Tuesday, 11 January 2011

Jadilah Dirimu Sendiri, Zaed !!!

(Fiksi lagi dulu ya...)

Santri baru ini bernama Zaed, nama yang singkat untuk bocah seusianya, sengaja orang tuanya memberi nama demikian dengan harapan dia selalu mempunyai nilai ‘tambah’.  Tambah rejekinya, tambah ilmunya, tambah rajinnya, tambah patuh pada orang tua, dan tambah-tambah lainnya asalkan bukan tambah utangnya, tambah malasnya, tambah bandelnya.

Si Zaed merasa dia bukan bocah bandel atau bocah yang butuh ‘penanganan’ khusus sehingga orang tuanya harus memaksa ia untuk menjadi santri di sini. Maklumlah, masyarakat sekarang menganggap bahwa Pesantren hanya sebagai tempat orang buangan, tempat perawatan anak nakal, yang lebih parah lagi menganggap Pesantren hanya tempat kost-kostan, namun anehnya mereka menuntut produk pesantren harus menjadi anak sholeh, harus ‘alim. Repot kan !!, masuknya ancur-ancuran eee.. keluarnya minta yang  macam-macam.

Padahal Zaed sendiri, saat ini, merasa dirinya anak yang introvert, senang dengan kesendirian, suka menyalahkan diri bila mengalami kegagalan, dan sering memberi permakluman…, menyedihkan !!. Guru-guru di sekolah, teman-teman dan orang-orang terdekatnya selalu berpesan, pesan itu sedikit usang dan memberatkan, “Jadilah dirimu sendiri !!!”. Suatu kali ia pernah berdebat dengan temannya, “Coba pikir.., gimana mau menjadi diri sendiri bila kita saja belum tahu ‘diri’ kita yang mana, apakah diri kita yang malas atau diri kita yang pekerja keras, diri kita yang possesive atau diri kita yang agresif.” Kalau dipikir-pikir, benar juga tuh anak punya pendapat, bukankah setiap kita terkadang punya pribadi ganda, bukankah setiap kita selalu menciptakan figur-figur yang dicita-citakan dalam alam idealisme yang terkadang mengalami perubahan atau malah saling bertentangan, dan pada akhirnya menuntun kita untuk bertanya, “Siapa sih diri kita ?”.

Nih anak memang rada-rada aneh, entah ilmu apa yang dipelajarinya, entah buku apa yang dibacanya, entah pengalaman pribadi yang bagaimana yang membuatnya pernah berkata pada orang tua saat membujuknya untuk masuk ke Pesantren, “Aku takkan ke mana-mana, makanya jangan katakan, ‘Kembalilah seperti Zaed yang dulu!!’. Jangan katakan pula ‘diri’ku menghilang, sekali lagi kutegaskan, aku takkan ke mana-mana tapi aku ada di mana-mana.”

Sableng, bukan ?. Makanya jangan heran bila orang tuanya memaksanya untuk masuk ke Pesantren, biar ‘sembuh’ katanya. Padahal bocah seusianya adalah manusia yang mulai memasuki tahap adolesence, tahapan paling rawan, tahapan dimana anak SMU itu harus berjuang mati-matian mencari jati diri yang dirasanya hilang, atau belum ditemukan. Wajar bila tingkahnya aneh-aneh dan sering membuat orang disekelilingnya kerepotan dan harus mencurahkan berbagai bentuk pengawasan.

Sebenarnya sah-sah saja apa yang dilakukan Zaed dan bocah seusianya yang berada dalam masa transisi, masa peralihan dari dunia anak-anak yang penuh imajinasi menuju alam dewasa yang penuh dengan realita. Namun yang paling prinsipil disini, perlunya orang-orang di sekitar Zaed memberi pemahaman pada Zaed dan teman-teman seusianya, bahwa tak perlu mengatakan, “Siapa sih saya ?”. Karena pertanyaan itu hanya akan mematikan karya dan karsa, dan hanya akan menjebak seseorang untuk mencari dan terus mencari siapa dirinya tanpa usaha untuk menciptakan dan membentuk pribadinya. Yang terpenting bukan sekedar mencari ‘jati diri’, tapi harus diiringi menciptakan dan membentuk pribadi. Maka jangan hanya bertanya, siapa saya ?, namun tunjukanlah pada dunia siapa diri kita. (*)

5 comments :

  1. Hmmm...
    sebenarnya untuk membentuk pribadi yang baik itu rada2 susah juga. Kita sering terjebak dengan konsekwensi kehidupan ini. Kita memang sering mengikuti arus dunia ini terkadang sampai lupa ada kutil tumbuh di hidung.

    Manusia2 seprti Zaed ini sangat banyak, bahkan hampir seluruh manusia memiliki sifat seperti itu. Itulah sebabnya Rasulullah SAW di utus untuk memperbaiki ahklak manusia.

    Pesantren bukanlah sebuah jawaban untuk mengembleng anak untuk membentuk pribadi yang luhur. Sebab untuk membentuk pribadi anak yang baik itu sebenarnya kedua orang tuanyalah yang sangat berperan.

