Monday, 26 March 2012

Da'i Bukanlah Profesi

Bismillahirrohmaanirrohiim. Alhamdulillah, Wash-sholatu wassalamu 'ala Rosulillah SAW.

from here
Terkadang,,, saya merasa jengah ketika ada ummat Islam yang mencantumkan kata "Da'i/ Da'iyah" (penda'wah) pada status pekerjaan/ profesinya, baik yang di KTP, SIM, atau IDcard lainnya. Mengapa~? Padahal setahu saya da'wah adalah kewajiban kita setiap ummat Islam, dan juga para kiai, ulama di desa memiliki mata pencaharian bukan dari berda'wah untuk menghidupi keluarga, beliau2 biasanya memiliki kebun, sawah, atau ada yang jadi PNS ataupun pengusaha. Begitupun 'Ulama terdahulu. Da'wah tidak harus mengumbar ayat2 suci Al Qur'an, bahkan da'wah paling efektif adalah dengan keteladanan.


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonsia, definisi profesi adalah, pro·fe·si /prof├ęsi/ n bidang pekerjaan yg dilandasi pendidikan keahlian (keterampilan, kejuruan, dsb) tertentu; ber·pro·fe·si v mempunyai profes. Sedangkan pekerjaan, definisi yang relevan dalam hal ini yg nomor 2, pe·ker·ja·an n 2 pencaharian; yg dijadikan pokok penghidupan; sesuatu yg dilakukan untuk mendapat nafkah.

Sedangkan menurut "Oxford Advanced American Dictionary" : 2 the profession [singular] all the people who work in a particular type of professionThe legal profession has always resisted change. 3 the professions [plural] (old-fashioned) the traditional jobs that need a high level of education and training, such as being a doctor or a lawyeremployment in industry and the professions. ***cieee... b'gaya pake bahasa Linggis :D

Jelas menurut kamus di atas profesi adalah pekerjaan, pekerjaan yang dijadikan pokok penghidupan. Lalu... lalu... mengapa... mengapa...? ^.^a *mulai puyeng*  So... so... at last... *halagh* bingung juga mo ngungkapin, entar dianggap su'udzon lagi, hufth... v^.^;

Kita pelajari yuk sejarah para Nabi 'alaihimussalam dalam berda'wah, dan satu2nya sumber sejarah yang paling amaziiiing, obyektif, kredibel, valid, rasional, aktual, faktual, fenomenal, dan tak terbantahkan sepanjang jaman adalah Al Qur'an \^.^;  cekidot...

Da'wah dan Perjuangan Para Nabi a.s

(Terkhusus dalam QS As Syua'roo)

Nabi Muusa a.s --- QS As Syu'aroo, 26 : 10-68
Melawan Imperalisme, kolonialisme, dan kediktatoran pemerintahan Fir'aun.

Nabi Ibrohiim a.s --- QS As Syua'roo, 26 : 69-104
Mengingatkan kembali monotheis (satu Tuhan), dimana para agamawan saat itu mulai menyimpang dengan politheis (banyak Tuhan) dan pantheis (semua adalah Tuhan/ masing2 makhluq adalah bagian dari pancaran Tuhan).


Nabi Nuuh a.s --- QS As Syua'roo, 26 : 105-122
Mengingatkan ummat akan pentingnya taqwa (menta'ati perintah AllahTa'ala, meninggalkan larangan-Nya), ummat manusia saat itu beriman kepada Allah Ta'ala, namun tidak bertaqwa.

Nabi Huud a.s --- QS As Syua'roo, 26 : 123-140
Mengingatkan ketaqwaan kepada Allah Ta'ala karena ummat saat itu mulai terbuai oleh kehidupan hedonis, maju dalam peradaban seni arsitektur dan seni peperangan namun melupakan perintah dan larangan Tuhan.


Nabi Sholiih a.s --- QS As Syua'roo, 26 : 141-159
Ummat yang mendapat anugerah kesuburan tanah maka tak heran jika menguasai teknik agrokultur dan agrobisnis, namun sekali lagi sayang, mereka tidak bertaqwa pada Dzat yang memberikan anugerah keni'matan luar biasa, Allah Azza wa Jalla. Dan Nabi Sholiih a.s diutus untuk mengingatkan kembali ke jalan-Nya. 

Nabi Luth a.s --- QS As Syua'roo, 26 : 160-175
Peradaban saat itu sungguh membuat manusianya jadi gila, kota megapolitan justru berpotensi mencetak manusia2 metroseksual, banyak manusia2 bersikap adonis (terobsesi dan mengagumi diri sebatas bentuk jasmani) yang pada gilirannya membuat orientasi seks mulai menyimpang dari kudratnya. Mereka percaya adanya Tuhan, tetapi mengacuhkan perintah dan larangan, maka tugas Nabi Luth a.s untuk mengingatkan.

