Jumat, 16 September 2011

Andakah Mantan Kyai (Preman, Donk !!!) NU, Itu ?

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sholawat serta salam senantiasa kita haturkan atas Rasulullah Muhammad SAW.

Andakah
Mantan Kyai (Preman Donk !) NU Itu ???
Ada keengganan tersendiri dalam membuat postingan ini karena, hal ini sangat sangat berpotensi pada perpecahan (bukan lagi perbedaan). Apalagi bagi kami para generasi naruto yang sedang tertatih tatih mencari apa itu islam di belantara virtual, adalah ketololan dan kecerobohan ketika kita mencukupkan diri mencari Islam dari dunia (instan) internet saja, tanpa usaha untuk mengaji pada seorang 'Ulama di dunia nyata untuk mengajarkan kita ilmu yang nafi' fiddin waddunya wal akhiroh, yang mengajarkan kita dari alif-ba-ta hingga 'ulumul qur'an; dari masalah thoharoh hingga arkanu-sholah, shoum romadhon, zakat, hajji; dari ilmu hisab yang sekedar wa(+) illa(-) fii(x) min(:) yusawi(=) sampai ilmu hisab yang menyentuh faro'id dan falakkiyah. Di dunia nyata aja banyak koq kafirun manafiqun yang menyusup, apalagi di dunia maya.


Berawal dari ingatan saya pada kata-kata seseorang yang sudah saya anggap guru, ayah, kakak, dan sahabat dimana beliau pernah menulis gini :

====================================================================
Rekan-rekan muslimin wal muslimat,… kita semua tahu bahwa kaum munafikun bagaikan srigala berbulu domba mereka menyusup dalam segala sendi kehidupan yang bernuansa Islam. Secara garis besar penyusupan itu dibagi dalam 2 bagian yaitu penyusupan lewat syariah dan melalui aqidah sedangkan jalan yang ditempuhnya biasanya melalui celah sempit friksi antar golongan (baca: wadah /kelompok,) ada yang pura-pura jadi Islam Suni, Salafus Saleh, Syi’ah, Wahabi, NU, Muhammadiyah, Ahmadiyah, Persis, Tasawuf, Sufistik… dll.
=============================================================

Subhanallah,,, Alhamdulillah,,, dari sini saya semakin mantab bahwa Islamis Islam, tak ada Islam Sunni, tak ada Islam Syi'ah, tak ada Islam Wahhaby tak ada Islam Sufy, Tak ada Islam Salafy, yang ada hanya Islam.

Melalui postingan ini saya hanya ingin konfirmasi dari beberapa pihak yang terkait, sebenarnya ini berita basi (karena sifatnya berita, tentu saja waktu itu saya ga mau percaya gitu aja dunk). Dari Kang Org Awam malah saya dapatkan profilnya seperti ini,  
Koq disembah ?
Mana Imamnya ?

Ketika berkunjung ke Ustadz PA (salut kepada beliau yang tak lelah mengingatkan para praktisi metafisik yang menjurus perbuatan syirik), yang salah satu postingan membahas tentang beliau Ustadz Mahrus Ali yang "katanya" mantan kyai (baca : preman) NU. Loh koq preman ??? kan katanya mantan kyai, kalo mantan preman kan biasanya jadi kiai, truss kalo mantan kiai jadinya preman atau dukun dunk.

Berita2 seputar Ustadz Mahrus Ali membuat saya ingin mengkonfirmasi langsung kepada beliaunya, apakah benar beliau pemilik blog  .:: Mantan Kyai NU ::. adalah sebagaimana poto di atas ? dan lewat postingan ini saya hanya ingin tabayyun untuk menghindari fitnah aja.

Sekedar catatan, setahu saya tak ada seorang Kyai yang mengklaim dirinya sendiri sebagai Kyai. Biasanya panggilan tersebut berasal dari masyarakat. Jikapun anda merasa pernah menjadi Kyai NU tentu anda dapat menjawab pertanyaan2 yang biasa diterima oleh santri NU sebagai berikut : 


Pertama

Silahkan klik untuk memperbesar



Dalam Kitab Aqidatul Awwam kita bisa mengetahui tentang 20 sifat wajib dan sifat muhal bagi Allah Ta'ala, sifat wajib bagi Nabi dan Rasulullah, nama 10 Malaikat, nama 25 Nabi yang wajib diketahui, hingga nama2 Istri dan putra-putri Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Kitab ini disusun dalam bentuk nadhoman. Berikut saya kutip 4 nadhom pertama sebagai muqoddimah, dan mohon dilanjutkan nadhoman selanjutnya....

