Tuesday, 14 June 2011

Go A Heart

A’udzubillahi minasy syaithoonirrojiim. Bismillahirrohmaanirrohiim. Alhamdulillahirobbil ‘alamiin, wash sholatu was salaamu ‘alal anbiya wal mursaliin, wa ‘ala alihi wa ash-habihi ajma’iin.

Untuk yang siap tersandung tanpa harus jatuh...
Untuk yang siap tersesat tanpa melupakan tujuan...
Untuk yang berani hidup bukan hanya untuk diri...
(edited by : samaranji)


Back to basic, sebagai umat Islam sudah selayaknya kita kembali pada Al Qur’an Al Kariim. Itulah yang hendak saya sampaikan pada postingan sebelumnya dalam menyikapi sebuah “nama”  Yesus. Silahkan jika anda ingin jadi Don Kesot yang hendak menyadarkan para “penjudi dan pemabok” dengan berpura-pura (taqiyya ???) ikut serta berjudi dan mabok diri. Bagi saya tindakan itu sangat bodoh dan menjerumuskan diri sendiri.

Maaf, jika 3 kemungkinan yang saya sodorkan menyinggung perasaan dan terasa pahit. Hanya itu yang bisa saya sampaikan, silahkan buat sendiri kemungkinan ke-4 dst namun jangan harap saya membuka kemungkinan lainnya.  Inilah yang bisa saya raba dari hasil blogwalking dan googling selama ini dan merasakan apa yang menjadi fakta di lapangan. Penyembah Yesus (Kristen) berbeda dengan "penyembah" Nabi Isa ‘alaihissalam (Nashrani). Yesus hanyalah karakter yang diciptakan Paulus, sedangkan Isa ‘alaihissalam adalah seorang Nabi dan Rasulullah dimana kaum yahudi dan nashara berselisih paham tentangnya (‘alaihissalam).

Selanjutnya silahkan pilih :
  1. Ikut serta “mabok” dengan menyamakan Yesus dengan Nabi Isa ‘alaihissalam, dengan maksud menyadarkan mereka namun dalam perjalanannya kita larut dalam konfliknya, kita larut dalam kontradiksi2, kita larut mempelajari kitab mereka yang sudah tidak asli lagi. Sementara kita lupa mempelajari kitab sendiri, kita melupakan ilmu Islam lainnya yang buanyaak sekali kita abaikan dimana dengan ‘ilmu yang secara tersirat dan tersurat dalam Al Qur’an Al Kariim Islam mampu menjadi rahmat semesta alam.
  2. Tetap berpegang bahwa Yesus bukanlah Nabi Isa ‘alaihissalam. Biarlah para penyembah Yesus (Kristen) disadarkan oleh para "penyembah" Isa Al Masih (Nashrani), selanjutnya kita umat Islam menyampaikan bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam bukan Tuhan, Nabi Isa ‘alaihissalam sudah diwafatkan bukan diangkat dan mengalami kenaikan ke langit ke-2, Nabi Isa ‘alaihissalam dibangkitkan besuk pada hari kiyamat bukan dibangkitkan menjelang kiamat, Nabi  Isa ‘alaihissalam ga bakal turun lagi ke dunia karena Nabi Muhammad SAW khatamal anbiya.
Dalam Al Qur'an Al Kariim, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, kurang lebih artinya :

Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama[] dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).  (QS. Asy Syuura, 42:13)

Silahkan tentukan pilihan, masa depan Islam ada dalam pilihan kita sekarang.


Apapun pilihannya, umat Islam yang kaffah dan selalu berusaha meneggakkan sholat insya-Allah pasti ga bakal tersesat. Bukankan minimal 17 kali kita selalu memanjatkan do'a  "...Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni'mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. Amin"

Semoga bermanfa'at. Wassalam.

9 comments :

  1. Selamat menegakkan ibadah sholat dhuhur...
    Wassalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

    ReplyDelete
  2. assalamu'alaikum wr.wb.

    keduaxxx....

    yups...memang berbeda antara Nashrani dan penganut Kristen/Katolik/dlsb.....

    jika bahkan dalam firman telah disebutkan golongan tersesat dan golongan yang dimurkai, maka mereka penganut ajaran Paulus adalah golongan orang2 yang sudah amat sangat jauh tersesatnya dari jalan yang lurus dan menjadikan mereka sebagai golongan musyrik (AQ.1:7)

    mereka bukanlah golongan yang dijanjikan Pahala oleh Allah karena Iman mereka (AQ.2:62)

    bukan pula golongan yang paling dekat persahabatannya dengan umat islam (AQ.5:82)

    Allahu'alam

    wassalamu'alaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  3. @ Mas Abu Razziq
    Wa'alaikum salam warohmatullohi wabarokatuh...

    Hatur tengkyuh,,, sy jadikan "ikhtitam" untuk postingan sy di atas. Sekali lagi makasih mai pren.

    ReplyDelete
  4. Salam...(soalnya di AQ hanya kata ini yang tersurat, sedangkan kalimat panjangnya hanya tersirat)

    wah, kaya'nya terlalu berlebihan kalo dijadikan konklusi...khan ga seru jadinya... :-))


    BTW...berhubung ada kendala satu dan lain hal, untuk sementara domain utama saya saya pindahkan ke situs yang lainnya...

    ReplyDelete
  5. @ Mas Abu Razziq
    Wa'alaikum salam warohmatullah,,,(apapun lafadz salamnya, terimakasih atas do'anya).

    Insya-Allah secepatnya akan sy buat lebih seru, walaupun sebenernya sy ga berniat getu sih. Cuman kalo kita menyikapi segala sesuatu tidak dari satu perspektif saja kan jadi lebih enak. Namun saat ini sy juga masih terbentur dng kegiatan, jadi mungkin keknya mo "mauquf" dulu beberapa minggu.