Nabi Syu'aib a.s --- QS As Syua'roo, 26 : 176-191  
Medan da'wah Nabi Syu'aib a.s adalah manusia2 kapitalis, manusia2 serakah yang memperkaya diri sendiri dengan cara2 bathil. Perekonomian saat itu sangat maju namun hanya dinikmati oleh segelintir orang saja, siapa yang bermodal besar itulah yang berhak kaya, kesenjangan sosial menjadi hal yang biasa. Maka Nabi Syu'aib a.s mengajarkan cara2 berbisnis yang diridhoi Allah Azza wa Jalla.

Itulah yang dicontohkan para Nabi 'alaihimussalam yang terdokumentasi dalam Al Qur'an. Menarik, bukan? Itulah Al Qur'an, dari satu surat ini saja kita bisa tahu medan2 da'wah yang dihadapi para Nabi a.s, dari sini kita juga tahu bahwa begitu kompleksnya 'ilmu Islam yang menyentuh segala sendi kehidupan.

Tidak Meminta Upah Dalam Berda'wah


Rasululloh SAW tidak meminta upah, dalam Al Qur'an kurang lebih artinya :
QS Asy Syuro 42:23. Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba- hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Katakanlah: "Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan." Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri[]

Cek juga dalam
QS Al Mu'minuun 23: 71-72,
QS Saba 34: 47.
QS Shood 38: 86,87,88
QS Furqon 25: 57.


Nabi Syu'aib a.s
QS Asy Syu'aro 26:180. dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.

Nabi Luth a.s
QS Asy Syu'aro 26:164. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semeta alam.

Nabi Sholeh a.s
QS Asy Syu'aro 26:145. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu, upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.

Nabi Hud a.s
QS Asy Syu'aro 26:127. Dan sekali-kali aku tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.

Juga dalam QS Huud 11: 51.


Nabi Nuh a.s
QS Yunus 10:72. Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun dari padamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya)."

Juga dalam QS Al An'am 6:90 - QS Huud 11: 29 - QS Asy Syu'aro 26:109

So,,,saya lebih salut kepada rekan2 muslim dan muslimah, yang bahkan belum tentu mereka bisa baca Al Qur'an, belum tentu mereka mengerti hadits, tapi mereka begitu tulus menjalankan Islam sesuai kemampuan, yaaah sesuai kemampuan dan pengetahuan. Kita bukanlah manusia sempurna, maka berterimakasihlah pada dosa2 masa lalu yang mengingatkan kita akan adanya hari pembalasan.

Kita semua punya kewajiban berda'wah, kawan. Walaupun kita mungkin tidak hafal dalilnya, sampaikanlah bahwa kita sebagai ummat Islam memiliki kewajiban sholat, zakat, puasa, dan haji. Masing2 kita punya instuisi akan kebaikan dan kebenaran, masing2 kita punya misi untuk menjadi rahmat semesta Alam.

Bagaimana Jika Tanpa Meminta Tapi Diberi Upah Dalam Berda'wah...?


Mmmmph... bagaimana ya ^.^a... mmmmh bagaimana dunk jika demikian adanya? Tauk ah... kita udah pada gede ini... Hihihi...

Bye bye... mo kerja dulu, dapet shift siang sih....
Semoga bermanfa'at...

37 comments :

  1. Wow... baru tahu aku kalau ada yang mencantumkan da'i sebagai profesinya.... padahal kan berat banget tuh tanggung jawabnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya malah enggak tahu, cuman sok tahu... hanya saja saya menjumpainya dalam profil beberapa blogger, mencantumkan da'i/da'iyah dalam "pekerjaan"nya

      Delete
    2. puh tanda tangane bahasa Arab rek :)

      Delete
    3. Jika di jalani dengan ikhlas mudah kok mas huda :)

      Delete
  2. saya juga miris kalo melihat ustadz yang masih mengharapkan recehan dunia, ngamuk kalo ndak diundang pengajian, mencak2 kalo doa bukan dia.
    yah semoga jumlah dai yang mengharapkan gaji hanya dari Allah semakin banyak,sehingga ummat ini memiliki tauladan dan dibimbing ke jalan yang benar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiin. ;)
      Makasih kunjungannya.

      Delete
  3. Semuanya hanya mengharapkan ridhoNya ya sob.

    Sob bisa ntar ke blogku dakwah ya, biasa... ada ehemmm..nya Wkwkwk...