1. Abda-u bismillahi warrohmaani   ::&::  Wabirrohiimi Da-imil ihsaani
2. Falhamdulillahi qodiimil awwali  ::&::  Al Akhiril baqii bilaa tahawwuli
3. Tsummash sholatu wassalamu sarmada  ::&::  'Alan nabiyyil khoiri man qod wahhada
4. Wa alihii wa sohbihi wa man tabi'  ::&::  sabiila diinil haqqi ghoiro mubtadi'
5. ................... ?
6. ................... ?




Kedua


Silahkan klik untuk memperbesar
Dalam Kitab Alala, kita dapat mempelajari adab seorang santri/tholab/ pencari 'ilmu. Sebagai mantan kyai NU anda musti hafal dunk ketika dwulu pernah ngajari santrinya. Mohon beritahu kami 6 syarat bagi pencari 'ilmu sesuai "term" dalam kitab ini. berikut saya scan  nadhomannya yang menerangkan hal tersebut.



Ketiga
Jika anda mantan kyai NU, tentu udah gledhekan (mahir) nahwu shorof sebagai penunjang untuk mempelajari tafsir Al Qur'an. Tentu juga mengenal kitab Amtsilatu Tashrif, kan ?. Selanjutnya, bisa nggak sih anda men-tashrif kalimah "salima". Baik secara tashrif istilahiy maupun secara tashrif lughowi. Kalo pada kalimah "salima" dirasa terlalu sulit tashrif-kan aja kalimah "dhoroba". Okey ?






Keempat
Silahkan klik untuk memperbesar
Pada kitab Hidayatul Mustafid (Kitab tentang  tajwid dengan metode tanya jawab), ada sebuah fasal yang menerangkan hukum dalam membaca isti'adzah (ta'awudz) dan basmalah (bismillah). Berikut saya scan halaman pada fasal tersebut. Mohon terangkan pada saya khususnya maksud dari soal dan jawab tersebut....

 





 Kelima

Silahkan klik untuk memperbesar
Pada kitab Syifa-ul Jinan (Kitab tentang tajwid dengan metode nadhoman), ada bab yang menerangkan mengenai hukum lam ta'rif dan lam fi'il, mohon penjelasannya. Berikut saya scan  halaman yang menerangkan bab tersebut untuk mempermudah penjelasan...



 





Keenam
Sebagai orang yang merasa pernah jadi mantan kyai NU tentu ketika sholat shubuh anda terbiasa dengan do'a qunut. Dalam kitab fathul mu'in, posisi tangan & telapak tangan yang benar ketika melakukan do'a qunut dikenal dengan istilah "mankibaih" (posisi tangan dalam berdo'a inilah yang membedakan kita ummat Islam dengan umat lainnya, jika ummat kristen-katholik menganyam jari2 tangan didepan hidung, ummat hindu-budha menyatukan kedua telapak tangan di depan hidung). Mohon dijelaskan apa yang dimaksud "mankibaih" tersebut ?

Ketujuh
Sebagai seorang muslimin Indonesia, harusnya anda bisa membedakan antara hisab (menghitung) dengan hisap (menyedot). Mengapa dalam postingan anda, anda menulis "hisap" sementara artikel yang anda copas jelas2 menuliskan dengan "hisab"







Jawaban anda sangat2 menjadi pertimbangan saya apakah anda benar2 pernah menjadi kyai NU ; pernah jadi santri NU ; atau hanya terkena penyakit asma (asal mangap) doank.

Terlepas dari itu, sangat saya hargai usaha anda untuk mengkritisi dalam segala hal. Namun perlu anda sadari bahwa kebohongan adalah awal kemunafiqkan, kesombongan awal dari kemusyrikkan. Jadi mohon jangan berbohong dalam menda'wahkan Islam, dan jangan sombong untuk mengakui sebuah kesalahan.


▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
Sangat disayangkan, jika beliau Kyai Mahrus Ali (eh udah mantan ding...)
tidak merespon maupun mengklarifikasi setelah saya "mengetuk pintu" blognya.
Maka dengan ini saya berani menyatakan bahwa pemilik blog "Mantan Kyai NU"
hanyalah salah satu domba berbaju serigala (sok ngeluarin taring tapi melempem)
kafirun munafiqkun yang mencoba menipu ummat Islam yang masih dalam pencarian.
Kurang lebihnya mohon maaf. 
Semoga kita senantiasa mendapat taufiq dan hidayah Allah Ta'ala.
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬

Semoga bermanfa'at

28 komentar :

  1. hisab=hisap?
    kok jadi ingat...
    salib=salip..

    smg samaranji sehat selalu

    BalasHapus
  2. @Kang Abu hanan
    :)
    mungkin salah satu Lahnul Jaali

    BalasHapus
  3. lahnul jaali?
    mari berbagi arti..karena saya tidak mengetahui istilah tsb.
    waalaykum salam

    BalasHapus
  4. @ Kang Abuhanan

    Udah saya posting koKlik Disini
    q,

    Intinya, kesalahan penulisan bisa merubah makna. Contohnya :

    Fajri : waktu fajar
    Farji : kemaluan wanita
    Dzikir : mengingat
    Dzakar : kemaluan laki2
    Isrob : Minum
    Isrof : berlebih2an
    etc.....