    Good luck, mas. Semoga sukses selalu.

    ReplyDelete
  6. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

    sebagaimana di thread sebelumnya amor akan mencoba menanggapi apa yang disampaikannya berdasarkan apa yang sedikit saya ketahui.

    langsung to the point :

    Samaranji menulis :

    Back to basic, sebagai umat Islam sudah selayaknya kita kembali pada Al Qur’an Al Kariim.

    Amor jawab:

    saya sepakat dengan seruan ini. tetapi sebagaimana yang sudah dicontohkan para Ulama yang keilmuannya sering dijadikan banyak rujukan, bagaimanapun luas dan dalam ilmu mereka, mereka menunjukan kerendahan hati, hingga sebutan penjelasan mereka tentang ayat ayat Al qur'an disebut TAFSIR.

    maka hendaknya kita yang masih banyak belajar ini harus tahu diri kapasitas pengetahuan kita, untuk menempatkan segala sesuatu secara proposional.

    tidak mudah menghakimi pemahaman pemahaman orang lain yang berbeda pendapat dengan apa yang kita pahami.

    bersambung

    ReplyDelete
  7. samaranji menulis ==>

    Itulah yang hendak saya sampaikan pada postingan sebelumnya dalam menyikapi sebuah “nama” Yesus. Silahkan jika anda ingin jadi Don Kesot yang hendak menyadarkan para “penjudi dan pemabok” dengan berpura-pura (taqiyya ???) ikut serta berjudi dan mabok diri. Bagi saya tindakan itu sangat bodoh dan menjerumuskan diri sendiri.

    Maaf, jika 3 kemungkinan yang saya sodorkan menyinggung perasaan dan terasa pahit. Hanya itu yang bisa saya sampaikan, silahkan buat sendiri kemungkinan ke-4 dst namun jangan harap saya membuka kemungkinan lainnya.

    respon amor ==>

    apa yang saya baca pada artikel sebelumnya justru 'menghakimi secara tidak proposional" terhadap pihak yang punya pandangan berbeda.

    bahkan menurut saya sebuah KEBODOHAN kalau megeneralisir mereka yang berpandangan Isa as = Yesus adalah mereka yang diilustrasikan seperti don kesot yang menyadarkan para pemabok dan penjudi dengan jurus pura pura.

    dan dari pembahasan sebelumnya 'penolakan' terhadap pemahaman Isa = Yesus anak maria , dasar argumentasinya sangat rapuh. bahkan terkesan memaksakan sesuatu tidak pada tempatnya.bahkan cenderung mengada ada ketika hanya memberi opsi 3 kemungkinan saja.

    karena kenyataannya tentang 3 kemungkinan yang disodorkan ketika dipertanyakan , tidak ada pembelaan berdasarkan argumentasi argumentasi yang berbobot.

    justru yang lebih memprihatinkan lagi, ketika sdr SAMARANJI menyatakan bahwa orang lain tidak perlu berharap kalau ia mau membuka kemungkinan lain ,selain 3 kemungkinan yang ia sodorkan.

    maka pernyataan tersebut adalah PERNYATAAN TERBUKANYA UNTUK MENUTUP PINTU HATINYA dari segala informasi yang berbeda dengan pemahamannya..

    justru pernyataan tersebut tidak sejalan dengan penutup tulisannya di atas yang mengingatkan tentang sebuah doa yang senantiasa di baca seorang muslim ketika Sholat,yaitu :

    اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ

    audio[1:6] Tunjukilah8 kami jalan yang lurus,

    صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ

    audio[1:7] (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni'mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.9

    ReplyDelete
  8. mungkin itu komentar pembuka atas artikel ini. tetapi sekali lagi ,apa yanga Amor lakukan hanya berusaha mengingatkan tentang kebenaran dan kesabaran kepada sesama saudara seiman.

    diterima atau tidak,apa yang amor sampaikan itu bukan sesuatu yang penting bagi amor.

    karena menyadari ,bahwa tugas utama seorang mukmin hanyalah Menyampaikan peringatan,sebagaimana firman Allah swt ini :

    فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنتَ مُذَكِّرٌ

    audio[88:21] Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.

    masalah ia terima peringatan tersebut atau tidak,apalagi ia sudah menutup pintu hatinya.

    sekali lagi yang punya "kuasa" membuka pintu hati hanyalah Allah swt.


    wassalam

    id amor

    ReplyDelete
  9. @ Om Id Amor
    Wa'alaykumsalam warohmatullohi wabarokatuh,,,

    Makasih om, masih berkenan mengingatkan.
    Adalah benar jika saya TAQLID, namun insya-Allah tidak BUTA....

    Dan mohon, jangan ngiri kalo sy menganggap Abah Haniifa sebagai master. Sejak nyasar di blog beliau, sy dah ngesave -mungkin- semua postingan2nya untuk dibaca2 di laptop temen (biar irit biaya onlinenya gituh). Dari postingan2 tahun 1998 dimana beliau ngebahas "keutamaan tahajjud" "bersembunyi dalam terang" hingga yang bertema sains islam, saya merasa banyak kemiripan dengan apa yang saya terima selama ini. Dari beliau yang semula di awal bikin blog bertutur kata halus hingga berkata keras (baca : bukan kasar) insya-Allah saya memahami latar belakang yang melandasinya. Dan sy menganggap blog beliau sebagai "pesantren virtual" ultra modern yang "membumi" dengan semangat anak muda islam indonesia yang berkomitmen menjaga kedamaian dan kesejahteraan bangsa Indonesia. Mungkin itu aja.

    Dan,,, saya tidak merasakan hal tersebut di web yang anda asuh. Maaf...

    Terimakasih....

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...