Monday, 8 August 2011

Perbedaan Adalah Rahmat, Hanya Orang Culas Yang Berharap Perbedaan Menjadi Laknat

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah menganugerahkan ni’mat Islam sehingga kita diajarkan menyikapi dan mengarahkan segala perbedaan maupun perselisihan menjadi rahmat semesta alam. Shalawat serta salam senantiasa kita haturkan pada Kanjeng Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alahi Wa Sallama.
 
Mengapa perbedaan ini terjadi ? Cobalah sedikit perhatikan segala perbedaan yang terjadi di sekitar kita, entah yang berlatar belakang politik, sosial, budaya, pendidikan, ras, suku, agama atau sekedar perbedaan kecil antara suami istri untuk memilih menu sahur hari ini, perbedaan antar teman pada pilihan aliran musik underground atau poprock. Bagaimana kita sebagai ummat Islam menyikapi bahkan jika masih ada perbedaan diantara kita dalam memahami Ddiinul Islam ? Percayalah, akan selalu ada sebuah usaha2 provokasi untuk menjadikan perbedaan menjadi laknat, namun bagi kita ummat Islam tentu diperintahkan mengarahkan perbedaan sebagai rahmat.

Mengapa Ada Perbedaan ?

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, kurang lebih artinya :

QS Yunus, 10:19. Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih[]. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu[], pastilah telah diberi keputusan di antara mereka[], tentang apa yang mereka perselisihkan itu.

Tentu kita pernah mendengar perbedaan antara yang tarawih 8 roka’at dengan yang 20 roka’at, tentu juga kita pernah tahu perbedaan yang memanjatkan do’a qunut shubuh dengan yang tidak, atau mungkin kita jumpai orang yang menganggap bid’ah pada mereka yang berdzikir dengan tahlil-an ataupun istighosah-an sementara ada yang menciptakan “tahlil” dan “istighosah” yang lebih inovatif dengan label “indonesia berdzikir” “indonesia bertasbih”.

Bahkan, mungkin ada yang berpendapat bahwa perbedaan dalam Islam terjadi karena adanya hadits, (dan saya rasa hal ini benar jika kita ummat Islam terlalu mengagungkan hadits dan meninggalkan Al Qur'an. Thank's kang Qarrobin atas peringatannya), lihatlah ke-empat madzhab yang berbeda2 yang mana hal ini ada indikasi kesamaan dengan umat Kristen dengan ke-empat Injilnya (Injil yang sekarang setaraf dengan hadits karena hanya riwayat atau perkataan dari generasi yang jauh dari yesus), pengagungan terhadap “hadits” membuat kita seperti Yahudi yang mengagungkan Talmud ketimbang Taurat, membuat ummat Islam terpecah belah menjadi Sunny (agama yang diformalkan/ dilembagakan) vs Syi’ah (agama ortodoks),  “hadits” membuat kita jadi gini gini....STOP ! Okey, mari kembali kepada Al Qur’an.

Firman Allah Ta’ala, kurang lebih artinya :

QS Al Baqoroh, 2:213. Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.

Lalu bagaimana metode terbaik untuk kembali pada Al Qur’an ? Membaca teks aslinya, terjemahannya, atau tafsirannya ? Metode tafsir bagaimana yang terbaik, tafsir  ayat bil ayat atau tafsir ayat bil hadits atau tafsir ayat bir ra'yi ? Siapa Mufassir terbaik, apakah Ibnu Katsir, apakah Jalalain (Jalaluddin As Suyuti dan Jalaluddin Al Mahaliy), apakah Tafsir Al Azhar nya Buya Hamka, ataukah Tafsir Al Misbah nya Prof Qurois Shihab atau mungkin Prof Fahmi Basya atau malah Hans Von Aiberg ?. Aaargh.... ternyata “kembali pada Al Qur’an” tak semudah yang kita bayangkan. Itulah mengapa saya lebih memilih tadarus Al Qur’an untuk konsep tersebut.

Itulah mengapa insya-Allah saya semakin memahami dan menyadari sikap kepasrahan total umat Islam dalam menyikapi berbagai perbedaan, bersyukur saya diajarkan setiap selesai sholat untuk membaca istighfar 3 kali

“astaghfirullaahal ‘adhiim lii waliwalidayya wa liashabil huquuqil waajibati 'alayya wa lijami’il muslimiina wa musliimaat wal mu’miniina wal mu’minaat al ahya’i minhum wal amwaat”.

Subhanallah... tak kusangka para ‘Ulama terdahulu mengajarkan sikap kepasrahan ini, walaupun ibadah sholat yang dikerjakan namun tetap mengharapkan ampunan, ini seperti sebuah pelatihan untuk meredam sikap arogan, pelatihan sikap kepasrahan bahwa apa yang mungkin kita anggap baik dan benar belum tentu demikian dihadapan Allah Ta’ala. Setelah berusaha semaksimal mungkin menyampaikan kebenaran dan ditanggapi dengan penolakkan atau bahkan cacian dan hinaan, saatnya berkata “lanaa a’maluna, wa lakum a’malukum” (QS Al Baqoroh, 2:139)  atau bahkan “lakum diinukum waliyadiin” (QS Al Kafirun, 109:6).

