Thursday, 21 April 2011

Mau Jadi Ustadz/ Kiyai ? Gampang Koq !

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sholawat serta salam senantiasa kita haturkan pada junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW.

Predikat ustadz/kiyai seolah sekarang menjadi sesuatu yang  mudah dicari. Masyarakat terkadang semakin tak perduli pada background (latar belakang) intelektualitas keagamaan seorang Kiyai, apakah diperoleh secara “instan” ataukah melalui sebuah metode pendidikan yang valid sanadnya, semisal Pondok Pesantren yang notabene masyhur dengan sanadnya yang terjaga dan selalu mendapat  pemeliharaan. Menyikapi perkembangan ditengah-tengah masyarakat kita dengan munculnya wabah ‘demam’ menjadi Ustadz/Kiyai, sebagai santri kita perlu mewaspadai gejala ini. Lebih-lebih menjelang kampanye pemilu, biasanya partai tertentu akan merangkul ustadz/kiyai “bookingan” untuk memuluskan jalan penghimpunan dukungan.

Bukankah hal ini butuh kewaspadaan khusus. Bila perlu kita perlu “siaga satu”. Para ustadz/ kiyai ‘orbitan’ ini disadari atau tidak menimbulkan kerancuan di tengah masyarakat. Tentunya dari segi penguasaan ilmu (agama).

Terkadang seorang intelek bisa mendapat predikat ustadz/kiyai hanya karena kemahirannya berbahasa Arab. Sebagai gambaran, orang Arab yang notabene mahir berbahasa Arab saja tidak lantas semuanya menjadi Ulama ? Apa susahnya bagi orang Arab untuk menjadi Kiai ? Padahal Allah menjanjikan derajat tinggi bagi Ulama. Sebagai perbandingannya di Indonesia, seseorang dengan mudah menjadi ustadz/kiyai dan bahkan tanpa ‘nyantri’ sekalipun, sudah punya cukup keberanian berdebat tentang masalah-masalah hukum Islam hanya bermodal kitab terjemahan, referensi dari internet, atau mahir membaca huruf Arab serta titel akademis yang disandangnya. Apa susahnya ? Dan ini (mungkin) salah satu sebab mengapa 'guru' kita mengharamkan santrinya membaca kitab terjemahan (dengan batasan tertentu) agar kita tidak nggampangke (meremehkan) proses ‘leveling’ tholabul 'ilmi !

Bicara tentang ilmu, 'guru' kita juga pernah berpesan, ”Kalau kamu ditanya tentang bagaimana hukumnya makan babi. Maka jawab saja tidak tahu, atau jawab saja menurut Guru saya, makan babi itu haram!!” Makna apa yang tersirat dari pesan tersebut ? Kenapa harus menyertakan sepenggal kalimat “Menurut guru saya demikian…..” ?. Setiap Muslim mungkin tahu bagaimana hukumnya memakan babi. Namun jarang sekali yang bertindak selalu berdasarkan (kapasitas) ilmu, masalahnya disini bukan haram atau halalnya babi, akan tetapi cara penyampaian hukum tersebut harus sesuai dengan kapasitas ilmu dan kredibilitas sanad yang kita miliki serta harus jeli-jeli meletakkan maqam kita pada tempat yang tepat, yaitu santri.

Idealnya, jika santri ditanya suatu hukum, seharusnya ia memperhatikan kapabilitas atau tingkatan level ilmu yang dimilikinya. Tidak sekedar asal mencomot hadits atau ayat dari suatu kitab sekalipun dia tahu itu relevan sekali dengan masalah tersebut. Dalam hal ini kita bisa mengambil contoh, ”Sing ngerti Wali ya para Wali !”. Jika ada orang mengatakan bahwa Syaikh “Anu” adalah Wali, yang kemungkinan saja memang benar. Masalahnya, apakah orang tersebut tidak meletakkan dirinya sendiri pada maqam Wali (berdasar apa yang diucapkannya) ? Dan berdasar (ilmu) apa orang tersebut mengetahui kewalian orang lain ? Mari, kita biasakan dalam bertingkah laku itu berdasarkan ilmu. Jangan asal tebak dan jangan asal comot. Semua ada ilmunya. Bahkan amalan (ibadah) yang kita kerjakan tanpa ilmu bakal  percuma dan tidak akan berguna.

Tidak susah memang, menukil salah satu ayat atau hadits yang kita temukan dalam suatu kitab, atau bahkan dari internet online, kemudian kita memutuskan sendiri suatu masalah laiknya seorang Mujtahid tanpa mempertimbangkan kedalaman ilmu yang kita miliki. Kalau memang demikian, judul di atas “Mau Jadi Ustadz/ Kiyai ? Gampang Koq !” mungkin sudah tidak bisa dibantah lagi !

