Tuesday, 7 June 2011

Tradisi Islam : Menjamin Kredibilitas Akurasi Informasi

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Azza Wa Jalla. Sholawat serta salam senantiasa kita haturkan atas Baginda Rasulullah SAW, keluarga, shohabat, serta para pengikutnya.

Dalam surat Al-Hujuraat, 49: 6 Allah Azza Wa Jalla telah begitu tegas memberikan panduan kepada kaum muslimin di dalam menyikapi suatu informasi (berita) : telitilah berita yang dibawa atau disiarkan oleh orang-orang fasik. Artinya, jangan mudah percaya begitu saja kepada suatu berita, kabar, opini, atau informasi yang disebarkan oleh orang-orang fasik. Siapakah orang-orang yang disebut fasik itu? Kata fasik berasal dari kata dasar al-fisq, yang berarti "keluar" (khuruj). Para ulama mendefinisikan fasik sebagai "orang yang durhaka kepada Allah SWT karena meninggalkan perintah-Nya atau melanggar ketentuannya." Orang fasik adalah orang yang melakukan dosa besar dan sering melakukan dosa kecil. 

Jika tidak cermat, memang tidak mudah bagi kita untuk memahami arti kata fasik. Karena di dalam Al-Qur'an, kata fasik muncul dalam berbagai konteks. Kategori fasik bisa terjadi akibat dosa besar atau dosa kecil. Adapun kategori kafir terjadi akibat tidak beriman atau dosa besar yang memang dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam, seperti syirik akbar, meyakini bolehnya meninggalkan shalat fardhu lima waktu dan dosa-dosa lain yang memenuhi syarat untuk menjadikan pelakunya kafir. Jadi, orang fasik belum tentu kafir, tetapi orang kafir sudah tentu adalah fasik. Sebagian ulama mazhab Syafi'i menyatakan bahwa seseorang dapat dikatakan tidak fasik (dengan kata lain bisa disebut seorang ‘adil) apabila kebaikannya lebih banyak dari kejahatannya dan tidak terbukti bahwa ia sering berdusta.

Tingkat penerimaan atau kepercayaan kita terhadap suatu informasi, antara berita atau informasi mengenai masalah agama, yaitu yang bersumber Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan kabar berita masalah lainnya, tidaklah sama. Mengapa dikatakan tidak sama? Bukankah sama-sama kabar/berita/informasi? Islam, memiliki mekanisme yang cukup rapi, terpercaya dan kredibel di dalam konsep penyampaian berita/informasi. Islam menempatkan identifikasi "kefasikan" dan "keadilan" sebagai hal yang penting. Para ulama ahli hadits telah melakukan suatu penelitian dan penilaian terhadap sifat, keadaan dan perilaku seseorang yang meriwayatkan sebuah hadits. Para imam hadits tidak gegabah dalam menerima setiap sanad (isnad) yang disebutkan orang, akan tetapi mereka menyeleksi setiap perawi yang ada dalam sanad dengan ketat. Para perawi hadits itu, diteliti kecerdasannya, akhlaknya, guru-gurunya, dan juga murid-muridnya. Jika tidak jelas, hadits yang bersumber dari perawi tersebut ditolak. Para perawi hadits disyaratkan harus jujur, berakhlak tinggi, cerdas, kuat hafalan (dhabit), adil, dan disiplin. Guru kita memberikan ilustrasi, misalnya jika ada seorang perawi hadits diketahui orang makan di warung sebuah pasar maupun pinggir jalan, maka hadits yang diriwayatkannya sudah tidak mutawatir lagi. Lanjut beliau, susunan tata bahasa suatu hadits juga harus diperhitungkan dengan teliti. Jika susunan tata bahasa suatu hadits tidak balagh, maka berarti hadits ini pasti palsu! Dan untuk mengetahui susunan tata bahasa hadits ini maka ilmu Balaghoh harus dikuasai. 