Siapa Biang Keladi Perselisihan ?

Yang pernah saya alami sendiri adalah perbedaan mengenai siapa Nabi Adam a.s ? ; mengenai ziarah qubur  ; menyikapi teori konspirasi ; mengenai sholat 3 waktu atau 5 waktu dalam sehari ? ; mengenai Yesus yang bukan Nabi Isa a.s. Dan saya percaya perbedaan ini akan terus menerus dihembuskan oleh musuh Islam agar kita jumud (stagnan) dan melupakan Islam yang pioner dan visioner. Jadikan perbedaan untuk saling mengisi dan mengingatkan (konstruktif), jangan jadikan perbedaan sebagai perselisihan menuju kehancuran (destruktif).

Seringkali saya merasakan ada sesuatu yang tak beres dengan segala perselisihan dan perbedaan, seringkali saya merasakan ada sesuatu yang memprovokasi, seringkali saya merasakan ada suatu “eksistensi” yang mencoba memperkeruh suasana, dan sesuatu itu apa ? Allah Subhanahu Tabaroka Wa Ta’ala berfirman, kurang lebih artinya :

QS Al Isra’, 17:53. Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.

Bisakah Kita Menyatukan Perbedaan ?

Bagi saya, hanya orang culas yang selalu memprovokasi perbedaan agar menjadi perselisihan, pertikaian bahkan peperangan. Sementara ummat Islam akan tetap berusaha mengarahkan perbedaan menuju kebenaran rahmat semesta alam dengan cara yang baik dan benar (QS 17:53), walaupun terkadang cara ini selalu dikompori kaum kafir dengan menabuh genderang perang, perang fisik maupun perang pemikiran. Dua finishing yang sama (yaitu perang) namun tentu memiliki motifasi dan tujuan yang berbeda, bukan ?

Bagaimana jika masing2 kita masih ngotot bahwa yang kita sampaikan adalah benar, lebih benar dan harus diterima sebagai kebenaran untuk menuju “ummatan wahidatan” ?. Banyaknya para shohabat Nabi SAW dengan latar belakang yang berbeda2 tentu juga akan berpengaruh pada cara memahami Al-Qur'an dari penjelasan Nabi Muhammad SAW sendiri, apa yang dipahami shohabat Abu Bakar as-sidiq r.a belum tentu sama dengan yang dipahami dengan shohabat Umar bin Khattob r.a, belum tentu sama dengan shohabat Utsman r.a, shohabat 'Ali karomallahu wajha, shohabat Zaed bin Tsabit, shohabat Salman Al Farisi r.a dan sebagainya. Mungkin, kita tidak bisa menyatukan perbedaan, namun kita masih bisa meredam perbedaan  agar tidak jadi perselisihan, kan ?. Firman Allah Ta’ala insya-Allah kurang lebih artinya :

QS Asy Syuro, 42 : 8-10
(8). Dan kalau Allah menghendaki niscaya Allah menjadikan mereka satu umat (saja), tetapi Dia memasukkan orang-orang yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Dan orang-orang yang zalim tidak ada bagi mereka seorang pelindungpun dan tidak pula seorang penolong.
(9). Atau patutkah mereka mengambil pelindung-pelindung selain Allah? Maka Allah, Dialah pelindung (yang sebenarnya) dan Dia menghidupkan orang- orang yang mati, dan Dia adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
(10). Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nya lah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali.


Putusannya kepada Allah Ta’ala, hanya kepada-Nya lah kita bertawakkal (setelah mengerahkan segala daya dan upaya) dan hanya kepada-Nya lah kita akan kembali. Maha benar Allah dengan segala firman-firman-Nya.

Tanpa perbedaan kita akan terlena, dengan perbedaan kita termotifasi untuk jadi rahmat semesta. Semoga kita tergolong orang2 yang dikehendaki Allah Ta’ala untuk masuk dalam ramat-Nya, bukan termasuk orang2 dholim yang mendapat laknat-Nya. Amin.
Semoga bermanfa'at.

10 comments :

  1. Assalamu 'alaikum wr wb,

    Mas Samaranji, ini dilema ummat islam. Kita senantiasa agar 'tawakkal' dan tdk terpancing melakukan hal destruktif. Perlu kedewasaan.

    Kenyataannya, perbedaan adalah sunatullah, tdk mungkin dapat dihilangkan. Kita sikapi, berbeda pendapat bukan sebagai perpecahan. Sepakat untuk tdk sepakat. Lawan berfikir, kawan berjuang.

    "Wa'-tashimuu bi hablillaahi jamiean wa laa tafarroquu".

