Friday, 18 March 2011

Boleh Ga Sih Ziarah Qubur ?

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu Tabaroka Wa Ta'ala. Sholawat serta salam semoga senantiasa terlimpahkan atas Baginda RAsulullah Muhammad SAW.


Bingung juga menyikapi hal "Ziarah Qubur", apalagi ada sebagian dari umat Islam yang ga mempercayai adanya siksa kubur (adzab di alam barzakh). Ada juga yang masih dalam keraguan menyikapi siksa kubur, dan kini beliau -pemilik blog- sudah di alam qubur (semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT, dan dosanya mendapat maghfiroh-Nya). Di satu sisi, sebagai umat Islam tentu kita punya kewajiban untuk saling mendo'akan dan disisi lain ada saudara kita yang terlalu lebay dalam berdo'a di tempat kubur.
Apakah Ziarah Qubur Infiltrasi Dari Agama Lain ?
Foto-foto berikut semoga menjadi bahan penilaian :










Adakah Perintah Berdo'a Di Tempat Kubur ?

A'udzubillahi minasy syaithoonirrojiim...
وَلاَ تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِّنْهُم مَّاتَ أَبَداً وَلاَ تَقُمْ عَلَىَ قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُواْ بِاللّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُواْ وَهُمْ فَاسِقُونَ   
Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendo'akan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik. (QS At Taubah, 9 : 84)

Yups,,, ayat diatas adalah larangan agar kita tidak menshalati jenazahnya dan "berdiri" (ditafsirkan sbg - berdo'a-) dikuburan mereka. Lalu siapa yang dimaksud "mereka" ?. Mari telusuri pada ayat sebelumnya...

QS. At Taubah, 9 : 81-83. Insyaallah kurang lebih artinya :

9.81. Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: "Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini". Katakanlah: "Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya)" jika mereka mengetahui.

9.82. Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan. 

 9.83. Maka jika Allah mengembalikanmu kepada suatu golongan dari mereka, kemudian mereka minta izin kepadamu untuk keluar (pergi berperang), maka Katakanlah: "Kamu tidak boleh keluar bersamaku selama-lamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya kamu telah rela tidak pergi berperang kali yang pertama. Karena itu duduklah bersama orang-orang yang tidak ikut berperang".

Tafsir : insyaallah disini
Asbabun Nuzul : insyaallah disini

Apakah lafadz تَقُمْ (taqum) yang sebenarnya berasal dari akar kata qooma (berdiri) dapat diterjemahkan dengan "berdo'a" ?. Bagi kita yang awam masalah nahwu-sharaf,  mungkin ada baiknya kita telusuri padanan katanya dalam Al Qur'an Al Kariim (dapat di search engine dng kata kunci  تَقُمْ  di sini ), yup,,, insyaallah kita menemukan kata tersebut terdapat juga dalam QS At-Taubah, 9 :108), malahan diterjemahkan sebagai "bersembahyang" (?).. A'udzubillahi minasy syaithoonirrojiim...

لاَ تَقُمْ فِيهِ أَبَداً لَّمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَن يَتَطَهَّرُواْ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ

Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguh-nya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih. (QS. At-Taubah, 9 : 108)



Kesimpulan :
  1. Adanya larangan menshalati jenazah dan berdiri (berdo'a) di kuburan orang2 yang enggan berjihad jalan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. (untuk makna "jihad" di masa sekarang, mari kembalikan pada fatwa para 'ulama).
  2. Jika point ke-1 adalah larangan yang diberlakukan bagi "mereka", masihkah berupa larangan bagi yang tergolong "bukan mereka" ?
  3. Jika ada sebagian umat Islam yang melarang berdiri (berdo'a) di kuburan saudara umat Islam lain, bukankah berarti dia menganggap/ menuduh saudara sendiri masuk dalam kategori yg disebut dalam QS At-Taubah, 9 : 81-84 tsb. (mungkin, kondisi inilah yang diharapkan oleh para musuh Islam yakni umat Islam mudah mengkafirkan saudara Islam sendiri)
Namun bagi saya, saudara islam lain yang mengkritisi "ziarah qubur" patut kita dengarkan. Kita tentu setuju, bahwa akan selalu ada penyimpangan sekecil apapun ketika kita sudah berusaha untuk benar-benar menjadi umat Islam yang kaffah.


Selebihnya, mari senantiasa berdo'a untuk memohon perlindungan dari kesesatan. A'udzubillahi minasy syaithonirrojiim, Bismillahirrahmaanirrahiim.


رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ
(Mereka berdo'a): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)". (QS Ali Imran, 3:8)

Wallahu a'lam.
Semoga bermanfa'at.

20 comments :

  1. Ziarah qubur dapat menjadi media untuk menyambungkan hubungan emosional antara si peziarah dengan yang diziarahi, hal ini diajarkan oleh Alloh SWT dalam Al Qur'an : Allahummaghfirlana wali ikhwanina alladzina sabaquuna bil Iman ; ya Allah ampunilah kami, dan saudara-saudara kami yang beriman yang telah mendahului kami.

    Tata caranya untuk yg tdk sesuai memang perlu diperhatikan.

    Tks Mas Samaranji, semoga senantiasa berada dalam lindungan-Nya, amien..

    ReplyDelete
  2. @ Ajengan Iqbal.

    Maaf, jika menumbuhkan hubungan emosional bagi yang masih hidup, saya setuju. Namun bagi yang sudah meninggal, mungkin saya masih kurang yakin untuk itu.

    Adapun QS. Al Hashr, 59 : 10 kurang lebih artinya : "Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang TELAH BERIMAN LEBIH DULU dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang."

    Adapun "Sabaquuna bil iman" saya masih bingung maknanya,,,
    1. Telah beriman lebih dulu ( orang2 yg telah menyatakan keislaman dan keimanannya lebih dulu). Ataukah ??
    2. Yang beriman yang telah mendahului kami. (Orang beriman yang telah meninggal terlebih dulu)

    Terimakasih jika berkenan menjelaskan.

    ReplyDelete
  3. Terima kasih Kang Samaranji, artikel ini termasuk penting menurut saya. Karena saya belum mempelajari hal ziarah qubur ini, dan @Kang bisa berlaku adil dalam menyikapi

    sabaquwnaa bi l-iymaani (059,010)
    lebih dahulu dengan keimanan

    Siapakah Saabiquwna ? jawabannya ada di surah al waaqi'ah

    056,010 : wa ssaabiquwna (l)ssaabiquwna

    056,011 : -uwlaa-ika lmuqarrabuwna

    056,012 : fiy jannaati (l)nna'iymi

    056,013 : tsullatun mmina l-awwaliyna

    056,014 : wa qaliylun mmina l-akhirina

    Jadi sabiqun terdiri dari :
    1. segolongan besar dari orang-orang awal
    2. dan segolongan kecil dari orang-orang akhir

    Sabiqun bukan berarti orang-orang "yang beriman yang telah mendahului kita. (Orang beriman yang telah meninggal terlebih dulu)"

    menurut saya Sabiqun adalah orang-orang yang "terutama di dalam keimanan",
    bukan hanya orang-orang yang "telah beriman lebih dulu",
    karena Sabiqun juga terdiri dari "segolongan kecil dari orang-orang akhir"

    ReplyDelete
  4. @ Kang Qarrobin,,,

    setuju kang, sy juga pernah mendengar tafsiran tsb dimaknai dng
    1. segolongan besar dari orang-orang awal (kaum beriman sebelum risalah Islam)
    2. dan segolongan kecil dari orang-orang akhir (kaum beriman setelah risalah Islam).

    namun pendapat "orang beriman yang telah meninggal terlebih dulu" juga ada benarnya (maksudnya ya mendahului dlm keimanan, juga mendahului dlm kematian,,,).

    Btw, esensi yg sy sampaikan bukan soal itu. Namun ttg QS At-TAubah, 9 : 84. Apakah larangan tsb hanya berlaku saat turunnya ayat (sesuai asbabu nuzul, yaitu bagi mereka yang enggan berjihad pd perang tabuk - sbg pembelajaran mental umat muslim-), ataukah,,,, juga berlaku saat sekarang ???.

    Dibalik itu semua, berdiri (diterjemahkan sbg berdo'a) di tempat qubur PERNAH DILAKUKAN, kan ???

    ReplyDelete
  5. menurut saya @Kang bisa menyimpulkan sendiri dari ayat-ayat diatas

    ReplyDelete
  6. Mas Samaranji, mohon ma'af sebelumnya.
    "Sabaquuna bil iman", seperti yg dikemukan dalam Hasyiyah Showi 'alat tafsir jalalen, Juz 3, hal. 247, yaitu al :

    Alladziena sabaquuna bil ieman = Ae bil mauti alaihi.
    (Dan untuk saudara2 kami/seagama ; ...Tegasnya yang telah terdahulu meninggal dunia beserta dengan membawa iman...).