Selanjutnya berdasarkan kriteria-kriteria diatas, maka terdapat kategorisasi hadits ke dalam tiga kelompok,  yaitu :

]    Hadits Mutawatir, yakni hadits yang diriwayatkan banyak sahabat, banyak tabi'in, dan seterusnya, yang dipastikan mereka tidak mungkin bersepakat berbohong. Hadits tingkat ini dapat diyakini kebenaran secara pasti (tidak diragukan), bahwa kabar atau berita itu berasal dari Rasulullah (Shalallahu 'Alaihi Wa Alihi Wa Sallama).

]    Hadits Masyhur, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh satu atau dua orang sahabat, tetapi tidak sampai mencapai derajat mutawatir, lalu diriwayatkan oleh generasi sesudahnya dengan derajat mutawatir.

]    Hadits Ahad, yaitu hadits yang seluruh perawinya, mulai generasi sahabat, tabi'in dan tabi'it tabi'in, tidak mencapai derajat mutawatir. Dan dari hadits ahad ini, dikelompokkan lagi menjadi tiga bagian, yaitu:
  • Hadits Shahih, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang adil (tidak fasik), sempurna ketelitiannya, sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Alihi Wa Sallama, tidak mempunyai cacat, dan tidak bertentangan periwayatan orang yang lebih terpercaya.
  • Hadits Hasan, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, tetapi kurang ketelitiannya, sanadnya bersambung sampai Rasulullah (Shalallahu 'Alaihi Wa Alihi Wa Sallama), tidak mempunyai cacat, dan tidak bertentangan dengan periwayatan orang yang lebih terpercaya. Jadi bedanya dengan hadits sahih terdapat pada ketelitian perawi.
  • Hadits Dha'if, yakni hadits yang tidak memenuhi syarat sahih maupun hasan.

Selain hadits dha'if ini ada juga jenis hadits-hadits lain yang derajatnya lebih rendah dari hadits dha’if, yaitu: maudhu' (palsu), mursal, munqathi', mu'allaq, mudallas, mudraj, munkar, dan mubham.

Ternyata di dalam ajaran agama Islam – khususnya pada tradisi Pesantren – untuk menerima suatu hadits atau kabar yang diterima dari Rasulullah (Shalallahu 'Alaihi Wa Alihi Wa Sallama), memiliki proses syarat-syarat yang sangat ketat. Ini merupakan aset yang sangat berharga bagi Dien yang lurus ini, dimana agama-agama lain di dunia tidak memiliki mekanisme sumber-sumber berita keagamaan yang dapat dipercaya. Dan lebih menakjubkan lagi, jika kita kumpulkan anak-anak muslim yang hafal beberapa surah dalam Al-Qur'an, berapa banyak mereka, sungguh melimpah ruah, apalagi orang-orang dewasa. Mereka hafal Al-Qur'an karena dibimbing oleh gurunya yang hafal, gurunya dari guru-gurunya dan seterusnya sambung-menyambung hingga terus sampai kepada Rasulullah Muhammad (Shalallahu 'Alaihi Wa Alihi Wa Sallama).

Selanjutnya, akankah kita membiarkan 'ilmu mustholahul hadits  ini sirna ?. Akankah tradisi Islam dalam bersikap kritis mengkonsumsi informasi kita biarkan terkikis ? Jangan, kawan. Kritislah sesuai ke’ilmuan dan kemampuan kita, carilah “guru” untuk bertanya, selebihnya pasrahkan pada Allah ‘Azza Wa Jalla.

Semoga bermanfa'at.

10 comments :

  1. pertamaxx...lagi...

    saya sering menemukan orang2 yg "berguru" itu tapi qo cenderung men-takfiri yag lainnya...

    ReplyDelete
  2. Assalamu 'alaikum wr wb,

    Alhamdulillaah, saya ikut nyimak2 ya Mas Samaranji...

    Wassalam,

    ReplyDelete
  3. @ Mas Abu Razziq
    Duh,,, makasih banget kebersamaannya.
    Soal jama'ah takfiri ? Keheranan yang sama sy rasakan selama ini.
    ================

    @ Ajengan anom
    Wa'alaikum salam warohmatullohi wabarokatuh...
    Alhamdulillah....
    Mohon do'a restunya agar bermanfa'at dan mendapat ridho Allah Ta'ala.
    WAQUL JA'AL HAQQO WAZAHAQOL BAATHILA INNAL BAATHILA KAANA ZAHUQO. amin.

