Saturday, 26 November 2011

Menghormati Orang Karena Apa ?

Gambar dari sini
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sholawat serta salam senantiasa kita haturkan pada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, sohabat serta para pengikutnya.

Ketika berhadapan dengan seorang Profesor tentu kita mengormati dan menghargainya karena kejeniusannya, ketika berhadapan dengan orang kaya entah sadar atau tidak kita segan dengan kekayaannya, ketika berhadapan dengan pejabat terkadang kita segan dengan kedudukannya. Dan kita sebagai ummat Islam tentu juga langsung mengingat firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala, kurang lebih artinya :





Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. Al Hujurat, 49 : 13)[Lihat tafsir di sini]. 

Itulah dalil naqli yang biasa kita ingat ketika ada diantara kita yang menghargai - menghormati seseorang bukan karena ketaqwaannya. Yah... dan dalil itulah yang biasa disampaikan agar secara tidak langsung seorang 'Ulama - Kiai - Ajengan - Ustadz - Syeikh mendapat penghormatan dan penghargaan dari masyarakat. Dalil itu pula yang biasa diucapkan seorang muslimin - muslimat (yang merasa menjadi) pecundang ketika menghadapi kesombongan orang yang membanggakan kekayaan, kedudukan dan prestasi keduniawian.

Adalah hal wajar ketika kita bisa menghargai dan menghormati seseorang karena prestasi duniawinya, adalah hal wajar ketika kita dengan mudah menghormati dan menghargai seorang 'Ulama, seorang Ustadz/Ustadzah. Namun... apakah wajar ketika kita tidak bisa menghormati dan menghargai seorang preman, seorang pelacur, seorang ahli maksiyat ? Bahkan... masihkah kita bisa menghormati dan menghargai seseorang yang kita anggap kafir karena belum memeluk Islam ?.

Wake up, kawan.... !!! Kita belum tentu lebih bertaqwa walaupun rajin sholatnya, kita belum tentu lebih beriman dan berislam ketimbang para ahli maksiyat yang mungkin kita remehkan, kita belum tentu lebih mulia daripada orang2 non-Islam yang begitu tulus menjalankan agamanya, karena... kita tidak tahu bagaimana kondisi akhir hayat kita, masihkah bertaqwa, masihkah beriman, masihkah berislam ? Bisa jadi yang kita anggap hina, bisa jadi yang kita anggap tak bertaqwa justru diakhir hayatnya lebih mulia dari kita. Yang pantas kita lakukan hanyalah berdo'a dan berusaha, agar langkah kita senantiasa dalam jalan lurus yang diridhoi Allah Ta'ala.

Semoga bermanfa'at.

12 comments :

  1. Subnhanallah... Nice posting mas...

    Remider bangeeet... makasih yaaa :)

    ReplyDelete
  2. nice, ikhtiar dan berdoa ditambah tawakkal..
    tentu itu usaha yang bisa dilakukan manusia, nice posting..
    btw ditunggu ya follow baliknya :)

    ReplyDelete
  3. jangan pernah merasa lebih dari orang lain, karena belum tentu amal ibadah kita lebih baik daripada mereka, andaikan benar lebih baik, yakinkah jika perbuatan dosa kita tidak lebih banyak darinya?

    makasih dah di ingatkan ^_~

    ReplyDelete
  4. @ Una : Yeaahh,,, makasih dah nyimak... darimu sy belajar keistiqomahan bersilaturrahmi ke sesama blogger koq Beib ***PLAK....

    @ Shine : Makasih juga, Mbak...

    @ Socahfahreza : Tentu,,, cah bagoess. Dah takfolow koq.

    @ Miss 'U : Makasih juga telah menambahkan, Mbak. Kedipannya itu loh, gak nahaaaannn... pake maskara yah... koq lentik banget.

    ReplyDelete
  5. Istiqomah we aku ra ngerti tegese, Beib. Beib ki sakjane opo sih :p

    ReplyDelete
  6. Bagus banget artikelnya Mantap

    ReplyDelete
  7. @ Zintho : Makasih kunjungannya, kawan...

    ReplyDelete
  8. aku juga ga gampang memandang orang dari gelarnya :)

    ReplyDelete
  9. @ Una : Mosowk ga tau arti "istiqomah" toh, Beib...

    @ ZhinTho : Makasih telah menyimak, Mas... Btw Sh!ntho tuh kan istrinya Romo, ya...?

    @ Rio : Iya, jangan pandang bulu kaan...Sy ndiri kalo ada ceweq lewat sering menundukkan pandangan koq, Mas...liat kakinya nempel bawah apa enggak, kalo enggak berarti kuntilanak....hehe :D

    ReplyDelete
  10. Bahasan menarik mas bro samaranji. Coba dikembangkan dengan pertanyaan ini :
    ===> Mengapa dengan orang yang baru dikenal bisa lebih ramah dan pemaaf dibandingkan yang nyata-nyata orang yang telah kita kenal betul perangai dan historynya?
    ===> Kenapa bahasan memanusiakan manusia lebih sedikit daripada pembahasan global warming, kesehatan, dan lingkungan hidup?
    ===> Lalu kenapa ada kebencian ras atau negatif persepsi. Misal kulit hitam itu jelek, rasis negro di amrik, rasa sebal orang jawa pada cina, dan lain-lain.
    .
    Semoga tulisan-tulisan mas bro dimasukkan dalam amalan da'wah. amien.

    ReplyDelete
  11. @ Johny : Amin,,,
    ==> utk pertanyaan 1 : tergantung kitanya koq, kita gak bisa mengeneralisasi semua orang bersikap gitu kan...
    ==> utk pertanyaan 2 : siapa yang menguasai media massa itulah yang akan membentuk opini dunia, media massa ibarat tempat ngerumpi bertopeng "intelektual". Soo, mari jadikan media massa berasaskan Al Qur'an.
    ==> utk pertanyaan 3 : melalui Al Qur'an kita diajarkan utk saling mengenal dng suku bangsa lainnya bukan ?. Teori evolusi yang mendorong manusia survive dng menghalalkan segala cara harusnya diganti dengan co-evolusi yang mengajak semua manusia bersinergi bersama membangun peradaban.

    Hanya pendapat pribadi Mas,,, jika ada yang salah jangan sungkan meluruskan. Makasih...

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...