanggoni kanggo moco Al-Qur’an  iku katon  marang ahli langit koyo katone lintang-lintang marang ahli bumi (podo mungguh mencoronge)”.(Riwayat Baihaqi dari Aisyah RA).


Hafalkan, Satu Hari Satu Ayat.

Baik sekali jika awalnya bisa istiqomah membaca kemudian terbersit niat untuk menghapalnya, tentunya sesuai dengan kadar kemampuan yang dimiliki, dan waktu membacanya pun harus diperhatikan, yaitu cara menghormati kita terhadap Al-Qur’an  (adab membaca). Misalnya harus suci dari hadas, berpakaian yang rapi, ditempat yang bersih. Karena hal seperti itu sering tidak kita perhatikan, salah satu contoh posisi /sikap ketika membaca harus tahu menghadap ke arah mana, sehingga kita nanti bukannya mendapat barokah dari Al-Qur’an, tetapi justru kita mendapat laknat dari Al-Qur’an  … naudzu billah min dzalik ! Dan khusus bagi teman-teman yang tabarukan Tahafudhul Qur’an, marilah kita ingat pesan Abah Syeikh, ”Memang orang yang hafal Al-Qur’an  bisa memberikan syafaat pada 40 orang yang sudah ditetapkan masuk neraka, tetapi ingat, orang yang hafal Al-Qur’an-lah yang pertama kali akan masuk neraka, bila tidak bisa menjaganya.”  Sekali lagi, inilah metode Abah untuk bersikap proporsional, di satu sisi beliau memotivasi kita untuk menghafal Al Qur'an karena fadhilahnya, disisi lain beliau mengingatkan khufadz (para penghafal Al Qur'an) untuk berintrospeksi diri agar selalu menjaganya, menjaga hafalan, menjaga pengamalan.


Analisa, Amalkan

Tidak lengkap rasanya, apabila Al-Qur’an hanya dibaca saja, karena Al-Qur’an  perlu kita ketahui isinya, seayat demi seayat  ditelaah dengan baik. Kalau kita di Pondok Pesantren  Insya Allah, dengan cara selalu aktif mengikuti pengajian Abah khususnya pengajian tafsir ba’da subuh akan bisa mengerti kandungan isi Al-Qur’an. Itulah waktu terbaik yang dipilih Abah untuk mengaji Al-Qur’an, menerima ilmu Al-Qur’an  dimana pada pagi hari kita belum dipakai kegiatan macam-macam, tetapi pikiran kita langsung dimasuki ajaran dari Al-Qur’an. Padahal kita tahu bahwa sesuatu yang diawali dengan sesuatu yang baik seterusnya kita akan berpikir berdasar awal kita mulai, starting point sangat menentukan untuk langkah selanjutnya.

Sediakanlah waktu sejenak pada malam hari untuk menelaah, berpikir dan menghitung apa saja yang telah kita lakukan selama seharian, mencoba menghitung nikmat yang telah diberikan oleh Allah. Walaupun pada akhirnya kita tidak berhasil menghitung.

Tentunya kita pun pasti tak ingin jika hanya sebatas mampu membaca Al-Qur’an  yang indah gaya bahasanya itu bukan ? Ibarat penyelam, sewajarnya kitapun berminat menembus di kedalaman untuk mencari mutiara yang indah berharga di dasar samudra yang tidak ada batasnya. Kita berhasrat sekali untuk mengetahui kandungan Al-Qur’an  yang tersurat maupun tersirat. Yang dengan upaya seperti itu kaum muslimin pernah meraih kejayaan dan kegemilangan dalam sejarah mereka.

Sabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Alihi Wa Sallama : “Sebaik-baiknya orang diantara kamu adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an  dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari). Demikian Nabi SAW  menyifati seorang Muslim yang mau mendalami Al-Qur’an  dengan keseriusan sebagai manusia yang istimewa. Orang yang belajar dan mengajarkan dipandang sama-sama mulianya. Sewajarnya, sebab dengan usaha seperti itulah risalah suci Islam akan tetap lestari.