    Fayanbagie likulli waa hidin minal qooiliena lihadzal qouli an yaqshida biman sabaqohu man intaqola qoblahu min zamanihi 'ilaa ashrin nabiyyiena SAW, fayadkhulu jamie'u man taqoddamhu minal muslimien, laa khususil muhaajiriena wal anshori. (Wallohu 'alam).

    Maka perlu untuk setiap seseorang dari yang mengucapkan akan du'a ini bermaksud terhadap orang2 yg mendahului, tegasnya orang2 yg telah pindah tempat (dari alam dunia ke alam barzah) / meninggal, sebelum dari zamannya sampai ke masa Nabi SAW. Maka masuk semua orang yg mendahului dari org2 islam, tdk khusus saja muhajirin dan anshor.

    Tks juga dg sahabat2 lain.

    Salam,
    Iqbal.

    ReplyDelete
  7. @ Kang Qarrobin,
    terimakasih,,, namun akan lebih bermakna jika kita menyimpulkan bersama tanpa mengabaikan kesimpulan dari para 'Ulama.

    @ Ajengan Anom
    Alhamdulillah,,, terimakasih referensinya yg dari Tafsir Jalalain itu. Insya-Allah sy juga mengaji kitab tsb, namun dng 'ilmu 'alat yang cethek (he,,he,,,). Sekali lagi makasih tambahan yg sgt membimbing bagi sy.

    Wassalamu'alaikum.

    ReplyDelete
  8. Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh

    ikutan menyimak, postingan yg baik !!

    ReplyDelete
  9. Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh

    ana bagi2 barangkali butuh akhi !

    http://otongdarsa.blogspot.com/2011/04/hubungan-pemakaman-dan-adzah.html

    ReplyDelete
  10. @ Musafir Ilmu
    Wa'alaykum salaam warohmatullahi wabarokatuh,,,
    Terimakasih kebersamaannya Kang.

    Terimakasih juga link-nya yang ngebahas adzan saat menguburkan jenazah, sangat bermanfa'at, hanya saja sy tidak berani gegabah langsung menjudge bid'ah. Bid'ah memang sudah menjadi isu lama sejak Belanda melancarkan strategi "devide et impera". Disatu sisi menjadikan umat Islam melupakan "ilmu Islam" yang inti, di satu sisi membuka peluang ajaran sesat merasuki tubuh Islam sendiri.

    Ijinkan saya menanggapi "adzan saat menguburkan" tsb dengan ilmu cethek sy :
    Saya hanya menganggap itu sebuah strategi da'wah para 'Ulama terdahulu, sebagaimana para 'Ulama sekarang juga menerapkan strategi da'wah "ringtone adzan". Jika alasannya adzan HANYA BOLEH dilakukan saat hendak mendirikan sholat, bukankah aneh ketika kita mendengarkn adzan saat nerima sms ato misscall bernada dering adzan ?. Gimana kalo saat mengubur jenazah dinyanyikan aja lagu chaiya- chaiya nya Briptu Norman ? Keren kan.

    Maap loh kang, itu cuman pendapat pribadi. Selebihnya saya lebih memilih Ilmu Islam yang berhubungan dng sholat, zakat, puasa, haji dan apa2 yang terkandung dalam Al Qur'an Al Kariim aja. Masalah bid'ah sudah ada para 'Ulama yg membahasnya, sbg orang awam sy sekedar sami'na wa atho'na.

    ReplyDelete
  11. @ Musafir Ilmu
    Oh ya,,, barusan saya dah membaca postingan @kang Otong Darsa...

    Dalam postingan kang @ Otong Darsa sebenarnya sudah jelas, koq (saya coba rangkumkan ya) :
    1. menurut madzhab hanafi : "bahwasanya TIDAK DISUNNAHKAN adzan...."
    2. madzhab maliki. : "...n BARANGKALI ia adalah ANALOGI dari disukainya adzan n iqamat di telinga bayi yg baru lahir..."
    3. madzhab syafi'i : "ketahuilah, sesungguhnya TIDAK DISUNNAHKAN adzan pd saat...."
    4. madzhab hambali : "umat sepakat bahwa adzan n iqamat disyariatkan UNTUK SHALAT 5 WAKTU n keduanya tdk disyariatkan utk selain shalat 5 waktu,,,"

    Intinya : TIDAK DISUNNAHKAN, jika ada yang menganggap itu sunnah bahkan mewajibkan, nah itu baru pelanggaran syari'at.