    Salam ukhuwah

    BalasHapus
  5. Wah menarik tuh.
    Mau klik linknya tapi serem, besok pagi aja deh. :D

    BalasHapus
  6. @ Mbak Una

    Emang seremm,,, Mbak....
    Keknya gak perlu klik link itu dee, kalau cuman mau belajar pake jilbab. He,,he,,,.

    Oiya , saya ikutan giveaway-nya ya....

    ::KLIK ME::

    BalasHapus
  7. Ga kok gamau pake jilbab lalala... Kamu mau mas? :p
    Akhirnya aku berani buka linknya hihi.
    Kok nyebahi banget tho orangnya... Wkwkwk...

    BalasHapus
  8. @ Una : #karepmulah yen ra gelem nggo jilbab... Belum siap ya ? Atau takut jilbabnya jadi owog-owog kek rambutnya ?,,, lala...tinky-winky...dipsy...po....

    BalasHapus
  9. dah lah ,,,mantankan dunya,,,sampean atine,,gimana,,jangan akal akalal lah,,, pake otak aja,,afala tatafakkarunnn

    BalasHapus
  10. @ Anonim : Udahlah bagaimana ? Yang akal2an sapa seh ? Ngakunya mantan kyai NU, namun tak bisa ngejawab pertanyaan2 untuk santri NU. Hhhh....Jika anda mengajak pake otak, para 'Ulama terdahulu sudah mengajak kita untuk melestarikan TRADISI KRITIS (silahkan baca), agar Islam tidak carut marut oleh kepentingan2 segelintir orang yang memakai topeng agama untuk memporak porandakan Ddien yang lurus ini. Ddien yang dibawa kanjeng Nabi Muhammad SAW untuk menjadi rahmat semesta. Saya hanya bisa berusaha dengan segala keterbatasannya, putusan dan penilaian mari kita serahkan pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

    BalasHapus
  11. O iya,,, mohon pake ID yang jelas... jangan jadi arwah gentayangan di dunia maya ini kawan.... Tunjukkan pada dunia bahwa Islam bukanlah pengecut, bahwa ummat Islam adalah ummat yang kesatria, yang berani mempertanggung jawabkan segala ucapan dan tindakannya.

    BalasHapus
  12. Saya Ummat Islam, koq.

    BalasHapus
  13. Mas Halim Alwie (1)
    Jawaban bahwa Buku-buku terbitan CV. Laa Tasyuk ! Press, Surabaya adalah Buku-Buku Sesat Buatan Aktifis Wahhabi di Indonesia.

    Laa Tasyuk ! Press, asal kalimatnya : Laa Tasyukka artinya “Jangan Ragu !”
    mottonya “Laa Tusyrik Billah !” atau “Janganlah Engkau Menyekutukan Allåh !” (diambil dari Surat al-Luqman ayat 13), menghunjam di dalam dada dan harus ditanamkan sejak dini pada anak-anak generasi penerus kita, ia Dakwah Yang Pertama Dan Utama Para Nabi.
    Pemiliknya adalah Ustadz Halim, Ustadz Halim adalah seorang NU Toelen, pernah punya Kartanu yang ditandatangani oleh KH. MA. Sahal Mahfudz dan KH. A. Hasyim Muzadi, dan KTA. PKB yang ditandatangani oleh KH. Abdurrahman Wahid dan Drs. H. Mathori Abdul Djalil, dan KTA PKB yang ditandatangani oleh H. Matori Abdul Djalil dan Drs. A. Muhaimin Iskandar, bahkan pernah di foto untuk pembuatan KTA. PKNU. Jadi kalau ada tudingan bahwa Ustadz Halim Termasuk orang PKS (Partai Keadilan Sejahtera) yang beraqidah Wahhabi adalah Kedustaan yang nyata.

    Komentar KH. Mahrus Ali:
    Standart penilain dalam Islam adalah al-Quran dan al-Hadits yang shåhih, bila sesuai dengan al-Quran dan al-Hadits yang shåhih, maka benar dan harus diikuti, bila tidak ada dalilnya, maka ia sesat dan menyesatkan dan harus dibuang !
    Perlu diketahui, bahwa semua dalil-dalil di dalam buku kami “Serial Mantan Kiai NU”, baik yang pertama maupun yang sedang kami susun, saya upayakan sebaik mungkin, saya kelompokkan satu tema pembahasan, dan Insya Allåh tepat sasaran, saya pilihkan yang benar-benar shåhih berdasar kajian dan penelitian saya, hasil penelitian tersebut masih kami cros cekkan dengan pendapat ulama-ulama yang muktabar. Saya jamin tidak ada dalil yang dipaksakan, tidak ada nuansa golongan.