Mempelajari Al-Qur’an  dengan segala kesungguhan berarti kita telah mensyukuri salah satu nikmat Allah terbesar. Hanya karena kekerasan hati saja, manusia berani mengabaikan serta meminggirkan posisi Al-Qur’an  dalam pergulatan kehidupan. Nah, agar hal itu tidak sampai terjadi, jauh-jauh hari Rasululah SAW mengingatkan umatnya agar menyelami kitabullah menurut kadar kemampuan masing-masing dengan maksimal. Nabi SAW bersabda :”Sesungguhnya Al-Qur’an  ini adalah hidangan Allah, maka pelajarilah hidangan Allah tersebut dengan kemampuannya.” 

att : mohon maaf jika sumber dari beberapa hadits di atas belum saya konfirmasi kembali dengan menuliskan nama kitab dan teks arabnya, tidak lebih dikarenakan keterbatasan waktu.

Semoga bermanfa'at.

18 comments :

  1. Assalamu 'alaikum Wr. Wb.,

    Selamat siang Mas Samaranji. Ikut mendorong atas kiprah ini, sangat besar manfaatnya untuk semua penyimak. Terus memicu semangat ummat Islam dapat belajar seperti ini.
    Mohon ma'af atas segala halnya, dan terimakasih kebersamaannya selama ini, serta mencatumkan blog ana disini.
    Semoga Alloh SWT senantiasa mencurahkan keridloan-Nya, amien.

    Wassalamu 'alaikum Wr. Wb.,
    Salam dari Bandung

    ReplyDelete
  2. @ Ajengan Anom
    Wa'alaikum salam wr. wb.

    Alhamdulillah, suatu kehormatan panjenengan berkenan mampir di blog sy ini. Mohon arahan dan bimbingan untuk langkah selanjutnya.

    terimakasih do'anya, amien.

    ReplyDelete
  3. @samaranji
    assalamualaikum dulur ganteng,,,
    Jabal Nur=bukit/gunung cahaya
    Gua Hira=bhs indonesianya apa?

    ==
    selamat berintopeksi di hari kelahiran pemimpin alam,,,
    ===
    wassalam
    Abu Hanan

    ReplyDelete
  4. Numpang nampang dulu ah..

    ReplyDelete
  5. @ Mas Abu Hanan
    Wa'alaikumsalam warahmatullah,,,
    (iya mas, ada kesibukan saat peringatan maulid nabi kemaren2, jadi maaf baru bisa bales)

    Ga nyangka, mas mikir sampe segitu (terus terang sy ga pernah menelusuri makna "hira'" pada nama gua hira,,, he,,he,,,) Jadi makasaih banget pertanyaannya, waktu baca koment ini lewat ponsel langsung kutanyakan pd senior.

    Menurut beliau, hira sendiri tak punya arti apa2, ada kemungkinan غار حراء (gua hira) berasal dari arti kata hurrun (merdeka). Kata yg bermakna sama dng merdeka adalah tholiiqun (akar dari istiqlal : kemerdekaan)

    حر : hurrun >>> merdeka (secara jiwa, mental - spritual)
    طليق : tholiiqun >>> merdeka (secara fisik)

    Setelah sy chek disini [ http://kamus.javakedaton.com/arab-indonesia.php?submit=%D8%A8%D8%AD%D8%AB&s=%D8%AD%D8%B1%D8%A7%D8%A1 ] ternyata benar. Tapi sy lebih percaya dng Kang Yusuf (ustadz nahwu shorof saya)itu. Mas Abu Hanan juga bisa bertanya dng Ustadz muda dari bandung di atas, Ajengan Iqbal. Sungguh indah menambah saudara dalam Iman.
    =====================


    @ Bang Iwan (Fals?)
    Silahkan,,, tapi inget loh, setahu sy yg pd maen ke sini cowok semua bang. gimana ?
    Blognya mana bang ? share dunk, semoga aja memberi kemanfaatan pd kita2.