    ReplyDelete
  4. @samaranji

    secara subtansi Artikel yang sangat bagus,karena

    1. mengingatkan kepada kita semua agar senantiasa mengkritisi setiap Informasi yang kita terima .

    2. mengingatkan TRADISI para ULAMA YANG LUAR BIASA HEBAT,LUAR BIASA TELITI dan LUAR BIASA HATI HATI dalam menguji kevalidan sebuah informasi.

    yang itu tidak terdapat pada AGAMA LAIN. KARENA FAKTA pada AGAMA LAIN MENGALAMI GAGAL TOTAL dalam menyeleksi berbagai informasi yang mereka terima.

    justru saya merasakan sangat MIRIS ada sebagian kecil umat yang menolak Informasi yang bersumber dari hadist dengan alasan ditulis setelah rasulullah saw wafat.

    jelas pandangan tersebut melecehkan apa yang sudah diusahakan Para Ulama. lebih ironis lagi diantara mereka ada yang mensejajarkan antara HADIST dengan kitab agama lain.

    JELAS PANDANGANNYA TERSEBUT SANGAT KETERLALUAN.

    penutup. 2 Jempol saya untuk menandai artikel dari sdr SAmaranji ini

    ReplyDelete
  5. @ Om Id Amor
    Sejujurnya,,, saya mengharapkan do'a anda dengan ucapan "Assalamu'alaikum...." untuk saya. Ya udahlah... mungkin anda lupa.

    Substansinya :
    1. Para Al-'Ulama terdahulu mengajarkan kita untuk kritis dalam mengkonsumsi hadits.
    2. Jika terhadap hadits aja harus kritis, maka terhadap "berita2 dan gosip2" seputar dunia Islam kita harus lebih kritis, dunk.
    3. Sikap kritis menerima segala informasi ini kita jadikan input. Dan outputya sebisa mungkin dan semaksimal mungkin kita menyampaikan sesuatu harus valid dan kredibel.

    Firman Allah Ta'ala, kurang lebih artinya :
    Hai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka:"Kami telah beriman", padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) AMAT SUKA MENDENGAR (berita-berita) bohong[*] dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu[**]; MEREKA MEROBAH perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: "Jika diberikan ini (yang sudah di robah-robah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini maka hati-hatilah." Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. (QS Al Maidah : 41)

    Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya
    Semoga bermanfa'at
    Thank's, apresiasinya....

    ReplyDelete
  6. Samaranji==>

    @ Om Id Amor
    Sejujurnya,,, saya mengharapkan do'a anda dengan ucapan "Assalamu'alaikum...." untuk saya. Ya udahlah... mungkin anda lupa

    AMor jawab :

    mohon maaf kalau Amor tidak mengucap salam dan itu perlu anda persoalkan.

    walaupun terkesan sangat aneh.

    1, keanehannya adalah ketika sdr Abu Razziq posting tidak mengucapkan salam sama sekali tidak anda persoalkan tetapi begitu Amor melakukan hal yang sama perlu anda persoalkan

    apalagi di thread sebelah : http://debu-semesta.blogspot.com/2011/06/nabi-isa-alaihis-salam-yesus-jebakan.html#comment-form

    fakta beberapa komentator selain amor juga tidak mengucap salam terlebih dahulu ketika mengawali komentar, dan itu sama sekali tidak dipersoalkan oleh sdr Samaranji.

    jadi apa yang anda persoalkan itu berdasarkan sikap Obyektifitas anda atau sudah ADA KEBENCIAN ANDA hingga apapun yang amor lakukan,obsesi anda ada mencari keburukan dari amor?

    2. Qs Al maidah 41 juga mengingatkan kita semua agar tidak seperti orang orang Yahudi yang suka berita bohong.

    tetapi fakta banyak orang yang NALAR KRITISNYA MENJADI TIDAK BERFUNGSI dan sengaja ia MANDULKAN ketika ia memilih TAKLID buta kepada "IDOLA", "GURU" ataupun yang dianggap "MASTER"

    yang perlu kita ingat SIKAP KAMI DENGAR DAN KAMI TAAT hanya diperuntukan kalau seruan tersebut berasal dari ALLAH swt dan RasulNYA, selain itu maka NALAR KRITIS TETAP HARUS difungsikan.

