Sunday, 29 May 2011

Nice Word's, Abah.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Azza Wa Jalla. Sholawat serta salam senantiasa kita haturkan pada junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW, keluarga, sohabat, serta para pengikutnya.
Hanya mencoba merangkum kembali beberapa kalimat motifasi dari “guru” saya yang tercecer dalam beberapa lembar halaman buku mengaji. Bagi anda yang belum pernah merasakan rasanya ber”guru” tentu heran dengan sikap mental mayoritas santri yang begitu tunduk dan patuh pada mursyidnya. Bagi sebagian orang tentu merasa aneh ketika melihat kami mencium tangan “guru”, melihat kami yang tak berani berjalan sembarangan di depan “guru”, melihat kami yang berjalan ngodok (jalan jongkok kayak di keraton2 Jawa itu loh) ketika di depan “guru”, melihat kami yang tak berani berkata2 jika tidak ditanya/ dipersilahkan “guru”. Aneh ? dan sebagian orang tentu berseru, “Feodalisme, tuh !”. Huhh,,, ketundukan dan kepatuhan yang didasari ketulusan n keimanan malah dituduh feodal, sedangkan ketundukkan dan kepatuhan yang dilandasi “sistem birokrasi” malah jauh dari sorotan.

Ketika kami “sami’na wa atho’na” (kami dengar, kami laksanakan) terhadap “guru” kami malah divonis taqlid buta. Namun pada kemana tuh para protestor “anti taqlid buta” ketika menghadapi para pengagum Einstein dng teori relativitasnya, ketika para psikopat (eh..., psikolog) mengagung2kan psikoanalisanya Sigmund Freud, para sosialis yang mendewakan Karl Marx, para anti kreasionis yang taqlid dng evolusinya Charles Darwin. Dimana kekritisan mereka dalam menilai segala hal, dimana lagi obyektifitas mereka ?. Waduhh,,,,, koq jadi ngoceh kemana-mana sih, maaf kawan saya hanya ingin menyampaikan bahwa dalam memandang segala sesuatu ada baiknya kita berdasarkan ‘ilmu dan ridho Allah Ta’ala tentu.

Dan saya percaya bahwa beberapa kalimat berikut yang disampaikan “guru” saya tentu terinspirasi dari ayat2 Al Qur’an dan pesan2 dalam hadits Rasulullah SAW, jikapun menurut kalian ada yang menyimpang dari Al Qur’an, silahkan kritisi, kawan. Dengan demikian, semoga kita terhindar dari taqlid buta yang bisa menimpa siapapun juga, amin.

Firman Allah Ta’ala, kurang lebih artinya :
Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang diturunkan Allah." Mereka menjawab: "(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya." Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)? (QS Luqman, 31:21)

Dalam hal ini saya hanya ingin mengajak untuk menyampaikan kandungan Al Qur’an dalam bahasa2 yang mudah dicerna dan diterima secara universal, karena memang demikianlah selayaknya kita menyampaikan Islam sebagai rahmat semesta alam.
   
Bersosialisasi.
 
Berikanlah yang terbaik, maka kau akan jadi pemimpin
 
“We come, we take over !”. Kami datang, kami ambil alih
 
Jangan meminta penghormatan dari masyarakat, tapi berikanlah rasa hormat pada masyarakat.
 
Lebih baik dianggap rendah, tapi tinggi. Daripada dianggap tinggi, tapi rendah.
 
“Penghargaan” bukanlah suatu penghormatan, tapi sebuah tanggung jawab.
 
Hanya orang kotor yang akan berkata “Politik itu kotor”

Pemuda.
 
Pemuda bukanlah yang menepuk dada dengan “inilah moyangku”, tapi pemuda adalah yang berani berkata “inilah aku”.
 
“Miliki”lah apa yang kau miliki.

Wanita.
 
Harta berharga yang sesungguhnya dimiliki oleh wanita adalah qona’ah (mensyukuri apa yang didapat).
 
