Bismillahirohmaanirrohiim, Alhamdulillah, wassholatu wassalamu 'ala Rosulillah sholallahu 'alaihi wasallam.
Entahlah... bagi saya postingan, artikel, komentar, dan cara berinteraksinya lebih jujur dalam menggambarkan "about me" ketimbang about me yang dipajang di blog/ sitenya itu, siapapun itu saya akan belajar hal2 baiknya saja. Tiada manusia yang sempurna.
Tetap Bersyukur
Jika
kita merasa wajah kita pas2an maka sah saja jika tidak menampilkan
pohto pribadi, namun percayalah masih banyak koq orang yang tidak picik
dalam menilai penampilan doang. Jika kita merasa bukan siapa2, tidak
punya harta apa2, tidak punya keahlian apa2 yang patut dibanggakan,
percayalah bahwa Allah Ta'ala memberi kelebihan pada kita yang kita
sendiri masih belum menyadari. Disinilah letak kejujuran kita
dipertaruhkan, disinilah letak rasa syukur kita atas apapun yang kita
terima dari-Nya patut dibangkitkan.
Firman Allah Ta'ala, kurang lebih artinya :
QS Ibrohiim, 14:7. Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih."
Penilaian Subyektif
Kembali ke leptop *emang punya?*** Yeaah, menurut saya sih... jika kita memandang seseorang dari about me, maka bersiaplah terjebak pada subyektifitas. Mungkin dari kita akan langsung mlengos (membuang muka) jika kedapatan bahwa sebuah blog hanya milik anak ingusan. Lain halnya jika setelah kita ngintip about me dan postingan2 pohto kesehariannya dan kita dapati pemilik blog adalah kerabat seorang jenderal, orang2 kaya dan terpandang, yang titelnya sampe ngabisin space KTP, atau mungkin seorang pemuka agama, habib, syeikh, kiai, ustadz, mungkin kita akan sungkan memberi kritikan, kita takut mengingatkan. Lalu... kita menghormati, menghargai seseorang tuh karena apa?
Undzur Ma Qoola, Wa La Tandzur Man Qoola
(Perhatikan apa yang dibicarakan, jangan perhatikan siapa yang bicara)
Ingat, kalimat diatas hanya bagian dari Mahfudhot (niceword/ kata2 mutiara) dari Sayyidina 'Ali karomallahu wajha. Kita harus bisa membedakan mana hadits, mana atsar, atau sekedar kata2 mutiara Arab saja. Jangan terkecoh kawan, sebagaimana kalimat "Man Jadda Wajada" itu juga bukan atsar, bukan hadits, apalagi bagian dari Al Qur'an.
Makna Kredibilitas
Loh, bukankan dalam 'ilmu mustholahul hadits, kredibilitas seseorang itu sangat menjadi bahan pertimbangan untuk menilai derajad hadits? Jika demikian wajar dong kita mempertimbangkan siapa berbicara apa? Masak kita mo ngedengerin tukang becak bicara politik, masak iya kita percaya bakul jamu ngomongin feminisme?
Hhhh,,, gini ya bro! Dalam Islam, status sosial, status agama, maupun status pesbuk sekalipun tidak menjadi bahan penilaian "kredibilitas" seseorang. Para 'Ulama terdahulu sangat bijak dalam merumuskan hal itu, kredibilitas seseorang ditentukan dari kejujuran, yah kejujuran. Itulah yang dinilai dalam menjamin akurasi dan informasi yang ia sampaikan. Bukankah Baginda Rosulullah SAW mendapat gelar Al-Amin (yang dapat dipercaya) bahkan oleh musuh2nya sekalipun. Sekali lagi k~e~j~u~j~u~r~a~n.
Wooiiii,,, trusss mana "about me" mu Ris ? mana ? mannaa~ ?
Embuhlah... gak tahu saya... apakah jika saya anak seorang pejabat, orang kaya, bangsawan, anak kiai anda mulai mendengarkan. Namun jika saya anak pelacur, anak pencuri miskin, anda mulai mengabaikan?
Yang pasti, Al Qur'an mengajarkan kita untuk jujur dan konsisten. Konsisten dalam berucap dan bertindak, bagaimana kita menyampaikan tidak sekedar mauidhoh hasanah (perkataan yang baik), namun juga mampu menjadi uswatun hasanah (suri tauladan yang baik)
Yang pasti, Al Qur'an mengajarkan kita untuk jujur dan konsisten. Konsisten dalam berucap dan bertindak, bagaimana kita menyampaikan tidak sekedar mauidhoh hasanah (perkataan yang baik), namun juga mampu menjadi uswatun hasanah (suri tauladan yang baik)
QS Ash Shof, 61:2-3. Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian lakukan? Besar sekali kebencian di sisi Allah kalau kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan.
Maha Benar Engkau Ya Allah, atas segala firman2-Mu.
Semoga bermanfa'at.