    Kebencian yang tidak proposional dan kekaguman kepada seseorang akhirnya memilih TAKLID BUTA bisa membuat NALAR ANALISIS anda tidak berfungsi sebagai mana mestinya.

    dan mohon maaf kalau amor menyatakan kesimpulan pahit tentang komentar komentar anda,yaitu :

    sepertinya komentar komentar anda mengindikasikan hal tersebut, yaitu TAKLID buta terhadap seseorang maka apapun yang dinyatakannya NALAR KRITIS ANDA TIDAK BERFUNGSI SEBAGAIMANA MESTINYA

    sebaliknya KEBENCIAN TIDAK PROPOSIONAL sudah merasuki hati anda,SEHINGGA OBSESI anda adalah berusaha mencari cari apa saja yang bisa anda persoalkan= NALAR KRITIS YANG KEBABLASAN

    ReplyDelete
  7. @ Om Id Amor
    Astaghfirullahal'adhiim,,,

    Yang sy harap bukan sebuah apologi, namun introspeksi diri...

    Jikapun ketika sy mengharap do'a anda berupa salam tsb, menyinggung anda. Maaf... Adalah hak anda berkenan mendo'akan saya atau tidak, bukan ?

    ReplyDelete
  8. Samaranji mengatakan...

    @ Om Id Amor
    Astaghfirullahal'adhiim,,,

    Yang sy harap bukan sebuah apologi, namun introspeksi diri...

    Jikapun ketika sy mengharap do'a anda berupa salam tsb, menyinggung anda. Maaf... Adalah hak anda berkenan mendo'akan saya atau tidak, bukan ?


    Amor jawab :

    Kalau anda berharap orang lain untuk intropeksi diri bukan apologi,maka sudahkah anda INTROPEKSI DIRI dibandingkan melakukan Apologi?

    ReplyDelete
  9. Sebenarnya justru kredibilitas Nabi Muhammad-lah yang menjamin seluruh bangunan Islam dan tradisinya.

    Reputasi Kenabian merupakan pilar utama semua agama, karena tak ada satupun konsep utama agama seperti tuhan, akhirat, malaikat, wahyu yang dapat diverifikasikan.

    Semuanya merupakan pengalaman personal para nabi. Kita percaya karena reputasi para nabi.

    Lihat tulisan saya di:
    Agama, Demonstrasi Kredibilitas Para Nabi

    ReplyDelete
  10. @ Om Judhianto
    Salam kenal,,,,
    (karena anda ga ngajak kenalan, maka sy anggap anda dah mengenal sy, bukan begitu mas bro ???)

    Ga nyangka,,, hare gene JIL (jaringan iblis liberal) masih punya penggemar rupanya.

    ***Sebenarnya justru kredibilitas Nabi Muhammad (SAW)-lah yang menjamin seluruh bangunan Islam dan tradisinya.***
    >>> Oww, getu... Pantesan, orang2 yang ga seneng ama beliau (SAW) pada bikin gosip2 murahan untuk membuat imej buruk dengan berlindung dalam sebuah kata ilmiah "kredibilitas".... jadi paham sy. Thank's.

    ***Reputasi Kenabian merupakan pilar utama semua agama, karena tak ada satupun konsep utama agama seperti tuhan, akhirat, malaikat, wahyu yang dapat diverifikasikan.***
    >>> Aw,,aw,,aw,,, masak gitu ? Reputasi ? reputasi yang bisa dibentuk melalui opini ?... jadi paham sy mengapa para pengingkar Tuhan en kaum hypokrit pada ja'im untuk menjaga sebuah "reputasi".

    Btw,,, makasih kunjungannya om. Udah tak kunjungi koq blog anda. Keren loh templatenya. Pasang kotak iklannya dibanyakin dikit, biar tambah duit. He,,,he,,,

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...