    Semoga bermanfa'at.

    ReplyDelete
  12. kang foto frofilnya ganti lagi, yang ini gelap !

    ReplyDelete
  13. @ Kang O. Darsa (Musafir 'Ilmu)
    Iya, belum punya kamera digital sih. Modalnya cuman ponsel. Dulu profilnya malah sekedar tulisan aja.

    ReplyDelete
  14. Berziarah kubur adalah sesuatu yang disyari’atkan di dalam agama berdasarkan (dengan dalil) hadits-hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dan ijma’ (kesepakatan). Ziarah Kubur dapat dilakukan kapan saja, tidak ada waktu yang khusus dan tidak boleh (tidak layak) dikhususkan untuk itu, baik pada bulan sya’ban, syawal maupun waktu-waktu yang lainnya. Hal ini karena tidak adanya dalil yang menunjukkan tentang adanya waktu khusus atau afdhal (paling baik) untuk berziarah kubur. Ketika Syaikh Doktor Sholeh bin Fauzan Al-Fauzan ditanya tentang waktu/hari yang afdhal untuk berziarah, beliau berkata : “Tidak ada waktu khusus dan tidak ada waktu tertentu untuk berziarah kubur”. Sayangnya, kebanyakan di negeri ini khususnya di pulau jawa, banyak para kuburiyyun yang melakukan doa memohon kepada yang sudah mati, justru seharusnya kita mendoakannya agar Allah memberikan keampunan kepada si Mayit, bukan malah minta tolong.

    kalau memang tahu adab berziarah kubur silahkan saja, tapi kalau justru ikut-ikutan kiyaine misalnya yang penuh dengan bid'ah lagi kesyirikan yang ada ziarahnya tersebut jadi haram.

    wa allaahu a'lam

    ReplyDelete
  15. @ Kang Usup
    Assalamu'alaykum, kang.

    Kiayi penuh bid'ah ?... masak ada sih ?
    "Guru" saya sendiri sering menyampaikan, mempertanyakan, mengajak introspeksi pada rombongan jama'ah ziarah walisongo (yang biasanya dipimpin oleh ustadz/ kiayi) kurang lebihnya sbb :
    1. Sudahkan pemimpin jama'ah (ustadz/kiayi) tsb mengetahui dalil ziarah ?
    2. Ini niatnya bener ziarah ato rekreasi ?
    3. Jama'ah putra n putri pada campur baur ga ?
    4. Kalo sekedar ingin mengingat mati, mending ziarah di kamar mayat rumah sakit, tempat peleburan logam...etc, kan bisa.

    Dan selanjutnya, beliau "guru" saya menggiring pada ajakan "daripada ziarah ke 'Ulama yang sudah meninggal, mendingan ziarah ke 'Ulama yang masih hidup, kan". Dan sy rasa metode ini ternyata lebih efektif ketimbang saling mebid'ahkan tapi ga ngasih jalan keluar.

    ReplyDelete
  16. ya saya setruju

    ReplyDelete
  17. @ Anonim
    Makasih telah berkunjung, kawan danmenyempatkan diri baca2...
    Btw,,, kalo boleh tahu sapa nih ya? penasaran....

    ReplyDelete
  18. saya menziarahi kuburan bapak saya,,mendoakannya,
    di rumahpun saya mendoakannya,,jika di kuburan saya jadi lebih ingat kepada mati,,saya tak punya dalilnya,,tapi ustad saya punya,,

    ReplyDelete
  19. @ Phantom : Alhamdulillh Bapak-Ibu saya masih ada sehat wal 'afiyat. Namun inysa-Allah sy selalu mendokannya juga. Ziarah qibur ke kakek-nenek paling hanya setahu sekali saat menjelang Romadhon. Iyaa ada baiknya kita belajar pada "ulama yang lebih faham akan dalil segala sesuatunya. Makasih Mas.

    ReplyDelete
  20. Setahu saya sih hukum dasarnya boleh. Lupa saya dalilnya. Tapi, seingat saya, awalnya ziarah qubur itu dilarang, kemudian dibolehkan. Dan setahu saya, yang dibatasi (kurang tahu apakah dilarang atau dimakruhkan) adalah perempuan yang ziarah qubur. Karena perempuan cenderung meratap, dan itu akan memberatkan si jenazah. Wallohua'lam.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...