    Artinya dari Siapapun Ulamanya dan dari manapun Madzhabnya, kalau Perbuatan, Ucapan dan Pengakuannya sesuai dengan al-Quran dan as-Sunnah al-Shåhihah maka harus kita terima, sebaliknya dari Siapapun Ulamanya dan dari manapun Madzhabnya, kalau Perbuatan, Ucapan dan Pengakuannya tidak sesuai atau bertentangan dengan al-Quran dan as-Sunnah al-Shåhihah maka harus dibuang atau jangan diikuti.

    Kewajiban kita adalah belajar, belajar dan terus belajar dengan bimbingan ulama yang lurus yang bisa membedakan mana Hadits Shåhih, Hadits Dhåif dan mana Hadits yang masuk kategori Maudhu’ atau Palsu!

    Kalau kita tidak bisa menilai kwalitas hadits, apakah Hadits itu Shåhih atau Dhåif bahkan Maudhu’, maka akibatnya ya seperti sekarang ini, kita sulit membedakan, mana yang ajaran Hindu, Budha, Khonghucu dan mana yang ajaran Syi’ah, karena mereka menganggap ritual-ritual atau ajaran-ajaran Hindu, Budha, Syi’ah dan Khonghucu tersebut dianggap baik (bid’ah hasanah) dan bahkan bernilai sunnah, akhirnya Agama Islam ini rancu campur aduk dengan ajaran Hindu, Budha, Khonghucu dan Syi’ah, padahal nyata-nyata ajaran tersebut bid’ah, syirik dan kufur kepada Allåh.

    BalasHapus
  14. Mas Halim Alwie (2)
    Mengenai KH. Mahrus Ali
    Hendaknya si pengampu blog membaca: Majalah NU “Aula” No. 11 Tahun XXVIII Nopember 2006, hal. 15 disitu disebutkan:
    Namanya Mahrus Ali. Ada yang memanggilnya: Syeikh Mahrus, Kiai Mahrus, Ustadz Mahrus, Cak Haji atau Haji Mahrus.

    Atau baca tulisan saudara Zainul di http://www.nu.or.id yang menulis sebagai berikut: KH. Mahrus Ali ini Bernasab NU kolot/tradisional, dari keluarga Kiai (Adik KH. Mujadi, Pimpinan Pondok Pesantren KH. Mustawa, Sepanjang. Menantu Kiai Imam Hambali, beliau merupakan Tokoh NU/Anggota Syuriah NU yang cukup disegani di daerah Waru, adik Ipar KH. Hasyim Hambali Pimpinan PP. Asy-Syafi’iyah dan juga Adik Ipar dari KH. Abdullåh Ubaid Pengasuh PP. Mambaul Qur’an, Waru Sidoarjo).

    Kini KH. Mahrus Ali bersinergi Dengan Penerbit Laa Tasyuk Press, yang dikomandani oleh Ustadz Halim, perlu diketahui Ustadz Halim adalah Cucu dari KH. Mudjri Dahlan Bin KH. Dahlan Ahdjad (Wakil Rois Akbar NU Tahun 1926, Pendiri Majlis A’la Indonesia/MAI-penb.) Bin KHM. Ahdjad. Ustadz Halim adalah termasuk keluarga besar Haji Burhan, Bani Ahdjad, Bani Ahmad dan Bani Wasidin dimana dikeluarga besarnya tersebut Tradisi Ke-NU-annya sangat kuat. Bahkan Aset keluarganya (Lembaga PendidikanTaswirul Afkar, Surabaya) pernah dijadikan tempat penggodokan cikal-bakal berdirinya Nahdhlotul Ulama.

    Akan tetapi KH. Mahrus Ali bukan Laa Tasyuk Press, Laa Tasyuk Press juga bukan KH. Mahrus Ali, hal ini tertulis jelas dalam buku yang diterbitkannya: “Tak Ingin Jadi Kiai ?” Halaman: 10-11, dikatakan: Penerbit menggali ke-ilmu-an beliau-beliau para kiai (diantaranya: Kyai Afrokhi Abdul Ghoni, beliau termasuk pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren “Råhmatullåh” dan Mantan A’wan Syuriah MWC NU Kandangan-Kediri. Bapak Drs. H. Buchari, Mantan Hakim Tinggi di PTA. Serang-Banten, beliau mantan aktivis NU sejak tahun 1965, dan sampai hari ini masih tercatat sebagai Mustasyar MWC NU Tanggamus dan tokoh-tokoh lainnya) yang dahulu beliau kaji dan dakwahkan, adakah yang keliru? dan mengapa beliau-beliau meninggalkannya? Karena beliau-beliau inilah yang lebih tahu tentang kebid’ahan, kesyirikan dan kekufuran amalan-amalannya atau ubudiyahnya yang terdahulu, padahal jujur saja amaliah-amaliah tersebut dahulunya sangat beliau gandrungi dan juga menghasilkan uang yang cukup menggiurkan.

