Tuesday, 25 October 2011

What's Your Name, God ?

Alhamdulillah, wash sholatu was salaamu ‘ala Rosulillah sholallahu ‘alaihi wassalama. 

Sebagai ummat Islam tentu kita akan langsung menjawab pertanyaan di atas dengan “Allah”. Ya, itulah nama Tuhan kita, Tuhan saya, anda dan kita semua, Tuhan bagi yang mengimani maupun bagi yang mengingkari. Namun kita akan terperanjat manakala mengetahui ada sebagian manusia yang menganggap bahwa "Allah" bukanlah nama namun hanya sebatas gelar yang bermakna sesembahan, muncullah konsep men-subtitusi "Allah" menjadi Tuhan, God, Lord, Gusti, Sang Hyang, Tian etc. Dengan kata lain menurut mereka lafadz "Allah" adalah kata umum yang bermakna "Tuhan".

Hal ini sungguh aneh, nama "Allah" yang udah diinformasikan sejak Nabi Adam a.s dianggap bukan nama namun hanya sebatas gelar yang bermakna sesembahan. Ini seperti kata "narsis" yang tadinya adalah nama seseorang yang memuja diri sendiri, kini menjadi nama gelar untuk siapapun yang memuja diri sendiri.


Yaa Allah, semakin kesini kami semakin mengerti bagaimana tahapan2 yang dialami ummat beragama sebelum kami sehingga tergelincir pada kesesatan dan pemberhalaan. Engkau perkenalkan kepada kami 99 Asma indah untuk memanjatkan do'a dan memanggil-Mu namun kami tetap yakin bahwa "Allah" itulah nama-Mu. Laisa kamitslihi syai'un (QS. 42:11) tak ada sesuatupun yang serupa dengan-Mu. Ketika kami memanggil-Mu dengan Yaa Maliku (Yang Maha Merajai) tak sedikitpun terbesit memvisualkan-Mu dengan sosok seorang Maha Raja. Ketika kami memanggil-Mu dengan Yaa 'Adlu (Yang Maha 'Adil), tak terbesitpun kami memvisualkan-Mu dengan sosok yang sedang memegang neraca timbangan. Ketika kami memanggil-Mu dengan Yaa nNuuru (Yang Maha Pemberi Cahaya), tak sedikitpun kami berpikir bahwa Engkau adalah matahari yang bersinar.

Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala, a'udzubillahi minasy syaithonirrojiim, bismillahirrohmaanirrohiim :

إِنَّنِي أَنَااللَّهُ لَاإِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
20:14. Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.

Jika firman Allah Ta'ala tersebut saya baca, mohon jangan anggap saya lancang mengaku diri bernama Allah, anda salah jika "Aku" diatas merujuk pada si pembaca Firman Allah, anda salah jika saya menyuruh untuk disembah, ya,,, salah jika anda memaknai demikian. Itulah yang terjadi pada ummat sebelum kita, ketika para Nabi a.s menerima dan kemudian menyampaikan Firman Allah Ta'ala sebagaimana di atas, akan menimbulkan berbagai reaksi yang berpotensi pada distorsi, apalagi jika Firman tersebut sudah diterjemahkan, terjemahan itu diterjemahkan lagi, diterjemahkan lagi, lagi dan lagi. Berikut sebuah ilustrasi, betapa pada kalimat yang sama menimbulkan beberapa interpretasi yang berbeda :


Utusan Pertama : Allah berfirman “Sembahlah Aku”
Ummat Cerdas : Ooo,,, kita harus menyembah Allah
Ummat Primitif : Ooo,,, Allah itu artinya Sesembahan tow.

Utusan Selanjutnya : Allah berfirman “Sembahlah Aku”
Ummat Cerdas : Ooo… Sang Utusan menyuruh kita untuk menyembah hanya pada-Nya (Allah).
Ummat Primitif : Ooo… Sesembahan berfirman agar kita menyembah pada-nya (Sang Utusan).