    Wassalam,

    ReplyDelete
  2. @ Ajengan Anom
    Wa'alaikum salam warohmatullohi wabarokatuh,,,

    Hatur nuhun,,, sungguh konsep yang simple dan bermakana "Lawan berfikir, kawan berjuang"

    Sebenarnya, sy hanya berusaha memaknai "perbedaan adalah rahmat" agar tidak terjebak pada sikap mentolerir semua yang "asal beda" dan "beda dari asal". Terimakasih mengingatkan kita pada QS Al Imron : 103

    Kalo ditelusuri lafadznya, mengapa pada ayat tsb (QS 3:103) koq pake "tafarroquu" >>> asal kata Faruq (beda) koq ga pake asal kata "ikhtilaf" atao "khilafiah", ya ? Makasih jika berkenan menjelaskan, ajengan.

    ReplyDelete
  3. Ralat, harusnya pertanyaanya gini :

    Pada ayat tsb (QS 3:103) lafadnya "la tafarroquu" >>> kalo ga salah itu bentuk fi'il nahi, yang akar katanya "FARQUN"
    >>> sudah tepatkah jika dimaknai "jangan bercerai berai" ?
    Makasih.....

    ReplyDelete
  4. Ass Wr Wb.,

    Ma'af Mas Samaranji ; Cukup tepat dimaknai seperti itu (Dan janganlah kalian bercerai berai).

    Boleh berbeda (ihtilaf), tapi jangan bercerai berai / bertengkar (firqoh). (Seperti bercerai berainya ummat lain menjadi 73 golongan yg celaka semua)

    Tentang hal ini, mempunyai pembahasan masing2 yg berbeda. Terutama dalam hal ushuluddin, atau Fiqih serta yg lainnya.

    Ini berkaitan dengan banyaknya 'firqoh2' yg sudah menghiasi perjalanan dunia islam kita...

    Wallohu 'alam.. Mohon ma'af sangat pendek

    Wassalam,

    ReplyDelete
  5. @Ajengan Anom
    Wa'alaikum salam....
    Terimakasih..., pendek namun sangat memaknai.
    Baru inget bhw kata "firqoh" mungkin juga berawal dari sini.

    ReplyDelete
  6. Tks Mas Samaranji, betul. Berikut kalau boleh menambahkan ;

    Tafarroquu berasal dari lafaz faroqo-yafruqu-farqon/firooqon, artinya ‘pisah’. Dimasukkan kepada wazan tashrif bab ke 2 warna ke 1 tsulatsi majied fih.

    Tafarroquu adalah fi’il mudhore yang maklum (disebut fa’ilnya) serta dijazamkan oleh “laa” nahyi sebelumnya, alamat jazamnya membuang nun, sebab fi’il lima. Wawu yang ada dalam tafarroquu menjadi fa’il-nya.

    Maka firman Alloh SWT 'Wa Laa Tafarroquu' kalau di-'irab sbb. :

    (Wa) = Haraf athop/muthlaqul jami, (Laa) = Nahiyatun/perangkat nahyi (larangan), (Tafarroquu) = Fi’lun mudhore-un ma’lumun majzumun bi laa nahiyati, wa alamatu jazmihi hadzfu nuuni liannahu minal ‘af-’alil khomsati. Al-wawu dhomirun barizun fa-‘iluhu.

    Penjelasan atas makna firman Alloh tsb al :

    (Wa laa tafarroquu) = Ae fadawwimuu ‘alaa al-ijtimaa-‘i wa laa yakunu minkum tafarroqotun.

    "Tegasnya yaitu kalian semua harus melanggengkan ijtima (rembugan2/kesepakatan2) dan jangan sampai mengakibatkan terjadi diantara kalian semua bercerai-berai/pecah-belah/permusuhan".
    (Ref. : Hasyiyah Tafsir Ash-showi, Juz 1, hal. 228).
    Dst.

    Mohon maaf atas berbagai kekurangannya, insya Alloh ini saya postingkan kembali di :
    http://iqbal1.wordpress.com/2011/08/05/jejak-mukti-ali-penabur-bibit-toleransi/#comment-948

    Wallohu 'alam.

    Salam,

    ReplyDelete
  7. @ Ajengan
    Hatur nuhun,,,,
    Thx banget, dijelasin sampe di-i'rab kan segala,,,, jadi penasaran membuka amtsilatu tashrif nih.

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah, sami2 Mas Samaranji.
    Mudah2an kita senantiasa terdorong terus untuk berjuang belajar, dan belajar dalam berjuang... :)
    Salam,

    ReplyDelete
  9. Kalau untuk menafsirkan dan mengambil manfaat dari Al Qur'an saya kira dibutuhkan kesemua alatnya, baik itu Tafsir Qur'an bi ma'tsur atau bi ro'yi.. berbagai metode yang digunakan para ulamapun harus digunakan, seperti tafsir muqarin, ihnab dan maudhui. Justru saya pikir dengan banyaknya metode bisa menjadi pelengkap untuk meningkatkan wawasan pengetahuan kita tentang Al Qur'an yang tidak akan pernah habis untuk dikupas

    Kalau mencari biang keladi saya rasa tidak usah jauh2, saya lebih melihat ke ego pribadi yang lebih menekankan ananiyah dan ashobiyahnya masing2

    Perbedaan akan selalu ada, karena disanalah letak ujiannya. Nice post ^_^)b

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah, ini ilmu,,teramat sangat ilmu,terimakasih artikelnya

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...