    Sedangkan untuk mengawal naskah-naskah Para Tokoh yang telah bertobat dari amaliah-amaliah yang bid’ah, syirik dan kufur kepada Allåh, sebelum kami terbitkan naskah-naskahnya kami murojaahkan, tashihkan atau kami periksakan dan telitikan pada Ustadz-Ustadz yang betul-betul faham tentang al-Islam dan pemahaman al-Islamnya sesuai dengan al-Quran dan as-Sunnah ala Fahmi Salaf, atau biasa disebut dengan istilah Manhaj Salaf, agar Laa Tasyuk Press betul-betul steril atau bebas dari firqoh-firqoh yang menyimpang dari Manhaj Salaf.

    Kawalan beliau-beliau ini kami wajudkan dalam bentuk Foot Note atau Catatan kaki. Salah satu diantara yang mengawal Naskah-Naskah dari Laa Tasyuk Press adalah: Ustadz Musthofa Ahmada, Lc.

    BalasHapus
  15. Mas Halim Alwie (3)
    Ini Mas Ajaran yang terbaru KH. Mahrus Ali Tentang Bid’ah Hasanah
    KH. Bisri Musthofa pernah menulis:

    Saya pernah dengar hadits: “Semua bid’ah itu sesat.”
    Tetapi saya juga dengar dari kiai-kiai katanya bid’ah itu ada bid’ah hasanah dan ada bid’ah sayyiah, mana itu yang benar? Kalau bid’ah Dhålalah itu lafadnya umum, tiap-tiap lafad umum yaitu biasanya kemasukan takhsis. Contohnya: “Segala sesuatu itu dibikin dari air.” Apakah malaikat juga dibikin dari air? Iblis apakah dari air? ……..

    Komentar KH. Mahrus Ali :
    Hadits tersebut (“Semua bid’ah itu sesat.”) tercatat dalam Shåhih Ibnu Khuzaimah Nomor: 1785, hadits semakna juga tercatat di Shåhih Muslim No. 1435, Sunan al-Nasa’i No. 1560, Sunan Abi Dawud No. 2565, Sunan Ibni Majah No. 44 & 2407, dan Musnad Ahmad No. 1364.
    Berdasar hasil kajian dan penelitian penulis, Hadits-hadits tersebut berderajat “Shåhih”, baik dari segi matannya (redaksinya) maupun dari segi sanadnya (mata rantai periwayatannya).

    Arti “Semua Bid’ah” adalah seluruh bid’ah tanpa kecuali atau tanpa catatan, karena Haqqut Tasyri’ (Hak Menetapkan Syariat), yakni Allåh, tidak pernah membatalkan, misalnya dengan mengatakan bahwa: “Semua bid’ah itu sesat, kecuali ini ….... dan itu …….” baik dalam firman-Nya (al-Quran), maupun lewat Råsul-Nya, yang terhimpun dalam Kutubut Tis’ah (Sembilan Kitab Hadits, yakni: Shåhih al-Bukhåri, Shåhih Muslim, Sunan al-Tirmidzi, Sunan al-Nasa’i, Sunan Abi Dawud, Sunan Ibni Majah, Musnad Ahmad, Muwaththå’ Imam Malik dan Sunan al-Darimi).

    Jadi kalau Hadits tersebut diatas berderajat Shåhih, dan Haqqut Tasyri’ (Hak Menetapkan Syariat), yakni Allåh tidak pernah membatalkan atau memberi catatan terhadap Hadits tersebut, maka Hadits tersebut bersifat final dan mengikat, tidak boleh digugat, atau digugurkan dengan Ijtihad atau Perbuatan, Ucapan dan Pengakuan Ulama, siapapun Ulama-nya!

    Artinya semua makhluk yang hidup di bumi Allåh wajib patuh dan tunduk terhadap hukum yang sudah ditentukan oleh Allåh lewat Råsul-Nya, Muhammad, namun karena Amaliah yang bid’ah ini kadung digandrungi dan kadung menghasilkan uang, maka mereka dengan sekuat tenaga mempertahankannya, mereka berputar-putar kesana kemari mencari dalil pembenarannya.

    Bahkan ketika taklid buta mendera, ketika fanatisme golongan telah menggumpal dalam dada, maka yang muncul adalah sebuah pembelaan dan pembenaran buta, tak peduli dasar atau hujjah pembenaran yang digunakan adalah hadits lemah, palsu dan cerita-cerita khuråfat.
    Kadang Ayat-ayat Allåh dan Hadits Råsul-Nya, Muhammad diselewengkan, kadang makna asli hadits ditafsiri menurut akal pikiran sendiri atau diselaraskan dengan kepentingan golongan.