    ReplyDelete
  6. waalaikumsalam
    begini mas,kita sama2 tahu dan paham jika Rasulullah saw menyukai hal2 baik termasuk nama.
    Jika jabal nur= cahaya dan hira=merdeka,kesimpulan saya ;
    nama2 tempat beliau bertafakur harus menjadi ilham bagi kita untuk merdeka(bebas) dari nafsu/keinginan/syahwat yang mengajak keburukan untuk mencapai cahaya/ridlo Allah.Begitulah,,,alhamdulillah matur nuwun atas info berharga dan benar2 terbukti nyata bahwa tidak ada yang sia2 dari perbuatan2 beliau saw semasa hidup baik sebelum maupun sesudah jadi utusan.
    wassalam
    Abu Hanan

    ReplyDelete
  7. Asslamulaikum....truskan perjuangan dakwah di dunia maya...aku sneng bgt dgn blog ini......

    ReplyDelete
  8. Hafalkan dan amalkan ayat poligami.

    ReplyDelete
  9. @Kang Samaranji
    ada tafsir Al Quran yang aneh disini http://qnolednad.blogspot.com/2011/01/tafsir-alquran-dengan-disiplin-ilmu_17.html

    ReplyDelete
  10. ===================
    All :....
    Wa'alaikum salam warahmatullah,,, duh maap banget, hampir sebulan nih ga ngeblog, dholim saya, jadi menelantarkan "para tamu", sekali lagi maaf...

    ===================

    @ Mas Abu Hanan
    Salut mas, saya akan mengiringi do'a agar qt senantiasa istiqomah dalam jalan yang lurus yang diridhoi Allah Subhanahu Wa Ta'ala, amin.
    .
    .
    .
    @ Mas Anonim (19 pebruari)
    Apakah sampeyan yang bernick name mas "ibnu kautsar" yang memfolowup blog sy, yang ada fotonya sampeyan di samping itu yah ??? Makasih suportnya, jangan lupa saling mengingatkan dan mendo'akan ya mas,,, thank's.
    .
    .
    .
    @ Anonim (22 pebruari)
    Om Jell ya ??? Poligami ?, om pingin berpoligami ? memeluk islam aja om, tapi inget loh, syarat dan ketentuan berlaku. He,,he,,

    ReplyDelete
  11. @ Mas Qarrobin

    Tafsiran kek gitu, menurut sy sih paham "wahdatul wujud" yg dikemas dalam bahasa scintific modern. Sedangkan paham "wahdatul wujud" (menurut sy sih) sudah ada sejak lama, ajaran ini pula yang mungkin mempengaruhi hindu (india) budha (china) zoroaster (persia) kabbalah (mesopotamia n babilonia) helenis (yunani). Bagi "penempuh"nya bisa dianggap "tuhan" oleh penganutnya.

    Dalam sufistik juga ada kok istilah "aqal 1" yang menjadi sumber segala sumber penciptaan hingga memanifestasikan diri jadi "aqal 2 ke 3 dst" sehingga terciptalah apa yg kita sebut sekarang dengan "dunia materi".

    Ada bagian yang tidak saya sependapat dngnnya, Allah = Aqal (???). Bukankah aqal sendiri makhluq-Nya ???. Ini akan ada benang merah dng ajaran kristen ttg roh manusia beriman = roh Tuhan, dan dalam hindu atman manusia merupakan bagian dari atman Tuhan.

    Mungkin link berikut bisa dijadikan bahan pertimbangan bhw mungkin sumber idenya berasal dari sini [ http://islamfactor.org/index.php?showtopic=3902&st=20 ]

    Apapun itu, sy akan tetap terbuka untuk mengetahuinya, namun dengan tetap berpegang pada LAA ILAHA ILLALLAH MUHAMMADU RASULULLAH. Semoga sains islam mampu menciptakan karya bagi kemaslahatan bangsa Indonesia.