Mustikane wong wadon iku ing rasa “isin”. (Mahkota seorang wanita adalah memiliki rasa malu).

Tholabul ‘Ilmi.
 
‘Ilmu agama (baca : Islam) adalah ilmu apapun yang dengan mempelajarinya menjadikan kita mengenal dan bertaqorrub pada Allah Ta’ala.
 
Tatkala seseorang sudah merasa pandai, maka sejak saat itulah ia bodoh.
 
Istiqomah luwih bagus tinimbang sewu karomah. (Istiqomah lebih baik dari seribu karomah : konsistensi dalam hal apapun lebih baik dari seribu keajaiban).
 
Hidayah, tsamrotul ‘ibadah. Hidayah adalah buah dari ibadah (makna umum : Petunjuk Ilahi hanya dapat diraih dengan dedikasi).

Motifasi Kerja.
 
Berorientasilah pada kerja, jangan berorientasi pada hasilnya.
 
Jangan menunda sampai besok apa yang bisa kau kerjakan sekarang.
 
Jangan pernah mencari kebahagiaan, tapi ciptakanlah kebahagiaan.
 
Jangan hanya melihat “buah” dari kesuksesan, lihat juga “proses” meraihnya.
 
Motifasi Diri.
 
Masa depanmu adalah sekarang.
 
Masa depanmu adalah bagaimana usahamu hari ini.
 
Jangan merasa ‘kecil’ bila dikecilkan orang lain, sebab keberhasilan selalu berangkat dari hal yang kecil.

Sekali lagi, kritisilah jika kalimat2 di atas bertentangan dengan Al Qur’an. Sampaikan kebenaran dengan ‘ilmu bukan dengan kebencian. Semoga bermanfa’at.

2 comments :

  1. Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh

    kulonuwun !!!!!!!! taklid buta adalah suatu sikap yng tdk obyektif, bukan berarti kita tdk menghormati "guru" jika kita berani menyanggah perintah guru yang menurut pemahaman kita salah, seorang guru adalah manusia juga, dan manusia kadang suka khilaf, disaat itulah kita tempatnya dpt menyaggah, atau mengingatkan guru, tdk baik kita nyendhiko dawuh padahal kita tahu bahwa guru sedang melaksanakan kesalahan !

    adapun, cium tangan, membungkuk atau ngesot sekalipun bukan berarti kita taklid secara buta, bukan kita feodalisme, atau mengkultuskan, tapi itu adalah suatu bentuk penghormatan kpd seorang "guru" sebagai orang yang perlu kita hormati sesuai adab etik yg telah berlaku secara turun temurun dan itu adalah ahlaq yg menurut pemahaman saya tidak jelek !

    saya setuju motto

    "Ilmu agama adalah ilmu apapun yang dengan mempelajarinya menjadikan kita mengenal dan bertaqorrub padaNya".

    maturnuwun sedulur....... dilanjut wasallam !!!

    ReplyDelete
  2. @ Kang Musafir 'Ilmu
    Wa'alaykum salam warohmatullohi wabarokatuh.

    ***seorang guru adalah manusia juga, dan manusia kadang suka khilaf, disaat itulah kita tempatnya dpt menyaggah, atau mengingatkan guru, tdk baik kita nyendhiko dawuh padahal kita tahu bahwa guru sedang melaksanakan kesalahan !***

    Iya, Kang. Terima kasih. Itulah mengapa selain mengajar dng metode "bandongan" (murid hanya mendengarkan) ada juga sistem "sorogan" (asistensi, setoran hafalan), beliau juga mengajar dng sistem "jalisan" (lesehan/lelenggahan) disinilah majlis/forum utk bertanya, menyanggah dsb. Namun pada sistem "jalisan" sy belum punya keberanian utk mengikuti.

    Hal inilah yang tentu saja ada kesesuaian dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala, kurang lebih artinya :

    Dan JIKA keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, MAKA janganlah kamu mengikuti keduanya, DAN pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. Luqman, 31:15)

    Sepindah malih, maturnuwun ugi Kang Mas.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...