Saturday, 16 July 2011

Menghormati Sya’ban, Tanpa berlebih-lebihan

Alhamdulillah segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga senantiasa terlimpah atas Baginda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalama.

Pada zaman tabi’in, menghormati dan mengagungkan bulan Sya’ban sudah merupakan tradisi dalam peningkatan ibadah. Namun dalam perkembangan sesudah generasi berikutnya, penghormatan yang seharusnya direfleksikan dengan cara menambah kesungguhan dalam beribadah bergeser menjadi pengagungan yang sifatnya “dhohiriyah” saja. Hal inilah yang menjadi khilafiyah (perbedaan pendapat ) para ‘Ulama dalam menyikapi penghormatan pada bulan Sya’ban




Dalam hal mengormati bulan Sya’ban, para Tabi’in di negara Syam, seperti Kholid bin Ma’dan, Mak-hul, Luqman bin Amr, Ibrohim Rahimahullahu semuanya mengagungkan dan memuliakan bulan Sya’ban khususnya nisfu Sya’ban dengan cara bersungguh-sungguh dalam beribadah.

Tradisi menghormati bulan Sya’ban berjalan secara turun temurun dan dilestarikan oleh generasi sesudah para tabi’in tersebut. Namun sayang bila di kemudian hari – seiring semakin jauhnya jarak dimensi waktu dari para tabi’in – tradisi tersebut mengalami distorsi/pergeseran. Menghormati dan mengagungkan bulan Sya’ban yang seharusnya direfleksikan dengan menambah kesungguhan dalam beribadah pada Allah Azza Wa Jalla bergeser pada penghormatan yang sifatnya secara dhohiiriyah (fisik) saja.

Khilafiyah Para ‘Ulama

Tak mengherankan bila pada masa berikutnya para ‘Ulama ikhtilaf/berbeda pendapat secara teknis dalam hal mengagungkan bulan Sya’ban. Sebagian ‘Ulama ada yang merekomendasi keutamaannya menghormati Sya’ban, namun ada juga ‘Ulama yang melarang hal tersebut. Ulama’ yang melarang tersebut kebanyakan ‘Ulama dari negara Hijaz, melalui fatwa : “Mengagungkan Nisfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban) adalah bid’ah” .

Namun sayang bila di kemudian hari – seiring semakin jauhnya jarak dimensi waktu dari para tabi’in – tradisi tersebut mengalami distorsi / pergeseran. Seorang Mu’min seharusnya tatkala malam Sya’ban datang menyambutnya dengan sholat malam, membaca Al-Qur’an dan berdzikir pada Tuhan Penguasa Alam.

Berkumpul di Masjid tatkala malam Nisfu Sya’ban, dan melaksanakan sholat sunah dengan berjama’ah merupakan suatu kemakruhan. Bahkan menurut Imam ‘Auza_I yang merupakan seorang Imam di negara Syam dan masyhur ke’aliman serta ahli fiqh, sholat nisfu Sya’ban termasuk perbuatan makruh. Dimakruhkan pula menghormati Sya’ban dengan cara menghiasi Masjid, sebagi misal menyalakan semua lampu Masjid dengan maksud agar lebih semarak dan gemerlap. Sebab menyalakan lampu di Masjid Jami’ lebih-lebih pada bulan Sya’ban tidak diperbolehkan (sebgaimana disebutkan dalam Kitab “Kinayah”).

Begitu juga termasuk bid’ah bila menghormati Sya’ban – namun sebatas penghormatan ceremonial, tanpa adanya ruh kecintaan – sebagai misal menghiasi jalan, pasar dan tempat-tempat umum lainnya dengan gemerlapnya lampu-lampu yang beraneka ragam.

Tabdzir (menyia-nyiakan harta)

Bahkan dikatakan bila seseorang menyalakan lampu di Masjid, maka ia mempunyai kewajiban untuk mengganti biaya operasional lampu tersebut. Bila ada orang yang mewaqafkan “kemanfaatan” lampu dengan maksud untuk menghormati bulan Sya’ban, maka perbuatan itu tidak tergolong waqaf dalam arti syar’i. Sedangkan apabila biaya operasional dari lampu bukan merupakan harta waqaf sehingga dalam menyalakan lampu diniyatkan hanya karena Allah Subhanahu Tabaroka Wa Ta'ala, maka perbuatan tersebut termasuk tabdzir (menyia-nyiakan harta). Padahal menyia-nyiakan harta diharamkan, karena Rosulullah SAW melarang untuk menyia-nyiakan harta.

Attention :
Dan apabila menyalakan lampu tersebut dimaksudkan sebagai sarana bertaqorub pada Allah Subhanahu Tabaroka Wa Ta'ala, maka hal itu tergolong bid’ah besar, perbuatan terkotor dari yang paling kotor.

Disebutkan pula, sholat sunnah yang dilakukan secara berjama’aah di bulan Sya’ban termasuk bid’ah yang keji, yang wajib disingkiri dan dihindari. Sebab ‘Ulama Fiqh sudah iltifat mengenai kemakruhan melaksanakan sholat sunnah secara berjama’ah kecuali pada sholat tarawih (sholat malam di bulan Romadhon), sholat istisqo’(sholat memohon datangnya hujan), sholat kusuf (sholat tatkala gerhana matahari) dan sholat husyuf (sholat disaat gerhana bulan).

Inspired : Catatan kecil dari mengaji Majlis Kitab "Durrotun Nasihin"
Btw, yang perlu disadari Kitab tsb masih banyak hadits dho'if dan kisah2 'israiliyat, perlu kehati-hatian untuk mengambil mana yang sesuai dng ddien Islam dan bermanfa'at.

Selamat Menjaring Pahala Dengan Menghidupkan Malam Nisfu Sya'ban, kawan....

2 comments :

  1. Cuma kitab itu yang prnah dbaca???

    ReplyDelete
  2. @ Anonim
    Salam kenal, kawan...

    ***Cuma kitab itu yang prnah dbaca???***
    >>> cuman itu doank komentarnya ???

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...