    ReplyDelete
  12. assalamualaikum
    @samaranji
    lagi bulan madu nih?acara nulisnya jadi lupa hehehe,,,,,
    tiap ke sini kok masih sepi,tiba2 DUER...
    eeee mantene teko,,,,
    eeee sandale ilang,,
    eeee kok nemu arang,,
    eeee tulis ae sayang,,
    salam ukhuwah
    Abu Hanan (Abdullah)

    ReplyDelete
  13. @ Mas Abu Hanan

    Wa'alaikumsalam warahmatullah,,,
    Belum mas,,,

    Nyang tiba2 "duerr" keknya malah jenengan, tiba2 artikelnya bejibun tuh, sy jadi telat menyimak neh... (maaf kemaren2 belum sempat silaturrahmi ya)

    ReplyDelete
  14. @Mas Samaranji,

    oh iya saya baru ingat tentang Akal Pertama dan Nafs setiap sesuatu, sepertinya memang pemahaman blog tersebut adalah wahdatul wujud.

    Saya juga tidak sepakat dengannya, menurut saya Aqal ini adalah makhluq, mungkin berupa ikatan hologram dari kesadaran setiap ruwh ketika bersaksi sebelum lahir ke dunyaa. Ruwh juga makhluq yang diciptakan oleh Allah.

    Blog tersebut menyatakan bahwa Akal merupakan wujud Allah yang dilepaskanNya, sehingga Allah menjadi Ghaib, anehnya Allah menjadi Thermonuklir, berarti memiliki wujud seperti matahari atau quasar (white hole).

    Kemaren banyak kerjaan lembur, jadi ga sempat bikin artikel, pertanyaan mas Irish udah saya jawab http://qarrobin.wordpress.com/2011/03/11/cottingley-fairies/#comment-1888

    Terima kasih udah bertanya

    ReplyDelete
  15. oh iya disini keterangan tentang imajiner
    http://qarrobin.wordpress.com/2010/11/24/gravitasi-dan-elektromagnetik/#comment-1902
    hal yang sama seperti yang juga pernah ditanyakan oleh Kang Kaisnet dan Abu Hanan

    ReplyDelete
  16. Kalau mengambil tafsir dari hadits untuk disamakan dengan tafsir ini, pasti tidak akan sama. Sebab dasar pijakkannya berbeda. Kalau menafsirkan dengan pola qisos Rosul Muhammad (petunjuk Qur’an), setiap ayat yang ditafsirkan, ayat sebelumnya akan memberi petunjuk pada ayat selanjutnya dan sebaliknya.
    1. Wujud Masjid Aqsha yang disebutkan hadits memang belum ada waktu itu, tentang mi’raj yang
    berhubungan dengan perjalanan Rosul Muhammad belum saya temukan dalam Al-Qur’an.
    2. Maksud dari memperjalankan dari masjidil Harom ke Masjidil Aqsho adalah perjalanan dari alam
    akal suci ke alam pemimpin (alam malaikat).
    3. Raka’at solat ada di surat An-Nisa 11-12. Pemahaman saya dari tafsir permukaan, ayat 102
    menerangkan tentang menegakan hukum di tempat orang lain (daerah lain/bukan di daerah tempat
    tinggal kita). Coba Anda baca ayat sebelumnya,di situ tidak membicarakan orang sedang berperang
    seperti yang diterangkan hadits (tafsir An-Nisa 102 belum saya abaca).

    Tentang Qarrobin.wordpress.com insyaAlloh akan saya kunjungi.

    Mari kita sama-sama menegakkan Hukum Alloh dan berbuat kebajikan.
    Salam,

    ReplyDelete
  17. Terima kasih atas komentarnya,

    Sebaiknya Anda membaca dari awal (tafsir Al-Fatihah).
    Pemahaman saya, Akal = Alloh ≠ Tuhan (Hukum); akal = bangsa akal = makhluk (pemroses prilaku perbuatan, pembangun jasad, pengendali, penghubung kepada Alloh yang ada pada manusia, dan makhluk lainnya, dalam Qur’an disebut tali Alloh = katalisator).
    Sebelum alamsemesta ada, Alloh hadir paripurna dengan kelengkapan Akal (negaatif) - Rasa (nol) - Jasad (positif), 3-dimensi dengan dasar 10. Dari 10, separuhnya atau 5 dibuang dijadikan bahan. 2/5 jadi tenaga tambahan yang dibawa oleh zathidup (bangsa akal), sedangkan yang 3/5 adalah bahan. Alamsemesta dan segala isinya termasuk manusia adalah ½ dari diri Alloh yang sudah dibuang, tetapi dengan adanya katalisator (zathidup) sebagai pembawa tenaga tambahan, segala yang ada dalam alamsemesta tidak lepas dari pengawasan Alloh.
    Alloh wujud = hadir, tetapi gaib. Alamsemesta ≠ wujud Alloh.