Utusan Terakhir : Allah berfirman “Sembahlah Aku"
Ummat Cerdas : Ooo,,, Sang Utusan membaca firman Allah, agar kita menyembah kepada-Nya (Allah)
Ummat Primitif : Ngaco… Allah tuh artinya Sesembahan, dan Sesembahan itu menyuruh kita untuk menyembah kepada-nya (Utusan sebelumnya),,,, goblok lu,,, konservatif lu….!!!



Memahami Agama-agama Dunia
Hingga saat ini, saya masih percaya bahwa semua agama tidak sama, namun berasal dari sumber yang sama, pendistorsian yang dilakukan secara sengaja ataupun tidak sengaja dari generasi ke generasi lah yang pada akhirnya membedakan agama2 yang ada, dan Islam mengajak kembali kepada agama asal, agama fitrah manusia, yang hanya menyembah kepada Allah Azza Wa Jalla. Masih eksisnya agama2 lain selain Islam, tentu merupakan anugerah Allah Ta'ala agar ummat Islam sendiri mengambil pelajaran dari pendistorsian2 yang telah dilakukan ummat sebelum Islam datang.


Sekilas Tentang Bahasa Rumpun Semitik

Agama Semitik (Yahudi, Kristen, Islam) berasal dari rumpun keturunan Sem ( Sam bin Nuh a.s). Arphaksad adalah putra Sem yang menurunkan bangsa Ibrani (dikaitkan nama Eber cucu Arphaksad), dan Aram putra Sem menurunkan bangsa Aram dan Arab. Dalam hal bahasa, Aram lebih dahulu mengembangkan bahasanya, sedangkan  bangsa Ibrani mengembangkan bahasa Ibrani dengan berakulturisasi dengan bahasa Kanani dan Amorit dan menggunakan abjad Kanani kuno (Funisia) yang kemudian berkembang dalam bentuk bulat karena pengaruh bahasa Aram.

Menurut Yuhana Al Damsyiqi Fransiscus Xaverius Aryanto Nugroho (seorang Kristen Ortodhox yang belajar bahasa Arab dan Islamolog di Mesir dan Damsyiq), Abraham berasal dari Mesopotamia dan berbahasa Aram, setelah hijrah ke Palestina, Ishak a.s anaknya mengawini iparnya Ribka, saudara Laban yang tinggal di Mesopotamia, Laban dicatat Alkitab sebagai orang Aram berbahasa Aram (Kejadian 31:20,47). Yakub, putra Ishak dan Ribka, mengawini Lea dan Rachel anak-anak Laban yang berbahasa Aram juga. Jadi orang Israel (keturunan Yakub) mengikuti bahasa Aram bahasa nenek dan ibu mereka. Alkitab menyebut orang Israel adalah keturunan Aram (Kejadian 25:5).

Ensiklopedia Islam (Cyrill Glasse, hlm.49-50) menyebut bangsa Arab adalah masyarakat Semit keturunan Quathan (Joktan, anak Eber) dan juga Adnan (hlm.12-13) yang menurunkan keturunan Ismael (putra Abraham), jadi bangsa Arab merupakan keturunan Semitik, Ibranik dan Abrahamik juga. Bahasa Arab berasal bahasa kuno Aram dan aksaranya merupakan perkembangan dari aksara Nabatea Aram.
 
Nama Tuhan ‘El’ (Il) sudah lama dikenal di Mesopotamia, dan dalam dialek Aram nama itu disebut ‘Elah/Elaha (atau Alah/Alaha),’ di Israel disebut ‘El/Elohim/Eloah,’ dan dalam bahasa Arab disebut ‘Ilah/Allah.’ Kata sandang difinitif dalam bahasa Aram adalah ‘Ha’ yang diletakkan di belakang kata, dalam bahasa Ibrani diletakkan di depan (Ha Elohim), sedangkan dalam bahasa Arab kata sandang ditulis ‘Al’ diletakkan di depan (Al-Ilah). Jadi baik El/Elohim/Eloah, Elah/Elaha, dan Ilah/Allah menunjuk kepada Tuhan Monotheisme Abraham yang sama, baik sebagai nama pribadi maupun sebutan untuk ketuhanan.