*** (Sebuah catatan dari sahabat, thank's to...Kang Mujahid).

6 comments :

  1. Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh

    seolah sdh menjadi suatu kesepakatan, nggak tahu kordinasinya kapan bahwa seseorang yang berpeci,berjubah, atau bersorban apalagi dilihatnya fasih ber ARAB,orang awam akan dengan gampangnya memanggilnya dgn panggilan USTADZ.

    seolah sdh menjadi suatu kesepakatan, nggak tahu kordinasinya kapan bahwa seseorang yang berjubah, berjenggot atau bersorban apalagi dilihatnya sudah tua, pegang tasbih, pegang al kitab,orang awam akan dengan gampangnya memanggilnya dgn panggilan KIYAI.

    jadi gampang sekali jika kepengin dipanggil ustad, apalagi masih muda, beli aja peci putih lalu pake sorban, ucapkan salam pada setiap orang dengan asalamualaikum yg MEDHOK pasti jadi ustad !

    tapi tidaklah demikian....nisbat USTADZ atau KIYAI sungguhlah mempunyai tanggungjawab yang berat karena sudah menjadi suatu kesepakatan nggak tahu kordinasinya kapan bahwa seseorang USTADZ atau KIYAI sungguhlah titel orang yang benar2 TAHU tentang AGAMA.

    wasallam !!!

    ReplyDelete
  2. saya pernah tergoda dengan predikat ustadz melalui Page FB yang saya publikasikan...tapi setiap kali kata "ustadz" itu tertulis dalam postingan komentar..seperti ada kerikil yang masuk ke mata saya dan seperti ada yang mengedor kalbu saya...akhirnya saya sendiri malu membaca gelar terhormat itu pada diri saya...
    karena itu saya selalu memposting balasan komentar dengan segera untuk menolak gelar itu setiap ada yang memanggil saya ustadz...

    a'udzubillah...memang luarbiasa godaan syaithan pada diri manusia...dari segala penjuru selalu dicoba....

    ReplyDelete
  3. @ Kang O. Darsa (Musafir 'Ilmu)
    Wa'alaykum salaam warohmatullahi wabarokatuh,,,

    Setuju, emang sebuah predikat yg butuh tanggung jawab berat. Namun saya diajarkan tetap menghormati beliau2 yang sudah dipanggil ustadz/ kiyai oleh masyarakatnya (ummatnya), walaupun sekedar kiyai kampung, kiyai surau/ musholla yang sekedar mengajar akif-ba-ta. Kami tetap diajarkan menghormati, insya-Allah penghormatan kita akan membuat beliau2 introspeksi.
    ======================================

    @ Kang Abu Razziq
    Subhanallah,,,
    Sungguh bermanfa'at sharenya, kang.

    @kang tentu masih ingat adagium "Pembeli adalah Raja" ?. Lalu siapa yang berhak mengatakan hal tsb ? apakah pedagang atau pembelinya ? Demikian juga dengan postingan di atas, demikianlah metode yang sering digunakan "guru" kami. Disaat memberi mauidhoh pada para ustadz, beliau guru saya sering mempertanyakan ke'ilmuan mereka, disaat menghadapi para habib beliau guru saya sering memberi contoh "keluarga" Nabi SAW yang banyak mendustakan, disaat menghadapi para hufadz beliau guru saya sering memberi peringatan2 akan beratnya tanggung jawab seorang penghafal Qur'an, disaat memberi mauidhoh pada santri ecek-ecek sprti saya, beliau guru saya hanya memerintahkan untuk menghargai dan menghormati siapapun yang dipanggil ustadz atau kiyai atau hafidz atau habib oleh masyarakatnya.

    ReplyDelete
  4. seseorang dengan mudah menjadi ustadz/kiyai dan bahkan tanpa ‘nyantri’ sekalipun, sudah punya cukup keberanian berdebat tentang masalah-masalah hukum Islam hanya bermodal kitab terjemahan, referensi dari internet, atau mahir membaca huruf Arab serta titel akademis yang disandangnya.

    yah begitulah....sebagaimana pengalaman @abu razziq kemudian beliau menyadari.alhamdulillah.

    ReplyDelete
  5. Ustad itu artinya guru kan??
    bukan soal susah gampangnya mendapat predikat guru, cuma masarakatnya yang berlebihan menempatkan orang ber predikat guru,,
    padahal bisa ngaji alif ba ta tsa aja kalau dia mau ngajar anak-anak sudah pantaslah dia di panggil ustad oleh anak-anak didiknya betul kan begitu??

    kasus lain seperti Haji,,
    selama ini yang saya tahu kalau udah haji, masyarakat akan menuntut seorang haji berprilaku sempurna, padahal haji kan di dapat dengan cara membayar dan mengikuti proses pemberangkatan haji dan proses ibadah haji toh?? bukan berdasarkan seberapa besar tingkat ilmu dan ke shalihannya,,
    orang yang gak bisa baca quran juga bisa naik haji,, kan sudah ada headset yang bisa memandu dia dalam bacaan saat melakukan ibadah haji.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju... masyarakat tak prlu lebay menempatkan predikat "guru". Dengan penghormatan proporsional, insya-Allah para "guru" juga pada akhirnya bisa menempatkan diri pada peran sbg teladan koq. Makasih Pak ;)

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...