    Mengapa Antum tidak mencukupkan diri dengan perintah dan larangan Allåh, yang ditunjukkan lewat Perbuatan, Ucapan dan Pengakuan Nabi yang terhimpun dalam hadist-hadits shåhih ? Akan tetapi Antum malah menyalahkan dan melakukan pembelaan dan pembenaran buta …………
    (Dikutip dari buku: Membongkar Kesesatan Kyai-Kyai Pembela Bid’ah Hasanah, buku terbaru KH. Mahrus Ali. Terbitan CV. Laa Tasyuk! Press, Laa Tusyrik Billah !).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mas Anonim
      (nama Mas, Halim Alwie gituh ya ?)

      Cuekin ajah, Mas. Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. Masalah bid'ah emang sudah sejak penjajahan Belanda (PD II) digembar-gemborkan agar ummat Islam terpecah belah.

      Jika menjumpai situs2 macam begitu, ada baiknya selainnya melihat isinya kita perhatikan pula cara penyampaiannya. "undzur ma qoola, wa laa tandzur man qoola". Saya sudah pernah koment di situs itu, namun koment saya dihapus, udah saya rekomendasi postingan ini utk saya ajak tabayyun, malah gak datang. Ya udah....

      Para Orientalis sangat tekun mempelajari Islam untuk melakukan pembusukan :
      1. Menyusupkan ajaran Setan ke dalam Islam.
      2. Teriak teriak memberantas kesesatan dengan cara2 Setan.
      3. Ummat Islam teralihkan perhatian, truus lupa deh untuk berkarya bagi Rahmat Semesta Alam.

      Islam itu mudah, tapi jangan dipermudah. Islam itu Indah, sangat proporsional memandang dunia dan akhirat. Membimbing ummat untuk seimbang dalam berpikir, berucap dan berbuat.

      Jika kita berkomitmen mengamalkan Islam, mari saling mengingatkan dengan basic Al Qur'an "wa tawasaw bil haq, wa tawasaw bis shobr". Sampaikan kebenaran dengan Ilmu, bukan dengan kebencian. Dengan keterbatasan kemampuan yang kita miliki, mari Mengarahkan Perdedaan Menjadi Rohmat

      Hapus
    2. Mas Halim Alwie
      Itu nama Asli pemberian Bapak dan Ibu saya Mas.
      Blog Antum melecehkan ahlaz-zikri (Surat al-Ambiya’: 7, Surat an-Nahl: 43).

      Yang mantan adalah amaliahnya/ubudiahnya (NU), bukan kemampuan ilmunya (Kiai). Jadi kalau ada yang mengatakan: Lebih baik Mantan Preman dari pada Mantan Kiai adalah orang bodoh, jumud, linglung atau mabok (Sesat Tanpa Sadar Hal.: XVIII).
      Untuk mengetahui kemampuan/keilmuannya KH. Mahrus Ali, silahkan baca buku-bukunya terutama yang diterbitkan oleh CV. Laa Tasyuk ! Press, Surabaya.

      Julukan Kiai bukan atas kemauan beliau, namun jauh sebelum buku-buku “Serial Mantan Kiai NU” terbit, beliau sudah dipanggil Kiai, buktinya ada di Majalah NU “Aula” No. 11 Tahun XXVIII Nopember 2006, hal. 15 disitu disebutkan: Namanya Mahrus Ali. Ada yang memanggilnya: Syeikh Mahrus, Kiai Mahrus, Ustadz Mahrus, Cak Haji atau Haji Mahrus.

      Kalau KH. Mahrus Ali sih, maunya tetap dipanggil sesuai dengan nama yang telah diberikan oleh Bapak dan Ibunya, yaitu: Mahrus Ali !
      Kalau ana di depan beliau dan komunitas ana sih biasanya memanggil Ustadz, di komunitas ini saya terpaksa memanggil beliau KH. Atau Kiai Haji agar didengar dan tidak disepelekan/dilecehkan, karena menurut penilaian saya juga teman-teman di komunitas KH. Mahrus Ali adalah al-Quran berjalan dan Laboratorium Hadits !

      Satu lagi Mas, Buku Membongkar Kesesatan Kyai-Kyai Pembela Bid’ah Hasanah (Sudah Jelas Bid’ah Itu Sesat Kok Masih Saja Dianggap baik) adalah jawaban yang sangat indah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan atau gugatan-gugatan dari Para Kyai Pembela Bid’ah Hasanah semisal: Kyai-Kyai yang tergabung dalam TIM LBM. NU, Jember. Kyai-Kyai yang tergabung dalam TIM FBMPP. Kediri, KH. Bisri Musthofa, Habib Mundzir al-Musawwa, KH. Nuril Huda, KH. Munawwir Abdul Fatah, Ustadz Lutfi Bashori dan lain-lain.