    Di awal penciptaan Alloh membangun (menciptakan) Hukum (Tuhan). Hukum Akal (Tuhan Alloh) adalah moral pengasih penyayang terus menerus mengalirkan zathidup pembawa tenaga tambahan berupa zarah gaung qurk (rasa = bahan jasad makhluk) dari pusat alam (termonuklir raksasa) yang oleh Rosul Ibrohim disebut sebagai Rumah Alloh. Dengan kata lain, Sinar Alloh = termonuklir raksasa = cermin CPT = titik p pada ruang P3 (aksioma Hausdorff) = mesin kerja alam = Rumah Alloh = Tuhan Alloh ≠ Alloh (tidak sama dengan Alloh).

    Sementara quark sebagai zarah rasa (bahan jasad makhluk) adalah zarah kosmis (sinar kosmis) yang mengisi ruang alam Fana, alam Syurga dan permukaan alam Ruh. Zarah kosmis ini, menurut perhitungan para ilmuwan yang turun ke Bumi sebanyak 40 butir setiap m²/detiknya.

    Hukum Akal yang oleh Rosul Muhammad dirumuskan dalam pola qisos disiplin ilmu (hukum sebab akibat - hukum kekekalan massa dan tenaga - hukum keseimbangan). Sedangkan hukum yang mengendalikan di hari kiamat adalah sekat-sekat ruang/sekat-sekat dimensi atau cermin-cermin (C – CP – T - P sebagai saksi) diciptakan Alloh dan dibangun oleh perlambatan pusingan akibat hambatan gaya-gaya vektor. Contohnya : Cermin CPT dihambat oleh medan nuklirkuat sampai ke cermin P, Cermin P dihambat oleh medan listrik lemah sampai ke cermin T. Cermin T dihambat oleh medan nuklirlemah sampai ke cermin CP, cermin CP dihambat oleh medan elektromagnet sampai cermin C, hambatan medan gravitasi.

    Karena Hukum merupakan sekat-sekat ruang yang tidak bisa disuap dengan apapun, termasuk dengan uang penebus dosa, penyembahan dan lainnya. Yang harus kita fahami adalah karakter hukum itu. Dan Rosul Muhammad telah memberitakannya dalam Qur’an bahwa Alloh pengasih-penyayang. Di hari pengadilan moral (kiamat), orang-orang yang menganut Hukum Akal (melaksanakan amanah-amanah Alloh), akan mampu menembus cermin-cermin tersebut dan akan dilontarkan ke jalur Ridwan. Sebaliknya orang-orang yang menganut Hukum Rasa (syahwat-angkara-pamrih-ambisi) tidak akan mampu menembusnya (berada di permukaan), dan akan dilontarkan ke jalur Malik.

    Coba baca lagi, pelajari dengan fikiran jernih, jika belum jelas
    Baca lagi, teliti, cermati, dan renugkan, lalu
    Baca lagi, Insya Alloh Anda akan memahami maksudnya.
    Dan kesimpulan Anda akan berbeda dengan pemahaman sebelumnya.

    Mari kita sama-sama menegakkan Hukum Alloh dan berbuat kebajikan.
    Salam,

    ReplyDelete
  18. @ Jamhari
    Terimakasih,,,

    Insyaallah sudah saya baca lagi, sy coba lebih teliti, sy coba lebih cermat, sy coba renungkan.... Tapi maaf, sy masih awam dng istilah2 tsb.

    Apakah cermin CPT identik dng imajiner ?

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...