(Sumber : artikel dari  Yuhana Al Damsyiqi Fransiscus Xaverius Aryanto Nugroho seorang Kristen Ortodhox yang belajar bahasa Arab dan Islamolog di Mesir dan Damsyiq).

Kesimpulan : Jika yang dimaksud mereka Abraham adalah Nabi Ibrahim a.s dalam term Aqidah Islam maka lafadz “Allah” sudah dikenal turun temurun sejak Nabi Adam a.s hingga Nabi Nuh a.s. Putra Nabi Nuh a.s bernama Sam  memiliki putra bernama Arphaksad (moyang bangsa Ibrani) juga memiliki putra bernama ‘Aram (moyang bangsa “Aram dan bangsa ‘Arab). Berbeda dengan Ibrani yang bahasanya sudah berakulturasi dengan bahasa Kanani dan Amorit, bangsa ‘Aram dan ‘Arab lebih berusaha menjaga originalitas bahasa moyangnya (Sam – Nuh a.s – Adam a.s). Pada bangsa Arab-pun ketiga pemeluk agama yaitu Islam, Kristen, Yahudi sudah terbiasa menyebut nama Allah, namun dengan Aqidah Ketuhanan yang berbeda. Sebagai ummat Islam kita percaya bahwa ‘Al-Qur’an dalam bahasa ‘Arabiyyun Mubiin, bukan bahasa ‘Arab yang kita kenal saat ini melainkan bahasa kuno yang sangat kuno, bahasa asal manusia, bahasa yang dikenalkan Allah Ta’ala kepada Nabi ‘Adam a.s.



Lafadz “Allah” dalam bahasa rumpun Semitik

אלוה - 'ELOAH (Ibrani), >>>  'alef - lamed - he', 
 אֱלָהָא - 'ELAHA' atau אֱלָהּ - 'ELAH (Aram) >>> 'alap - lamad - he', 
 الله - ALLAH (Arab) >>> 'alif - lam – hha. 

Sebagai ummat Islam tentu kita mengetahui bagaimana pengucapan "الله" yang benar, yaitu ALLOH dengan dobel lam(L), dan lam  tsb dibaca taghlidh (tebal), dan pengucapannya bukan dengan "A" tapi diucapkan "O" (seperti tulisan "jawa" tapi dibaca "jowo"). Adapun dalam style Ibrani, Alef jika bertemu dengan Lamed dibaca dengan jelas “AL” perhatikan penulisan alif-lam (ibrani) ALeim אלהים , dan Lamed jika ada Vet ditranslasi menjadi “O” sehingga lafadz yang benar adalah ALOH = אלוה

Penulisan huruf gaya IBRANI keliru TOTAL karena seharusnya double LAMED sehingga yang benar adalah sytel Aramic (اللَّهِ) => ALLOH = אללוה
 
Aleihim אלהים Memang benar itu dalam bentuk JAMAK (Plurality) dari kata “kamu-kamu” atau “MEREKA “ yang sepadan dengan bahasa ARAM : ﻋﻠﻴْﻬﻢ

 
Allah, Gelar Atau Nama ?

Sebagaimana sudah pernah saya singgung di atas tentang analogi asal mula kata "narsis",  kata "narsis" yang tadinya adalah nama seseorang yang memuja diri sendiri, kini menjadi nama gelar untuk siapapun yang memuja diri sendiri. Begitupun nama "Allah" (baca : Alloh)  yang tadinya DIA sendiri memperkenalkan nama-Nya pada manusia untuk dijadikan sesembahan, kini akan digeser maknanya oleh ummat primitif dengan dianggap sebagai gelar yang bermakna "sesembahan" saja. 