      Seperti gugatan-gugatan beliau-beliau berikut ini: “Sampai hatikah saudara mengatakan bahwa perbuatan Utsman bin Affan yang memerintahkan Adzan Jum’at dua kali itu dhålalah ? Dan Umar bin al-Khåththåb yang menjalankan Shålat Taråwih Dua Puluh Råkaat itu juga dhålalah ? Baca Barzanji yang isinya sejarah Maulid Nabi, itu juga dhålalah ? Mendirikan Pondok Pesantren dan Madrasah itu juga dhålalah ?” Pembukuan al-Quran yang kisahnya sangat terkenal itu juga anda anggap dhålalah ? dan lain-lain.

      Bahkan KH. Mahrus Ali pernah bilang: Ini adalah Upaya tuntas beliau mematahkan dalil-dalil para pembela dan pengusung Madzhab Bid’ah Hasanah.

      Ada Bab yang sangat indah dan menyentuh, yaitu Bab: Mempertuhankan Ulama, kalau Bab ini dibaca tuntas, Insya Allåh saya yakin bahkan haqqul yakin kita mantab hanya Ittiba’ atau hanya mengikuti tuntunan Allåh yang disampaikan oleh Råsul-Nya, Muhammad dan meninggalkan amaliah yang bid’ah, karena amaliah bid’ah ini biasanya sarat dengan syirik dan kufur kepada Allåh.

      Kalau dalil-dalilnya sudah disampaikan (dalam buku-bukunya, terutama dalam bukunya: “Serial Mantan Kiai NU”) valid, jelas dan gamblang (cetto wela-welo) Antum masih ngeyel ya sudah.
      KH. Mahrus Ali Cuma indzar belaka, yang memberi Taufiq dan Hidayah hanya Allåh.

      Hapus
    3. @ Mas/ Pak Halim Alwie
      Apakah panjenengan orang yang sama dengan http://mantankyainu.blogspot.com/2011/12/jawaban-anggota-tim-lbmnu-jember-dan.html ???

      Bismillahirrohmaanirrohiim,

      Postingan ini pada dasarnya hanyalah keingin tahuan saya sbg orang awam, APAKAH FOTO TSB DI ATAS ADALAH BENAR FOTO PRIBADI BELIAU KH MAHRUS ALI ?. Just it.

      Saya tak ingin ada fitnah antara sesama ummat Islam, jika iya jawablah, jika tidak maka saya anggap TOKOH KH MAHRUS ALI HANYALAH FIKTIF, alias tidak ada. Hanya diada2kan oleh pihak tertentu oleh orang2 yang tidak suka dengan persatuan ummat Islam.

      Kita tidak bisa menggeneralisasikan (gebyah uyah) bahwa Ulama2 NU atau masyarakat NU melakukan amalan2 yang dibahas oleh situs tersebut. Dengan adanya situs tersebut secara tidak langsung kita berpikir itulah apa yang ada di lapangan.

      Mempertuhankan 'Ulama ?
      Maka jangan mempertuhankan apa dan siapa itu KH. Mahrus Ali.

      Mari jadi ummat Islam yang kesatria, yang berani mempertanggung jawabkan segala ucapan dan tindakannya.
      Semoga berkenan.

      Wassalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

      Hapus
    4. Mas Halim Alwie
      Bismillahirråhmaanirråhiim,

      Ya, makanya jangan sok tahu (kemeruh) kayak dukun !
      Tanya dan kaji terlebih dahulu dalil-dalilnya shålat di atas tanah, sehingga tahu duduk permasalahannya. Jangan informasi secuil disampaikan untuk menghujat ahlaz-zikri.

      Mas itu nama Marga, jadi memanggilnya harus dirangkai Mas Halim, Alwie itu nama Bapak saya (Mas Alwie), (kata ibu ana, Mas itu syarifnya orang jawa).

      Afwan ana bukan siapa-siapa, ana juga bukan orang yang sama dengan http://mantankyainu.blogspot.com/2011/12/jawaban-anggota-tim-lbmnu-jember dan.html ???
      Ana hanya penggemar dan penikmat Tausiah KH. Mahrus Ali yang disampaikan dalam buku-buku yang di terbitkan oleh CV. Laa Tasyuk Press, Surabaya.

      Prinsip ana: dari Siapapun Ulamanya (hatta KH. Said Aqil Sirodj, Ketum PBNU) dan dari manapun Madzhabnya (asy-Syafi’i/NU), kalau Perbuatan, Ucapan dan Pengakuannya sesuai dengan al-Quran dan as-Sunnah al-Shåhihah maka ana harus tunduk dan patuh, sebaliknya dari Siapapun Ulamanya (hatta KH. Mahrus Ali) dan dari manapun Madzhabnya (Salafiy yang kata orang NU disebut Wahhabi), kalau Perbuatan, Ucapan dan Pengakuannya tidak sesuai atau bertentangan dengan al-Quran dan as-Sunnah al-Shåhihah maka harus ana letakkan di bawah telapak kaki, kalau ana mampu akan ana injak dengan sekuat tenaga, kalau ana tidak mampu akan ana buang ke dalam jurang yang paling dalam tidak ana tengok dan pungut lagi, ana anggap seperti buang hajat !).