    (Kan dah pada gede :D)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ogaaaah, paiiiit gak ono duwite. Mending kerja jualan bensin :p

      Haha :D, lah emang udah pada gede kan...

      Delete
  4. sekarang malahan dakwah dijadikan sebagai salah satu profesi untuk mencari uang dan para dai oleh infotainment sudah dikategorikan termasuk dalam golongan selebritis..dan sepertinya semua menerima kondisi itu...karena MUI-pun terkesan diam-diam saja :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah da'i dimana sy menimba 'ilmu begitu tulus mengajar, jikapun ada yang memberi bisyaroh (upah) biasanya beliau tasarufkan kembali utk kemaslahatan ummat, untuk membanngun/ merenovasi masjid, untuk menyantuni anak yatim yg putsus sekolah dsb dsb...

      Saya kira semuanya butuh proses. Makasih....

      Delete
  5. Akur, kang! Jebule sampeya da'i yo? Kirain iyo? Bhahaha, jd gk sharusnya ada audisi da'i di tipi yg katanya menjaring bakat muda. Wong da'wah kan kewajiban stiap muslim, bakat apa gak itu tetap wajib. Dibayar apa gak itu...
    Hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukaaaaan, da'i dari hongkong!!!

      Embuh... no coment :D

      Delete
  6. pertama kali berkunjung, langsung suka sama tulisannya. demokratis, hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haaahh @_@; saya bukan kader partai, Mbak :D
      Makasih kunjungannya, maaf disini belum ada sesuatu yang bisa disedot, didonlod, dan belum bisa bagi2 hadiah. :(

      Delete
  7. Haha, mosok ada sih yang mencantumkan profesi penda'wah di KTP atau SIM Mas, tapi kalau dengan berda'wah bisa dapat upah yo alhamdulillah, tapi yo lek gak kei kesoroen hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga enggak tahu... ini cuman pancingan, kali aja yang nulis begitu trusss waktu baca ini jadi mencak2 enggak terima dan memperbaiki imej :D

      Eh... kesoroen tuh apa, Kang? boso planet endi kuwi? @.@

      Delete
  8. kalo ada yg ngasih ya diterima saja :D
    makasih sudah mengingatkan, mari belajar ikhlas :D
    salam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama sama mengingatkan, Kang (Lozz?) :D
      Yuk, mariii. ;)
      wa'alaikum salaam.

      Delete
  9. Sepakat, setiap muslim/muslimah adalah da'i, minimal untuk dirinya sendiri. Yg mencantumkan sbg profesi itu, mgkn blm paham definisi dr si profesi itu sendiri ya *sok bijak* he he

    ReplyDelete
    Replies
    1. #Tsaaah... Teh Orin mah emang udah bijak ;)
      Berda'wah lewat flash-fiction/ cerpen/ novel ya Teh, semoga cepet terlaksana... Amin.

      Delete
  10. Emang ada ya pendakwah di KTP huuuu, aku taunya kalo paranormal malah ono mas...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pertanyaan yg sama dng Mas Huda & Kang Sofyan... harus kujawab lagi? Kalo enggak percaya, tinggal gugling dng keyword -profesi da'i- entar juga tahu ndiri, udah pada gede ini :D

      Delete
    2. Harus. Ahahaha...
      Wis tangi nih yeiyy :-"
      Apa kabar mas BBM? ;))

      Delete
    3. Alhamdulillah baik, Mbakyuuu... :p

      Delete
  11. Replies
    1. Allahu Akbar!
      Hiks T_T saya merasakan getaran keprihatinan dan semangat itu, Mbak May... keep fighting.

      Delete
  12. diblog aja bisa berdakwah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dimanapun, kapanpun minimal utk diri sendiri (kata Teh Orin di atas) ;)

      Delete
  13. memangnya ada ya yang mencantumkan dai sbg profesi ??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pertanyaan yang sama dari @Mas Huda @Kang Sofyan dan @Mbakyu Una ;)... Makasih.

      Delete
  14. hahag ada2 aja ya yang mencntumkan dai sbg profesi :D

    ReplyDelete
  15. Replies
    1. Widget sebelah kanan, yang bawah, Mbakyuu... Makasih eeaaa...

      Delete
  16. jadi dai itu berat , tapi untuk jaman sekrang menurut habib zeinzs mufti syafii yang pernah saya simpulkan dari isi pidato bahasa arabnya bahwa waktu di sumedanf : bahwa wajib bagi yang berilu untuk menyebarkan ilmunya karna sekarang sudah ada orang yg menyelewengkan

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...