Secara etimologi, kata "nama" memiliki arti sbb: 
Nama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia/Tim Penyusun Kamus Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, adalah: 1. Kata untuk menyebut atau memanggil orang (tempat, barang, binatang, dan sebagainya); 2. Gelar; sebutan 3. Kemasyhuran; kebaikan (keunggulan); kehormatan

Kamus Umum Bahasa Indonesia, Prof. Dr. J.S. Badudu - Prof. Sutan Mohammad Zain, menulis bahwa nama adalah: 1. Kata atau sebutan yang diberikan kepada seseorang atau benda untuk mengenal orang dan benda itu dan membedakannya dari yang lain; 2. Gelar yang diberikan sebagai pengenal; 3. Kehormatan, kemasyhuran

Oxford Advanced Learner's Lictionary of Current English, AS Hornby pada entri name menulis sebagai berikut: 1. Word(s) by which a person, animal, place, thing, etc. is known and spoken to or of; 2. (Singular only) reputation; fame; 3. Famous person)

“Nama” dalam bahasa Ibrani adalah " שֵׁם - SYÊM", SYÎN - MÊM,
“Nama” dalam bahasa ‘Aram  SYÛM. 
“Nama” dalam bahasa ‘Arab  ISM –  ALIF SIN MIM

Dengan Pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa “Allah” adalah nama. Bukti :
 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
BISMILLAHIRROHMAANIRROHIIM : Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (QS Al Fatihah, 1;1)
בְּשֻׁם אֱלָהּ   
BESYUM 'ELAH  : Dalam nama Allah (Ezra 5:1).


Alhamdulillah,,, semakin saya mencoba memahami Agama lain, semakin saya memahami betapa segala tantangan, rintangan dan ujian yang dialami ummat Islam sekarang, baik yang menyentuh aqidah maupun syari'ah, baik yang menyentuh 'ibadah mahdhoh maupun ibadah mu'amalah ternyata,,, ummat lain sbelum Islam-pun sudah pernah mengalami tantangan dan ujian tersebut. Mereka gagal menjaga kemurnian Firman Allah Ta'ala. Sekarang giliran kita untuk menjaganya.


Allah Ta’ala berfirman, kurang lebih artinya :

QS 12:40. Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."

QS 5:59. Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, apakah kamu memandang kami salah, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik ?

Maha Benar Allah, dengan segala firman-firmanNYA.

12 comments :

  1. yg lebih penting itu sebenarnya bagaimana kita merealisasikan keyakinan kita, menjunjung perintah, dan menjauhi larangan. :)

    ReplyDelete
  2. @zian...
    anda benar,tetapi menjadi kewajiban tuan rumah/pemilik utk menjaga barang agar tidak dicuri.

    awalnya lafal 'Allah" dicuri dan kemudian diklaim sbg hak milik dari pencuri.

    jadi seharusnya kitab suci yg bukan milik muslim menggunakan bahasa selain bahasa Arab dalam mencantumkan lafal "Allah".....

    @al samaranji..
    semarang udah hujan belum?
    surabya masih panas and still hot coffee

    wassalam

    ReplyDelete
  3. @ Mas Zian

    Ahlan wa sahlan yaa akhiinal kiroom

    Post ini sekedar mereview dan menjawab diskusi sy dng Om Parhobas, beliau seorang Katholik Religius. Selengkapnya bisa mas simak ::di sini::

    Dlm membangun blog ini sy jadikan sarana tadzkiroh untuk melaksanakan perintah Allah Ta'ala dan meninggalkan larangan-Nya. Jika ada yang salah dng analisa sy, mohon arahan dan bimbingannya.

    ======================



    @ Kang Abuhanan

    Al hamdulillah, Semarang dah 2 minggu ini hujan teyuss tiap sore. Kalo Surabaya belum hujan, tuh tugasnya kang Abu utk melaksanakan sholat istisqo'. Ato kalo nggak ya mengumpulakan warga sekecamatan utk masak air bareng2 didepan rumah, yang banyak tuh airnya, nanti uap air kan jadi awan yg mengandung titik hujan. Begitu kan sesuai hukum fisika ? katanya, sih....