      Sampai hari ini ana masih belajar, belajar dan terus belajar dengan bimbingan ulama yang lurus yang bisa membedakan mana Hadits Shåhih, Hadits Dhåif dan mana Hadits yang masuk kategori Maudhu’ atau Palsu!

      Mengenai Foto tersebut, Wållåhu A’lamu Bishshåwab, karena ana masih belum bisa melemahkan ajaran beliau yang shålat di atas tanah, maka lebih baik ana diam tidak menanyakannya, yang jelas ana sekarang masih shålat berjamaah di masjid yang berkeramik kadang ber-karpet.

      Wassalamu'alaikum waråhmatullåhi wabaråkatuh.

      Hapus
    5. Wa'alaikum salam warohmatullohi wabarokatuh
      (nah gini dong, bertamu pake salam dulu)
      Makasih do'a salam dan keselamatnnya, semoga demikian juga dengan panjenengan.

      @ Maaf, Pak Mas Halim Alwie
      Bukannya saya sok tahu, justru postingan ini saya jadikan sarana untuk mencari tahu ;)

      Yuk cari tahu, siapa pemilik blog tersebut, apakah foto tersebut benar beliau, apakah beliau adalah admin tunggal pemilik blog "MAntan Kiayi NU" ?. Apakah tokoh tsb FIKTIF ato NYATA... Bukankah dalam ilmu mustholahul hadits, kredibilitas seseorang menjadi pertimbangan utk mengukur derajad hadits.

      Ada kesamaan antara kita, sama2 belajar.
      Semoga berkenan.

      Hapus
  16. Mas Halim Alwie
    Bismillahirråhmaanirråhiim,

    Satu lagi Mas, Pertanyaan ana, dan tolong juga sampaikan kepada Ummati Press dan Sarkub, ini pertanyaan ana Mas: Afwan Mas, Antum sudah pernah mengkaji dan meneliti Dalil-dalil shålat di atas tanah ?,

    Afwan ana bersama 3 orang Profesor yang ahli di bidang Ilmu Hadits dan Ilmu al-Quran di dukung dengan Ustadz-ustadz yang kridibel dan kapabel dibidangnya masing-masing (dari pondok terkenal salafy yang kata orang NU disebut Wahhabi) sampai hari ini belum menemukan dalil-dalil yang melemahkannya! (untuk membuktikannya silahkan ditanyakan pada Kyai-kyai yang menurut Antum paling mumpuni), kalau bisa mematahkan dalil-dalil beliau silahkan hubungi saya, untuk saya terbitkan!

    Jaza Kallåh Khåirån

    Wassalamu'alaikum waråhmatullåhi wabaråkatuh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikum salaam warohmatullohi wabarokatuh...

      Maaf, saya bukan crew dari site "Ummati Press"

      Jangankan sholat di atas tanah, di atas PADANG PASIR, di atas batu, di atas rumputpun diperbolehkan koq.

      Apakah suatu keharusan ?

      Terima kasih...

      Hapus
  17. na'udzubillah min dlolaalatil wahabiyah.

    BalasHapus
  18. Islam sekarang udah terbagi2 dalam beberapa golongan,,
    klo saya sih yang penting ISLAM aja udah cukup gak perlu ada embel2 :D

    BalasHapus
  19. assalamu'alaikum buat admin...
    maaf jadi hantu gentayangan...
    postingan mas ini benar-benar mhuantaaab...
    ane setuju pendapat admin jikalau foto yang 3 buah di atas benar...
    dan referensi admin juga memuaskan....
    sepertinya ada hantu gentayangan sebelum ane yang kayaknya berpihak pada bapak tua yang pake jubah abu-abu di atas...
    memang gag ada larangan shalat di atas batu dan sebagainya asalkan tempat tersebut suci dari kotoran...
    dan juga bagi yang masih ngeres buat ngebantuin pak tua tersebut yang ngakunya mantan kiyai ato semacamnya lah...
    coba analisa dari tiga foto sederhana yang dilampirkan di atas...
    tempat kotor tersebut di jadiin tempat shalat...?
    gag ada imam lagi...?
    kesannya nyembah dinding...!!!
    debu yang sangat tebal sangat jelas dalam foto tersebut...
    liat aja jama'ahnya pake sendal...
    maaf mas...
    masih newbee nih..
    wassalam..

    BalasHapus
  20. Orang beg......anonim pula...

    BalasHapus
  21. http://mediaaula.blogspot.com/2011/01/polemik-h-mahrus-ali-ternyata-belum.html

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...