    Agar anak mau sholat sebenarnya juga tidak perlu di perintah, tunjukkan padanya bukti konkrit bagaimana sholat itu!

    Saya juga punya 3 orang putra dan yang paling tua saya masukan dalam sekolah pesantren dangan satu ultimatum tegas bahwa mencuri adalah dosa besar dan merugikan diri sendiri dan orang lain?

    Untuk membuktikan perkataan saya ini, itulah sebabnya saya masukan dia ke pesantren, agar apa yang saya katakan orang lain juga mengatakannya.

    Jadi pendidikan awal itu bermulah dari sikap orang tua, pendidikan di luar adalah tambahan belaka sebagai sebuah pengakuan formalitas belaka.

    Satu lagi pesanku pada anakku itu, apa bila engkau bertemu dengan orang2 yang tidak di kenal dan mengajakmu untuk berpindah agama, maka katakan padanya "bagamana cara engkau membuat nasi goreng?" Setelah dia menjelaskan cara dia membuat nasi goreng, itu artinya engkau sudah tahu bumbunya. Bukankah bumbu yang ada padamu lebih baik dari padanya? Sudihkan engkau menukar bumbu yang ada padamu dengan bumbunya? Anakku menjawab tidak.

    Legahlah hatiku mendengarnya...

    hal-hal yang sepele yang biasa kita lewatkan begitu saja padahal bagi seorang anak begitu pentingnya, hal inilah yang sering di lupakan oleh orang tua. Kenyataan ini sebenarnya sengaja kita ciptakan sendiri demi kepentingan pribadi ataupun menyangkut rekan bisnis.

    Terkadang anak kita menajdi aktif takkalah ada tamu kita berkunjung ke rumah. Hal ini terjadi sebenarnya mencerminkan bahwa anak kita tidak relah perhatian kita di ambil oleh sang tamu.

    Hal ini merupakan indikasi aktifnya otaknya bekerja dan naluri kecemburuan yang menyelimuti dirinya, ketika otak dan naluri begitu aktif bekerja pada saat2 seperti ini, maka seharusnya sebagai orang tua kita memberikan beberapa pertanyaan kepadanya di sekitar kehidupannya, saya jamin dengan mudah dia menjawabnya, padahal dengan pertanyaan yang sama dalam kesempatan berbeda belum tentu anak punya jawaban.

    dengan pengalaman saya di atas sebenarnya perhatian orang tua lebih di utamakan oleh anak dari pada permen dalam genggamannya.

    SALAM

    ReplyDelete
  2. @ Mas Filar
    Selamat datang lagi dalam dunia blogger ini (kayaknya lama ngilang, sy berkunjung di tempat kangmas haniifa, kang agor, mas kaisnet, mas abu hanan, mas wedhul, om jell, koq belum ada koment2 mas filar ya disana. Kemaren2 ada aktifitas apa mas ?, he,,he,,)
    ,,,
    ,,,
    ,,,
    Pesantren bukanlah sebuah jawaban untuk mengembleng anak untuk membentuk pribadi yang luhur. Sebab untuk membentuk pribadi anak yang baik itu sebenarnya kedua orang tuanyalah yang sangat berperan.
    >>> beruntung sekali memiliki ayah seperti mas filar yg memiliki perhatian dan kemampuan, namun saya juga merasa beruntung memiliki orang tua sy yg merasa ga mampu memberikan bimbingan agama sehingga merasa perlu menyerahkan pendidikan agama pd seorang 'Ulama.
    >>> karena,,,Kakek sy kejawen, masih suka dng ritual sesajen, klenik, keris maupun akik. Generasi ayah dan paman2 (dulunya sih) abangan, islam ktp, yg penting berbuat baik pd sesama dan mengakui adanya Tuhan katanya, jadi sholat seringkali diabaikan, sekarang malah lebih cenderung ke tharekat. Generasi kakak (mungkin seumuran mas filar, karena juga berputra 3), kakak2 keponakan lainnya entah mengapa ko lain2 "Islam"nya, ada yg cenderung ke salafy wahaby, ada yg cenderung ke sunny, bahkan ada yg syi'i. Nah,,, gengerasi sy inilah yg sekarang jadi binun dan lagi mencari2, Apa sih itu "Islam" ?

    ReplyDelete
  3. Salam Manis Selalu buat adikku @Samaranji.

    Saya jarang ngeblog akhir2 ini di karenakan ada pengambilan gambar lagu2 daerah di tempat saya, itung2 bisa beli pulsa lumayanlah heheheh. Hampir 10 tahun saya menggeluti dunia editing ini, dengan uang inilah saya membiayai nafkah anak bini. (sekarang saya sedang mengerjakan 2 album daerah).

    Terimakasih atas perhatianmu sebelumnya!