    ReplyDelete
  4. @Mas Samaranji
    Rrrruuuuar biasah.............keyeeennn!
    Muantap sekuali ulasannya Mas........!
    Good job! (wkwkwk.... tiru komentar Rianti Cartwright dlm IMB hihihi.......)
    :
    Selamat yaaa.....

    salam

    ReplyDelete
  5. @ Mbak Fanya
    Rianti Cartwright ? Duh, jadi inget Ayat-ayat Cinta.... Mbak Rianti sekarang muncul di "Dering" tuh keknya.

    Yang saya harap sih, GOD JOB (baca kinerja/kehendak Allah Subhanahu Wa Ta'ala)...

    ReplyDelete
  6. Ini baru ASIIK

    sama seperti anda, saya juga sangat tertarik untuk mempelajari "bahasa asal"

    Di kuliah S2 ada yg namanya studi bahasa asal, namun sayangnya saya belum S2.

    Bahasa mengungkap sejarah sekaligus membuat sejarah.

    Berkaitan dgn bahasa, saya menemukan suatu video klip dari grup acapela muslim namanya Da'i Nada (udah pernah denger toh?)
    Saya tertarik dengan judul salah satu lagu mereka :
    Maa lii rabbun siwaa (ada jg yg menulisnya maa lii robbun sewah, rabun siiwah, dll)
    Apa makna sebenar2nya dari judul tsb?

    oya, ini linknya kalao mau denger
    http://www.youtube.com/watch?v=RuWyjYcYKBw

    Buagus kok, saya saja suka.
    ---
    Dari Sutha

    ReplyDelete
  7. @ Sutha Adi Hanjaya
    Welcome,,, my best bro.

    Saya cuman tertarik, namun pengetahuan baru ala kadarnya. Tapi udah S3 loh saya (Sd, Smp, Smu)...

    Saya ga begitu mengenal mereka, Bli. Mungkin yang nyayiin "Thank's To Allah" itu ya.

    MAA LIY RABBUN SIWAH ? Sebagai pemuja Siwa, tentu Bli tertarik karena ada kata "siwah" nya kan ?

    Maa >>> Bisa berarti "sesuatu", jika kalimat tanya artinya mjd "Adakah/Apakah", bisa juga maknanya seperti "Laa"(Tidak). Tergantung konteks sih. Apalagi itu syair lagu, syair lagu seringkala bermakna metafora.

    Liy >>> Bagiku, Bagi saya.

    Robbun >>> Tuhan

    Siwah >>> Selain-Nya...

    Makna keseluruhan mungkin >>> Tiada Bagi Saya Tuhan, Selain-Nya.

    Masih universal, bukan maknanya.

    Iyaa, bagus koq Bli...

    Salam Indonesia Jaya !!!

    ReplyDelete
  8. Sutha

    Sama-sama...
    betul sekali dugaan anda. saya penasaran soalnya ada kata Siwah nya..

    Saya tertarik untuk membaca tulisan anda di lain waktu...

    ReplyDelete
  9. @ Sutha Adi Hanjaya
    Okey, Bli....
    Makasih kunjungannya....
    Jangan lupa tetap semangat menebarkan Dharma,,yaa... Pada siapapun, kapanpun.

    ReplyDelete
  10. Saya agak terganggu dengan kalimat"
    “Nama” dalam bahasa ‘Arab ISM – ALIF SYIN MIM

    Bukannya Alif Sin Mim ya? Bukan Syin. Beda tipis, tapi bisa jadi maknanya jauh beda. Wallohua'lam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oiya... Makasih Mbak, atas koreksinya. Kalo pake SYIN entar jadinya SYAMsiyah (Matahari) gitu yah.

      Segera di edit. Thank's ya.

      Delete
  11. Woww.... keren tenan, neeh .. hikz.
    Matur nuwon sawo :D

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...