    Melihat situasi di dalam keluargamu, saya menilai bahwa situasinya cukup memprihatinkan. Perbuatan2 seperti itu adalah ritual2 zaman dahulu kala dimana ilmu belum di datangkan (Al Quran)

    Setelah Al Quran hadir di tengah2 kalian maka tinggalkan segala perbuatan yang berbau syirik.

    Terkadang budaya dalam suatu kaum banyak yang mengandung syirik apabila di lihat dari kacamata agama, tapi apabila di telusuri secara dalam ternyata murni budaya doang, tidak ada unsur untuk menduakan Tuhan.

    Kebiasaan2 seperti ini sangat meragukan dan sangat terbuka untuk menduakan Tuhan, oleh sebab itu maka tinggalkanlah.

    Bukan berarti Allah tidak memuliakan sebagian dari benda mati, Allah memuliakan Masjid Mekkah, Nabawi, Batu Hajar Aswad dll. Akan tetapi semua benda2 itu bukan tempat untuk minta tolong juga bukan untuk di keramati dan memberikan sesajen.

    Apabila di ukur dengan kemuliaan, antara keris dan bangunan Ka'bah, maka yang lebih mulia tentu lebih mulia Ka'bah. Belum lagi di hitung sejarahnya pendirian bangunannya. Kalau kemuliaan itu di ukur dengan sesajen tentu bangunan Ka'bah lebih pantas menerimahnya dari pada sebuah keris.

    Seluruh kehidupan ini sudah Allah berikan contoh dan perumpamaannya. Kalau kita tampan dan gagah dan dengan ketampanan itu kita jatuh dalam kesombongan dan keangkuhan, nanti Allah akan mendatangkan Nabi Yusuf sebagai perbandingan, Adakah manusia yang lebih tampan dari hambaNya ini? sedangkan Nabi Yusuf AS tidak lalai dengan ketampanannya.

    Kalau kita di beri kesengsaraan yang luar biasa dan dari kesengsaraan itu kita menjadi lalai karenanya, Allah nanti di akhirat mendatangkan Nabi Ayub AS sebagai perbandingannya, Adakah manusia yang lebih sengsara dari Nabi Ayub AS?

    Begitu juga Sulaiman dengan kerajaannya yang tiada duanya dalam soal bangunan. Nah semua contoh2 ahklak diatas semuannya ada pada diri Nabi Muhammad SAW.

    Sebagai penutup para nabi beliau penyempurna seluruh nabi2 (Adi Purna).

    Islam sebenarnya tidak mengenal Tarekat, Salafy, Sunny, Syiah dll. Pada zaman Rasulullah SAW, sahabat2 Nabi tidak mengikuti aliran2 tersebut, baik Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali, mereka semua hanya mengikuti Rasul mereka.

    Memang benar aliran2 ini muncul setelah Rasululllah SAW telah tiada akibat dari sifat ego manusia dan tipu daya Iblis. Akan tetapi bukankah Allah juga punya tipu daya? Bukankah sebaik2 tipu daya adalah Zat yang menciptakan tipu daya tersebut? Bukankah lebih baik kita berguru pada yang menciptakan tipu daya itu?

    Kalau kita di suruh sholat oleh Allah dan RasulNya, ya sholatlah dengan sewajarnya, begitu juga dengan puasa, sadakah, zakat dll. Tidak perlu berlebih-lebihan (pamer) juga tidak perlu terlalu pelit, sewajarnyalah asal ihklas.

    Ibarat batang sungai tentu ada banyak anak sungai, ibarat batang pohon tentu juga ada cabang dan ranting. Agama juga demikian.

    Kita juga tahu mana batang mana cabang dan ranting, di agama kita juga tahu mana batangnya dan rantingnya. Bukankan Al Quran dan Sunnah nabi adalah Batangnya, mengapa kita harus memilih cabang dan rantingnya yang jelas lebih lemah dari pada batangnya?

    Memang susah juga seh untuk memberikan pandangan yang baik kepada keluarga untuk menujuh jalan yang lurus, tapi setidak2nya kita udah usaha ya toh? dari pada tidak ada sama sekali.

    SALAM

    ReplyDelete
  4. assalamu alaikum
    Saya sedang mencoba mengajari anak saya "mencari" akar dan berpegang kuat pada akar.Setelah itu saya membiarkan dia untuk mendaki hingga menemui segala ranting hingga Allah menentukan ke arah mana dia harus berjalan.Yang terpenting adalah akar sebagai fondasi batang.bukan pohon mangga dekat rumah saya,,,aduh tiap sore mesti jadi satpam awasi anak2 belajar panjat (itung2 belajar sabar hahaha,,,).
    salam
    Abu Hanan

    ReplyDelete
  5. @ Mas Filar
    @ Mas Abu Hanan

    Wa'alaikum salam warahmatullah,,,

    Duh,,, ko pada pake bahasa "tamtsil" seh. Ada "batang" ada "ranting",,, kalo saya pingin menelusuri semuanya deh, dari akar, batang, cabang, ranting, daun, sehingga dapat juga menemukan "buah"nya. he,,,he,,,

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...